Sangihe, Barta1.com – Upaya penanggulangan stunting di Kabupaten Kepulauan Sangihe menunjukkan hasil menggembirakan. Berdasarkan data electronic-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), angka prevalensi stunting di kabupaten kepulauan ini terus menurun secara konsisten selama enam tahun terakhir, dari 13,31 persen pada 2020 menjadi 1,89 persen per April 2025.
Penurunan signifikan ini terjadi setiap tahun: 8,13 persen (2021), 4,26 persen (2022), 2,08 persen (2023), 2,02 persen (2024), dan 2,01 persen pada awal 2025. Pada Februari 2025, tercatat 105 anak mengalami stunting. Namun, dua bulan kemudian, angka ini kembali turun menjadi 96 kasus pada anak.
Dinas Kesehatan Daerah (Dinkes) Kepulauan Sangihe mencatat, faktor dominan penyebab stunting adalah kebiasaan merokok dalam keluarga. Data menunjukkan 94,4 persen anak stunting berasal dari keluarga perokok, sedangkan hanya 7,6 persen dari keluarga non-perokok.
Selain rokok, beberapa faktor lain turut memicu stunting, seperti kurangnya keberagaman makanan pendamping ASI (MP-ASI), tidak optimalnya pemberian ASI eksklusif, penyakit infeksi, serta buruknya sanitasi dan kebersihan lingkungan.
Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, dalam sambutannya saat melantik Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S) di Rumah Jabatan Bupati, Rabu, (9/7/2025), menekankan pentingnya penggunaan data yang akurat dan valid.
“Data yang kita pakai harus dari instansi resmi pemerintah. Jika datanya keliru, maka intervensi yang kita rancang pun bisa keliru,” ujar Michael.
Ia menambahkan, capaian penurunan stunting tak boleh membuat lengah. “Penanganan stunting bukan semata soal menekan angka statistik. Ini tentang menjaga konsistensi agar capaian yang sudah diraih tidak kembali merosot. Ada daerah yang sempat mencapai nol kasus, tapi kembali naik karena gagal mempertahankan,” katanya.
Michael juga menekankan bahwa isu stunting bukan sekadar urusan kesehatan, melainkan menyangkut masa depan daerah. “Kita bicara soal kualitas generasi. Ini harus menjadi perhatian serius semua pihak, tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Dengan tren penurunan yang positif, pemerintah daerah tetap menyiapkan langkah strategis lanjutan, termasuk edukasi publik, penguatan layanan kesehatan dasar, dan peningkatan kolaborasi lintas sektor.
Peliput : Rendy Saselah


Discussion about this post