Manado, Barta1.com — Pelaksanaan Pilkada serentak November 2024 sejatinya adalah pesta demokrasi bagi masyarakat. Namun ada banyak persoalan yang bisa menodai agenda politik ini, salah satunya euforia berlebihan saat mendukung calon.
“Euforia kampanye dan pembagian bantuan sosial tidak boleh menodai esensi demokrasi yang seharusnya penuh kegembiraan,” cetus Kepala Bidang Penanganan Konflik dan Kewaspadaan Nasional Kesbangpol Provinsi Sulawesi Utara, Noldy Z Salindeho.
Dia menyatakan hal itu dalam Kegiatan Penyuluhan Hukum Pilkada 2024 yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Manado di Grand Whiz Megamas, Selasa (13/8/2024).
“Ketegangan dan kecurigaan di antara peserta dan pendukung harus dihindari. Ekspresi reaksi masyarakat, terutama di media sosial, perlu dikelola dengan baik,” tambah Salindeho.
Salindeho mengidentifikasi tiga tantangan utama dalam Pilkada, yaitu: Pra Pilkada, Saat Pencoblosan, dan Pasca Perhitungan Suara. Menurut dia Pemilu bukan hanya tentang memilih kandidat, tetapi juga tentang bagaimana merayakan pesta demokrasi dengan sikap yang matang dan dewasa.
“Pemilihan Umum bukan hanya soal memilih, tetapi bagaimana menyikapinya dengan kedewasaan. Pesta demokrasi ini adalah milik orang-orang dewasa, jadi jangan sampai baper (terbawa perasaan) dan jangan membuat orang lain tersinggung. Kita harus memasuki pesta demokrasi ini dengan kedewasaan,” ujar Salindeho.
Setidaknya lanjut dia ada empat indikator kesuksesan Pilkada 2024; berjalan aman dan lancar tanpa gangguan, termasuk dalam distribusi logistik, partisipasi pemilih mencapai 77,5 persen, tidak terjadi konflik, mengingat fanatisme berlebihan bisa menjadi pemicu dan pemerintahan tetap berjalan efektif selama proses Pilkada berlangsung.
Untuk mengatasi kerawanan, Salindeho menekankan pentingnya sinergi antara aparat dan penyelenggara pemilu, serta menjaga netralitas penyelenggara. Polarisasi tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi permusuhan, terutama saat ada perbedaan gagasan.
Upaya suksesnya Pilkada 2024, menurut Salindeho, juga bergantung pada pendidikan pemilu, partisipasi masyarakat, media yang independen dan bertanggung jawab, peran kepolisian, debat publik, dialog antar kandidat, serta penegakan hukum dan etika politik.
Karena itu ia berharap berbagai unsur masyarakat, termasuk organisasi agama, mahasiswa, dan media yang hadir dalam kegiatan ini dapat berkontribusi dalam mewujudkan Pilkada yang damai dan sukses. (**)
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post