Manado, Barta1.com – Suara adzan subuh belum usai bergema, Han Lomuli dan istrinya, Aisya Sahbudin, sudah sibuk menyiapkan perlengkapan untuk sholat. Meski tenaga mereka cukup terkuras di kebun, semangat untuk memenuhi kewajiban agama tetap menyala. Pasangan suami istri ini, bersama anak-anaknya, menjalani kehidupan sederhana di desa Ollot II, Kecamatan Bolangitan Barat, Kabupaten BolaangMongondow Utara.
Seperti biasa setelah sholat subuh, Aisya mempersiapkan kebutuhan dapur, termasuk bekal untuk kebun. Meskipun rumah mereka kecil, dan sederhana, Han Lomuli, yang tidak bisa melihat sejak lahir, selalu bersyukur sambil menikmati pagi dengan segelas kopi buatan Aisya. Suara burung dan kehangatan keluarga menjadi latar dari kisah hidup yang menginspirasi ini.
Setiap hari, keluarga ini beraktivitas di kebun, menanam berbagai tanaman seperti jagung, cabai, kelapa, pisang, dan padi. Jarak antara tempat tinggal dan kebun mereka hanya sekitar 7 meter. Meskipun tak jarang merasa lelah, Han Lomuli dan Aisya tak pernah menyerah.
Menurut Sri Wulandari Lomuli (28), salah satu anak pasutri ini, ayahnya bukanlah seseorang yang mudah menyerah. Dalam keterbatasannya ayahnya terus bekerja keras demi mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Semangat papa terlihat saat menanam jagung, kelapa, dan cabai menggunakan tali yang ditanam menggunakan patok yang dibantu oleh mama. Saat panen padi tiba, ayah memanennya dengan mencoba meraba-raba menggunakan kaki, diangkat dengan kedua tangannya, dan dimasukkan ke dalam karung dengan bantuan mama atau adik,” tutur dia.
Meski dalam keterbatasan keluarganya itu Sri Wulandari berhasil meraih beasiswa Bidikmisi di Universitas Sam Ratulangi Manado (Unsrat). Mahasiswi Jurusan Teknologi Hasil Ternak ini penuh perjuangan yang ispiratif akhirnya mampu menyelesaikan gelar sarjananya.
“Saya selalu menentang kalimat keterbatasan ekonomi, sekalipun kondisi keluarga kami seperti itu. Dengan tekad itu, semangat saya untuk bisa menyelesaikan studi terus berkobar, dan akhirnya, tahun 2022 kemarin saya berhasil diwisuda,” ungkap Sri.
Walaupun seringkali dianggap sebagai keluarga yang berkelebihan, banyak orang tidak menyadari bahwa orang tua Sri bergantung pada hasil kebun yang waktu panennya tidak selalu menentu. Bahkan, mereka rela menjual kebun kelapa untuk membantu kebutuhan hidup Sri selama perkuliahan.
Sri Wulandari tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua dosen di Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi Manado, terutama dosen wali yang dianggapnya sebagai orang tua sendiri. Ia juga berterima kasih kepada orang tua yang meski tinggal di kebun sehari-hari, tetap mendukungnya untuk melanjutkan pendidikan.
“Rasa terima kasih juga yang tak terhingga disampaikan kepada mama dan papa. Terima kasih buat papa yang memberikan penguatan hingga bisa berjuang, baik siang maupun malam hari,” ujar Sri dengan tulus.
Demi orangtuanya, Sri berkeinginan menjadi orang yang berhasil dan bisa berbakti kepada orang tua. Meskipun belum memiliki pekerjaan tetap, Sri sementara waktu memilih berjualan pulsa di rumah untuk membantu kedua orang tuanya. Ia juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai penyelenggara pemilu.
Sri berharap, ketika mendapatkan pekerjaan tetap, sebagian penghasilannya akan digunakan untuk biaya perkuliahan adiknya yang sempat terhenti karena kondisi ekonomi. “Saya juga memiliki harapan ketika mendapatkan pekerjaan tetap bisa membantu biaya perkuliahan adik yang sempat terhenti karena keadaan ekonomi. Adik saya berhenti kuliahnya semester 5 di Kampus Akper Matuari Waya Manado yang di Manibang, mengingat di kampus tersebut tidak memiliki program beasiswa,” pungkasnya.
Peliput: Maikel Pontolondo/Rendy Saselah


Discussion about this post