Jumat, 3 Mei 2024, tepat pukul 22.30 WITA, kapal yang kami tumpangi akhirnya merapat di Pelabuhan Buhias di pulau Tagulandang. Dalam waktu singkat, penumpang turun dan yang lainnya naik, kapal segera berlayar menjauh. Namun, apa yang menyambut kedatangan kami adalah pemandangan yang tak terlupakan: Gunung Ruang masih memuntahkan asap hitam pekatnya tidak jauh dari dermaga. Semakin dekat, semakin terasa dampak dari erupsi tersebut. Timbunan material vulkanik yang tebal melapisi lantai dermaga.
Di pusat kecamatan Tagulandang, ancaman erupsi masih nyata. Atap rumah penuh lubang, teras-teras rumah roboh, dan satu bangunan rumah dinas terbakar. Lalu-lalang kendaraan roda dua melintas dengan gegas, sementara TNI, Polisi, dan pasukan Badan Penanggulangan Bencana berada dalam kewaspadaan tinggi, mengamati setiap aktivitas Gunung Ruang yang belum lama ini menyapu sebagian Tagulandang pada tanggal 17 dan 30 April lalu.
Saya dan Bonny Baganu, salah satu teman jurnalis juga warga Tagulandang, ikut bergabung dengan beberapa jurnalis yang sudah beberapa hari di sana, termasuk wartawan senior Ronny Buol, yang memang punya pengalaman cukup dalam, soal peliputan bencana. Seperti halnya gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu 2018, ia turut meliput di sana.

Ishak Sandala, salah satu guru di Tagulandang mengambil keputusan membawa keluarganya meninggalkan pulau. Ia mengungkapkan bahwa ketakutan di masyarakat semakin meluas karena isu-isu yang tidak jelas beredar di media sosial, seperti kabar tentang tsunami dan pulau akan tenggelam di rentang waktu tanggal 2 hingga 5 Mei 2024. “Isu tentang tsunami dan pulau akan patah tenggelam begitu kuat, dan itu menimbulkan ketakutan di masyarakat,” katanya, sambil menekankan pentingnya memverifikasi kebenaran berita tersebut.
Dalam situasi seperti itu memang begitu banyak kabar-kabar yang tak pasti dan mengada-ada. Hal ini memang biasanya terjadi karena kepanikan. Selain itu, ialah spekulasi dari orang-orang yang tak bertanggung jawab. Maka dari itu penting untuk memverifikasinya dari sumber-sumber yang resmi.
Pusat kecamatan Tagulandang, seperti kota mati di malam hari. Beruntung listrik yang dulunya padam, bisa cepat menyala, petugas PLN cepat tanggap mengatasinya. Kurang lebih 6 ribu orang telah keluar dari pulau Tagulandang mengungsi ke Siau, Manado, dan Bitung. Yang tetap tinggal adalah mereka yang berusaha berani dan telah memetakan jalur evakuasi jika Ruang kembali meletus.
Kedatangan Kepala BNPB: Skenario Pemulihan, Relokasi, dan Tepis Isu Pulau Tenggelam
Tepat pada tanggal 4 Mei 2024, hari Sabtu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Letjen TNI Suharyanto tiba di Tagulandang. Ia turun memantau langsung pengungsi yang kampungnya hancur di kaki Gunung Ruang, yaitu Pumpente dan Laingpatehi. Lokasi pengungsian berada di Kampung Apengsala, lokasi yang cukup aman dari lontaran lava pijar Gunung Ruang. Namun debu gunung tetap sangat tebal di sana, mengharuskan orang-orang memakai masker.
Perjalanan ke Apengsala, kira-kira 20 menit, jalan penuh pasir dan kerikil tebal. Udara pekat, penuh debu. Setiap rumah yang kami lewati tak ada yang tak belubang, bahkan daun-daun mangrove, ilalang, dan pisang kering kerontang. Di Apengsala, pengungsi dijamu dengan baik. Aparat TNI Polri dan personel Badan Penanggulangan Bencana bersinergi dengan tugasnya masing-masing. Wajah-wajah pengungsi khususnya dari pulau Ruang melukiskan kepedihan yang mendalam karena kampung mereka telah hancur. Terlebih mereka sudah tak bisa lagi kembali tinggal di tanah peradaban mereka, Pumpente dan Laingpatehi.

Kini mereka menunggu jadwal relokasi di sebuah tempat yang cukup jauh, yaitu sebuah Kampung yang bernama Modisi di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Pemerintah telah menjamin kehidupan mereka kedepannya. Ada 301 Kepala Keluarga (KK) dan 828 jiwa yang akan disiapkan tempat tinggal oleh pemerintah di sana. “Kenapa dipindah di daerah itu pertimbangannya di situ hampir sama habitatnya ada pantai, ada pohon kelapa dan informasinya satu suku. Kemudian akan dibangun oleh pemerintah dalam waktu secepat-cepatnya ini namanya Rumah Sehat dari Kementerian PUPR,” Kata Letjen TNI Suharyanto.
Ketika membangun komunikasi dengan pengungsi pulau Ruang, Suharyanto menyatakan upaya yang relokasi oleh pemerintah tidak memaksa kepada masyarakat, namun begitu dia menerangkan, dengan kondisi yang ada pulau Ruang sudah tidak boleh untuk ditempati karena masuk dalam zona bahaya.
Menurut dia pemerintah mengijinkan jika masyarakat pulau Ruang mendapatkan tanah dari sanak saudaranya di daratan Tagulandang, dan akan dibantu pembangunan rumah tinggalnya. Namun jika ingin direlokasi, semuanya sudah disiapkan dalam lima bulan kedepannya.
Setidaknya ada empat skenario yang disiapkan oleh pemerintah untuk membantu masyarakat yang terdampak erupsi Gunung Ruang. Pertama, pemerintah akan segera membangun hunian tetap sebagai rumah relokasi bagi warga yang sebelumnya tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) I, kedua bagi warga yang rumahnya rusak berat, akan dibantu biaya perbaikan atau pembangunan senilai 60 juta rupiah, ketiga rumah rusak sedang mendapat bantuan senilai 30 juta rupiah, dan keempat, rumah rusak ringan sebesar 15 juta rupiah.
Di waktu yang sama pula Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, menepis informasi yang beredar melalui media sosial ataupun pesan elektronik terkait adanya tsunami dan keruntuhan Pulau Tagulandang yang akan terjadi pada 3-5 Mei 2024 sebagai berita bohong. Dalam keterangannya dia menegaskan agar masyarakat tidak terpancing dan mencari informasi melalui lembaga yang berwenang.
“Dengan kondisi saat ini, informasi mengenai tsunami atau pulau akan patah tidaklah benar. Hal ini berdasarkan laporan dari lembaga yang berwenang dan didasarkan pada pengetahuan ilmiah serta penggunaan peralatan yang tersedia,” ujar Suharyanto, Sabtu, 4 Mei 2024.
Tagulandang pada bulan ini sepertinya harusnya merayakan panen Cengkih. Jejeran pohon cengkih berbuah lebat. Seperti terlihat di Kampung Boto. Kampung Boto berada di dataran cukup tinggi, sebuah kampung yang juga tak terhindar dari terjangan material vulkanik Gunung Ruang. Rumah-rumah di sana juga penuh lubang, jalan-jalan penuh kerikil. Setiap kendaraan yang melintas harus penuh hati-hati.
Orang-orang terlihat khusuk bersembayang Ibadah minggu dan magrib di Balehumara. Mereka menaruhkan pengharapan kepada Yang Maha Esa. Doa dan air mata meluap dari hulu yang sama, dari hati yang bersedih dan takut. Setiap manusia yang tak mengalaminya pun pasti akan berusaha memendam kesedihannya membayangkan kondisi mereka, apalagi melihat langsung kondisi para penduduk pulau Ruang, Pumpente, dan Laingpatehi. Meski belum ada laporan korban jiwa akan letusan 17 dan 30 April itu, namun bencana itu telah menyebabkan 3.488 unit bangunan rusak yang terdiri dari rumah warga dan aset negara.
Pasrah dan Harap Warga Pulau Ruang
Di hari yang sama, sekira pukul 02.00 siang, usai mewawancarai Kepala BNPB RI, kami menumpang perahu memantau dua kampung yang hancur di kaki Gunung Ruang dan hendak meliput penyelamatan hewan-hewan peliharaan oleh komunitas pemerhati hewan dari Manado.
Pemandangan tak lasim, sebuah perahu bermuatan penuh dari kaki gunung ruang menuju ke pantai Balehumara. Kami meminta juru mudi perahu kami untuk medekat ke perahu tersebut, dan setiba di tepi pantai Balehumara ternyata itu adalah masyarakat Kampung Laingpatehi bersama Kepala Desanya kembali mengambil barang-barang di rumah mereka yang masih bisa diselamatkan.
Yang berhasil mereka bawa, berupa mesin genset, kursi, peralatan dapur, ornamen-ornamen kristiani dan lain sebagainya. Lewat keterangan mereka, barang-barang tersebut tidak langsung didapat begitu saja, mereka harus menggali, sebab hampir setengah badan rumah tertimbun material vulkanik letusan Ruang.

Di sela-sela membantu menurunkan barang dari perahu, saya mewawancarai Sius Hatibae, seorang pria berusia 61 tahun, meratapi nasibnya yang tertimbun material letusan gunung. “Rumah saya memang rusak, tertimbun material,” keluhnya dengan nada pilu. Dia mengingat letusan sebelumnya yang tidak sehebat yang mereka alami sekarang. “2002 sempat erupsi tetapi tidak seperti sekarang ini, ini paling parah,” tambahnya sambil sesekali ia menatap pulau ruang kampung halamannya.
Meski demikian, Sius masih memendam harapan untuk kembali berkebun di daratan Tagulandang, dekat dengan lahan yang dulu menjadi sumber kehidupan mereka. “Kami menunggu pemerintah saja, tapi kami punya keinginan ditempatkan didaratan Tagulandang supaya mendekati lahan di sana siapa tau kami bisa kembali berkebun. Tetapi untuk kembali menjadi perkampungan sudah tidak bisa,” ungkapnya lirih.
Sementara itu, Katrina Gaghiwu (64), juga bersama-sama dengan mereka mencoba mengambil barang-barangnya yang masih bisa diselamatkan dengan cara digali. “Kami mengambil barang dengan cara digali, karena tidak punya uang untuk membeli,” ujarnya dengan suara serak. Rumah mereka telah hancur tertimbun, dan banyak barang yang tidak dapat mereka ambil.
Kepala Desa Laingpatehi, Hardi Manuho, juga tidak luput dari kesedihan. “Saya tidak sempat mengangkat barang,” katanya dengan nada serius. Sebagai kepala desa, tanggung jawabnya terbagi antara mengurus pengungsian dan meratapi kerusakan yang melanda desanya. “Kampung Laingpatehi, kalau saya pikir memang sudah tidak layak huni. Kerusakannya parah sekali,” ujarnya. Dia tahu bahwa relokasi adalah satu-satunya pilihan yang layak bagi warga desa.
Meskipun gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey sudah menawarkan relokasi ke Bolaang Mongondow Selatan, sebagian besar masyarakat masih enggan. Mereka berharap untuk ditempatkan di Tagulandang, agar dapat tetap berdekatan dengan pulau Ruang yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka. Namun, mereka sadar bahwa masa depan mereka kini bergantung pada keputusan pemerintah dan kesiapan mereka sendiri untuk menerima perubahan yang tak terhindarkan.
Baca juga: https://barta1.com/v2/2024/05/05/dua-kampung-terdampak-erupsi-gunung-ruang-akan-direlokasi/
Erupsi Dahsyat Gunung Ruang di Masa Lalu dan Tahun 2024
Seorang pengamat yang juga peneliti, Ma’rufin Sudibyo, menulis di laman Facebook-nya, bahwa letusan pertama Gunung Ruang pada 17 April 2024 adalah letusan gunung berapi terdahsyat se Indonesia dalam rentan setengah abad. Dan letusan kedua 30 April 2024, menjadi dua kali lebih dahsyat dibanding sebelumnya.
“Secara akumulatif hingga saat ini Letusan Ruang 2024 telah melepaskan ~700 juta m³ magma DRE. Ia menjadi letusan terdahsyat yang pernah disaksikan Indonesia dalam 60 tahun terakhir (sejak Letusan Agung 1963). Juga letusan terdahsyat yang disaksikan Bumi dalam 2 tahun terakhir (sejak Letusan Hunga Tonga Hunga Ha’apai 2022),” tulis Ma’rufin.
Amat beruntung bahwa letusan sedahsyat Gunung Ruang pada peristiwa itu tidak mengakibatkan tsunami, baik dengan skala besar maupun kecil, sebagaimana isu-isu yang beredar pada saat itu. Namun, dalam memori kolektif Tagulandang, ada kenangan akan kedahsyatan letusan Gunung Ruang di masa lalu, ketika gelombang pasang yang menghempaskan wilayah pesisir meninggalkan jejak tragedi yang mendalam.
Kisah itu terpatri dalam ingatan Paul Kelling, anak dari seorang misionaris bernama Friedrich Kelling, yang menjadi saksi langsung dari hempasan tsunami akibat letusan Gunung Ruang pada tahun 1870/1871. Dalam catatan yang dirangkai oleh Daniel Brilman dalam buku “Kabar Baik di Bibir Pasifik, Wilayah-wilayah Zending Kita, Zending di Kepulauan Sangihe dan Talaud”, Paul Kelling mengisahkan momen mencekam tersebut dengan kagum dan ketakutan yang melanda keluarganya.
Saat itu, mereka mendengar suara aneh yang mencurigakan, yang menarik perhatian ayahnya yang sedang berada di serambi depan rumah. Dengan mata yang mengamati Gunung Ruang, Friedrich Kelling segera menyaksikan gelombang pasang yang mendidih, seperti dinding putih yang menghantam pantai dengan kekuatan dahsyat. Tanpa kata-kata panjang, ia memanggil penghuni rumah untuk bersiap-siap berdoa.
Dalam ketakutan yang mendalam, keluarga Kelling dan seisi rumah mereka bersatu dalam doa, memohon pertolongan Tuhan. Namun, sebelum doa mereka sempat selesai, gelombang itu sudah mendekati rumah mereka dengan kekuatan mengerikan. Meskipun malapetaka itu merenggut 450 nyawa, keluarga Kelling dan penghuni rumah mereka selamat dari bencana tersebut. Ombak tersebut telah melewati rumah mereka dari segala sisi.

Kisah tragis itu menyisakan duka yang mendalam di seluruh Tagulandang, namun juga menunjukkan keajaiban dan kuasa Tuhan. Rumah keluarga Kelling berubah menjadi tempat perlindungan dan penyembuhan bagi para korban luka. Tragedi itu, meskipun memilukan, tidak menghentikan misi pelayanan Friedrich Kelling. Ia terus menjalankan panggilan rohaninya, tidak hanya di Tagulandang, tetapi juga di Pulau Siau selama 16 tahun berikutnya.
Dilansir dari itb.ac.id ahli vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Mirzam Abdurachman, S.T., M.T., menerangkan berdasarkan data letusan Gunung Ruang dari tahun 1808 hingga 1940, ia menemukan pola siklus letusan dengan rata-rata 32, 25 tahun.
Analisis data ini menunjukkan bahwa letusan kuat tidak terjadi setiap tahun, dan tercatat pada tahun 1810, 1817, 1840, 1870, 1904, 1905, dan 1940. Jika pola ini berlanjut, letusan kuat berikutnya diprediksikan terjadi antara tahun 1972 dan 2036.
Namun, perlu diingat bahwa pola ini tidak selalu tepat dan letusan besar dapat terjadi di luar periode prediksi. Hal ini terlihat pada tahun 2002 dan 2004, di mana terjadi letusan besar yang tidak sesuai dengan pola 32,25 tahun.
Sehingga, menurutnya kita perlu selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya letusan sisa rentang periode 2004-2036. “Dua gempa kemarin yang diikuti erupsi Gunung Ruang sudah menjadi pertanda akan isi perut gunung ruang yang belum dikeluarkan sepenuhnya pada prediksi letusan periode 2004,” ungkapnya di itb.ac.id.
Siang tadi Senin, (13/5/2024) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengumumkan Gunung Ruang telah mengalami penurunan status dari level IV atau status “awas” menjadi level III atau “siaga”. Semoga ia benar-benar beristirahat dan Tagulandang cepat pulih dan bangkit menyembuhkan lukanya dari bencana ini.
Penulis: Rendy Saselah


Discussion about this post