Oleh: Iverdixon Tinungki
Erika Rieey dan Nehemia Takaseda, dua aktor yang berhasil menghadirkan “Dokbar” sebagai pertunjukan yang memikat sekaligus menghibur. Dan Vick Chenorre patut disebut sebagai sosok yang mampu menerjemahkan apa yang dimaksudkan sebagai esensi penyutradaraan.
Saya harus memulai catatan ini dari gemuruh dan riuh tepuk tangan diakhir pertunjukan yang memakan waktu hampir dua jam itu. Sebuah pertunjukan yang jauh dari kata membosankan, bahkan sejujurnya meninggalkan kesan mendalam bagi ratusan penonton yang memadati ruang pertunjukan Rumah Seni Sanggar Kreatif Manado pada malam 12 Juli 2025 di Kawasan Tuminting.

Judul asli lakon ini “Les Chaises” sebuah drama absurd karya dramawan Perancis kelahiran Rumania, Eugene Ionesco. Pada kisaran 1960an WS Rendra menerjemahkannya menjadi “ Kereta Kencana”. Pada 2025, Vick Chenorre mengadaptasinya dalam bahasa Manado menjadi “Dokbar” dengan latar kultural dan dialek Sangihe Talaud.
Drama ini mengisahkan kehidupan sepasang suami istri di hari tua yang sedang menanti dan dihantui kematian. Di ujung kehidupan dengan kondisi tubuh mulai rontok itulah mereka kemudian mengenang masa lalu, menghibur diri, dan berhalusinasi tentang anak yang tak pernah mereka miliki, serta percikan nakal hasrat libidinal yang tersisa, yang kesemuanya mengalir dalam humor gelap dan absurd, namun memikat.
Sebagaimana drama absurd pada umumnya yang anti plot, lakon “Dokbar” menghadirkan keterasingan, kecemasan, dan ketidakbermaknaan hidup yang dialami oleh manusia dalam serentetan kejadian yang tidak masuk akal, dipenuhi keanehan dan ketakutan. Suatu keadaan yang tidak logis dan tidak rasional. Namun disanalah sejatinya penonton disuguhkan pengalaman unik yang memantik perenungan mendalam.
Drama ini juga menghadirkan kritik terhadap persoalan-persoalan masyarakat di Manado bahkan Sulawesi Utara yang paling aktual. Dari persoalan penggusuran, bencana reklamasi dan tambang, hingga kehidupan organisasi keagamaan yang gamang dalam etik. Kekuasaan yang semena-mena dan kehidupan rakyat miskin yang jadi dolanan.
Erika Rieey dan Nehemia Takaseda ternyata berhasil menghidupkan karakter yang diinginkan teks. Akting mereka membius dan membuat penonton percaya dan merasakan emosi yang ingin mereka sampaikan dengan jelas dan meyakinkan.
Akting dan ekspresi dua aktor Manado Teaterholic ini tampil begitu natural. Mereka menampilkan teknik seakan bermain dalam permainan dengan melibatkan kemampuan improvisasi yang begitu terampil dan hidup.
Di lain sisi, adaptasi teks ke bahasa Manado dengan latar kultural dan dialek Sangihe Talaud, membuat “Dokbar” memasuki atmosfer yang lebih membumi dengan penonton. Celoteh dan idiom-idom local mereka menjadikan pertunjukan terasa akrab dan terasa kita.
Bahkan dengan itu, lompatan ide demi ide dalam rentetan kejadian menjadi mudah dipahami. Di situlah salah satu kekuatan Vick Chenorre dalam kejelian adaptasinya. Dengan jenius dan nakal, ia menghadirkan “Dokbar” seakan sesuatu kehidupan yang alamiah.
Secara keseluruhan Vick mampu menerjemahkan ide atau konsepnya menjadi karya seni yang utuh dan bermakna, melalui proses pengarahan dan pengorganisasian seluruh elemen produksi. Dan bagi saya, “Dokbar” patut dicatat sebagai salah satu pertunjukan paling fenomenal di Manado kurun tahun 2025. (*)


Discussion about this post