Manado, Barta1.com – Deretan perahu dominan berwarna putih nan indah berjejer dari kejauhan. Satu perahu dengan perahu lainnya saling beradu. Layar terus dikembangkan. Angin bertiup menambah kecepatan. Perahu layar itu saling bersaing menjadi yang terdepan.
Pemandangan itu tersaji, Minggu (24/9/2023) pagi di Teluk Kota Manado. Ratusan warga berbondong-bondong tak mau melewatkan kesempatan emas menyaksikan 70 perahu layar berlomba.
“Ini lomba pertama yang saya saksikan secara langsung. Dimana perahu layar saling beradu kecepatan. Asyik pokoknya pemandangan pagi ini,” ujar Ferry Tatinting, warga Singkil yang datang di Pantai Kelurahan Karangria, melihat perlombaan tersebut.
Kata dia, lomba perahu layar ini juga sebagai sarana rekreasi bagi warga Manado yang haus hiburan. “Saya sendiri baru kali ini melihat perahu layar yang dilombakan. Saya berharap ajang ini bisa digelar setiap tahun. Karena perahu layar akan mengenang kembali tentang asal muasal nenek moyang kita adalah pelaut,” ujar karyawan swasta tersebut yang datang rombongan bersama keluarga.
Ady Putong, warga Kelurahan Karangria terlihat bergembira dengan ajang perahu layar yang dipusatkan di daerah mereka. Tontonan yang menarik dan membuka mata pencaharian warga. “Iya, selain kita mengingat tentang sejarah para pendahulu kita yang merupakan pelaut, secara tidak langsung iven ini memberikan efek domino bagi warga. Lihat saja, banyak warga yang membuka jualan aneka makanan ringan dan minuman. Semuanya laku keras,” kata tokoh masyarakat Kelurahan Karangria tersebut.
Beberapa warga mengaku jualan mereka ludes terjual. “Keuntungan yang ditaksir mencapai Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu pada hari ini saat lomba perahu layar. Kalau iven ini sering dilaksanakan masyarakat di sini akan ikut sejahtera,” ujarnya.
Diketahui, ajang ini digelar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang bertujuan memperkenalkan penggunaan layar pada perahu. Hal ini untuk mengingatkan bahwa sejarah nenek moyang Indonesia mengarungi lautan perlu diperkenalkan kembali kepada generasi sekarang.
Sebelumnya Adi Wicaksono, Kurator Program Muhibah Budaya Jalur Rempah 2023, menyampaikan lomba ini berupaya untuk membangkitkan pengetahuan soal kehidupan bahari yang tidak bisa dilepaskan dari Jalur Rempah.
“Selama ini nelayan sudah banyak yang beralih ke mesin tempel dengan solar sebagai bahan bakar sehingga biaya untuk melaut cukuplah besar dan tidak ramah lingkungan. Sehingga kami mengajak dan mengimbau nelayan untuk menggunakan layar karena lebih hemat dan ramah lingkungan sebab layar digerakan oleh angin,” ujar mantan jurnalis nasional tersebut.
Barten Heydemans, salah satu nelayan yang ikut berlomba mengaku senang dengan iven tersebut. Bagi dia bukan sekadar berburu hadiah ratusan juta tapi banyak pengetahuan soal perahu layar dan pengunaan perahu secara umum yang diperoleh dari ajang ini. “Kami sempat ikut diskusi yang dilaksanakan Kemendikbudristek bertema: Temu Nelayan Perkapalan Tradisional untuk Kehidupan Laut yang Berkelanjutan,” katanya.
Kegiatan yang merupakan kolaborasi Kemendikbudristek bersama TNI Angkatan Laut sebaiknya dilaksanakan terus menerus sehingga masyarakat luas akan diperkenalkan tentang budaya dan alat transportasi tradisional masa silam ini.
Kepala Balai Pelestarian Sulut Sri Sugiharta sebelumnya juga menyampaikan secara historis wilayah yang sekarang disebut Sulawesi Utara merupakan bagian dari Jalur Rempah pada masa lalu. “Tentu saja alat transportasi tradisional masyarakat Sulawesi masa silam adalah perahu layar. Dengan demikian Lomba Perahu Layar ini salah satunya dapat digunakan sebagai sarana untuk membangkitkan kesadaran sejarah masyarakat sekarang dengan kejayaan nenek moyang,” katanya.
Kendati komoditas utama nelayan sekarang bukan rempah-rempah tapi dengan kegiatan lomba ini diharapkan nelayan dapat melestarikan pengetahuan dan teknologi perahu layar tradisional ini. “Salah satu caranya dengan bersedia mewariskan pengetahuan dan teknologi perahu layar tradisional ini ke anak cucu dan generasi muda lainnya,” imbuhnya.
Penulis : Agustinus Hari


Discussion about this post