Manado, Barta1.com — Pelantikan Gubernur-Wakil Gubernur sudah di depan mata. Namun sebelum momen itu, ada harapan untuk pemimpin teranyar Sulawesi Utara agar bisa menuntaskan problematika yang melilit Museum Negeri Provinsi Sulut.
Heboh Museum Sulut dijual memantik keresahan kalangan pegiat seni dan budaya. Salah satunya Eric Dajoh. Aktor yang sudah 50 tahun malang melintang di pentas teater itu mendesak Gubernur Sulawesi Utara yang akan dilantik 20 Februari 2025 bisa menyelesaikan persoalan museum.
“Saya berharap bahkan mendesak Gubernur Yulius Selvanus yang akan dilantik mau menyelesaikan keterpurukan museum dan membersihkan pemerintahan dari oknum-oknum yang tidak peduli pada sejarah peradaban Sulawesi Utara,” kata Eric, Selasa (18/02/2025).
Kondisi museum daerah Sulut saat ini menurut dia, lagi kritis. Kabar beredar kerusakan pada fisik gedung yang tidak diperbaiki dengan maksimal. Ada lagi persoalan pemeliharaan koleksi benda-benda bersejarah yang terancam rusak. Lebih parah lagi, dugaan pengelolaan anggaran DAK non fisik dari kementerian berjumlah miliaran rupiah yang tidak jelas peruntukkannya.
Terkait itu, Eric juga mendesak gubernur baru pasca-dilantik bisa mengevaluasi instansi teknis yang menangani museum daerah. Jangan sampai kata dia, persoalan anggaran bisa merusak tatanan kebudayaan yang terkait langsung dengan jejak peradaban Sulawesi Utara.
“Koleksi benda bersejarah di museum itu bukti identitas dan rekam peradaban Sulawesi Utara yang harusnya bisa diurus dengan baik, sehingga kalau ada masalah maka pihak yang mengelola museum perlu dievaluasi,” cetus mantan jurnalis ini.
Di satu sisi, Eric menyesalkan pernyataan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sulut, Jani Lukas, pada salah satu media yang mengaitkan kisruh museum dengan eksistensi seniman. Hal itu sempat disentil Jani merujuk oknum ASN di UPTD museum dan Taman Budaya.
“Seniman mungkin kebanyakan punya idealisme yang sulit ditebak,” kata Jani.
Sepatutnya menurut Eric, persoalan museum tidak dikaitkan dengan dunia seni, pelaku seni dan budaya. Itu menurutnya adalah persoalan yang berbeda. Tak bisa didudukkan dalam arah pandang yang sama.
“Kepala Dinas Kebudayaan harus mengklarifikasi dan mencabut pernyataan ini,” tegas dia.
Sebelum museum, Eric juga sempat menyorot kondisi eks gedung Taman Budaya, aset milik pemerintah daerah, yang kini menjadi aula Dinas Kebudayaan Sulut. Letak gedung ini masih satu lahan dengan museum daerah di Jalan WR Supratman, Wenang Manado.
Dalam surat terbukanya, Eric menyatakan keprihatinan usai menyaksikan pementasan teater “Gubernur Santa” pekan lalu di fasilitas tersebut.
“Yang memprihatinkan saya penerangan gedung, mulai dari teras, depan gedung, pintu masuk hingga ke dalam gedung sangat minim bahkan tak ada. Tidak ada pasokan cahaya auditorium yang memadai,” tulis dia.
Menyangkut masalah museum daerah, Kepala Dinas Kebudayaan Sulawesi Utara Jani Lukas, Senin (17/02/2025), mengonfirmasi Barta1 pengelolaan DAK non fisik dari Kemendikbud-Ristek sifatnya pendampingan. Dana tersebut terkucur selang 2021 hingga 2023 denhan total Rp 4,6 miliar.
“Perlu ada penganggaran dana sejenis dari pemerintah daerah, tapi masalah muncul ketika pandemi keuangan daerah lebih dikonsentrasikan untuk penanganan Covid-19,” kata Jani.
“Kendati anggarannya (dari kementerian) sudah dihentikan, tapi pada 2023 kami berhasil menaikkan status Museum Negeri Provinsi Sulut dari Tipe C ke Tipe B,” tambah dia. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post