Manado, Barta1.com – Setiap orang tentunya memiliki cerita dari setiap pengalaman hidupnya. Apalagi jauh dari orang tua demi melanjutkan pendidikan. Begitupun dengan cerita Yulianto EM.
Pemuda kelahiran Sopi, 29 Juli 1993, selepas dari SMP di kampung halamannya di Kepulaun Morotai. Ia kemudian memilih merantau untuk melanjutkan studi ke tingkat SMK di Kabupaten Tobelo Maluku Utara.
Pada proses penyelesaian studi di SMK, Yulianto setiap harinya harus berjalan kaki menempuh jarak sepanjang 4,8 km dari rumah saudaranya ke sekolah. Bahkan untuk mencukupkan kebutuhan di perantauan, ia mengisih waktu liburannya dengan bekerja sebagai tukang kuli bangunan.
“Saya lulus dari SMK itu tahun 2013, kemudian melanjutkan studi di Kampus Politeknik Negeri Manado dengan mengambil program studi Manajemen Bisnis di Jurusan Administrasi Bisnis. Tentunya, cara-cara yang sudah dilakukan sejak SMK dilakukan juga saat di masa perkuliahan, tapi saat itu saya mencoba mencukupkan kebutuhan dengan berjualan online dan membuka jasa pangkas rambut,” ungkap.
Anak ke 2 dari 3 bersaudara dari pasangan Bebi Em dan Rosna Nete ini melakukan hal tersebut karena sadar bahwa dirinya dari latar belakang keluarga yang sederhana dan kondisi ekonomi yang serba berkekurangan. “ Aspek terpenting dalam menentukan perjalanan saya selama menjalankan studi adalah impian,” singkatnya.
“Selama ini hanya impian yang bisa memicu saya untuk terus mengejar mimpi, dan mewujudkan impian kedua orang tua bahwa kelak anaknya harus berhasil dalam dunia Pendidikan maupun pekerjaan,” ungkap staf External Relations PT IWIP ini.
Menurutnya, hal terpenting untuk mencapai apa yang diinginkan adalah niat dan tekad untuk meraih apa yang menjadi tujuan dan cita – cita.
“Sebagai anak muda kita harus pede dan penuh percaya diri, jangan berpikir endingnya mau jadi apa. Banyak anak muda yang gagal dalam dunia pendidikan bukan karena faktor ekonomi, tapi karena mental yang tidak kuat, mudah menyerah, dan tidak punya inisiatif untuk keluar dari persoalan tersebut,” tuturnya.
Dalam menjalani proses kehidupan setiap orang tidak bisa menghindar dari sebuah persoalan. Kerap kali muncul persoalan di kalangan anak muda, dimana ada faktor mental yang harus berani untuk diselesaikan dengan apa yang sudah dibangun, misalnya dalam menyelesaikan studi harus berkomitmen untuk selesai tepat pada waktunya. Karena proses kehidupan yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan.
“kehidupan hari ini menentukan apa yang sudah dimulai dari hari kemarin. Sampai saat ini saya merasakan hal yang didapatkan, dimulai dari proses perjuangan studi sampai pada karir saat ini,” kata pemuda yang memiliki hobi olahraga, healing dan makan ini.
Intinya, kata Anto sapaan akrab teman-temannya itu, bahwa setiap usaha harus ditopang dengan doa. Doa bukan sesuatu hal yang layak untuk dipertontonkan. Tapi dengan doa tandanya setiap orang sedang membangun relasi dengan Tuhan.
“Tentunya dengan tekun bekerja dan ditopang dengan doa perjalanan karier kita pastinya akan diberkati, selagi kita terus melakukan apa yang baik dan menyenangkan bagi Tuhan,” ucapnya.
Diakhir statmennya, Yulianto, memberikan 3 hal penting demi mencapai apa yang diinginkan, yakni mengasah kemampuan, kemauan, kejujuran, yakin dan percaya pasti berhasil.
Setelah lulus dari perkuliahan, proses Karir Anto dimulai dari salesman di bidang bisnis properti, finance, dan dealer. Semua pekerjaan tentunya berkaitan dengan prospek untuk mengejar target dan hari-hari harus bekerja di jalananan, sembari membangun relasi hubungan bisnis sampai sekarang di External Relations PT IWIP. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post