Manado, Barta1.com–Dipercayakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi Caleg DPRD Sulut Dapil Nusa Utara nomor urut 1 menjadikan Jull Takaliuang sebagai magnet baru di area politik tiga kabupaten di kepulauan itu.
Setidaknya ada 2 aksi penyelamatan pulau Sangihe yang dilakukan Jull Takaliuang bersama rakyat Sangihe antara bulan Juli 2008 hingga Maret 2009.
Pertama, mengadvokasi masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe terkait kehadiran PT East Asia Mineral Coorporation sebagai Kuasa Pertambangan di Pulau Sangihe.
“Ketikan itu saya dan tim memberikan masukan kepada pemerintah kabupaten Sangihe tentang dampak negatif yang luas terhadap lingkungan pulau Sangihe. Dan pemerintah setuju menolak tambang,” kata Jull.
Dikatakannya, pulau Sangihe yang hanya memiliki luas daratan 736 Km atau sekitar 73,600 ha apabila perusahaan tambang emas beroperasi, secara langsung akan merubah bentang alam dan sangat berpotensi menimbulkan bencana di pulau kecil Sangihe.
Kedua, mengadvokasi masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe tentang rencana penambangan pasir besi oleh perusahaan dari Taiwan di pulau Sangihe, dan memberikan masukan kepada pemerintah kabupaten Sangihe tentang dampak negatif terhadap sustainabilitas pembangunan Kabupaten Sangihe jika perusahaan tambang pasir besi ini beroperasi.
“Tambang pasir besi antara lain akan memicu abrasi dan berdampak mengecilnya luas pulau atau daratan yang bersinergi dengan climate change,” ujar Jull Takaliuang.
Hasilnya, rencana operasi pertambangan pasir besi dikaji kembali, dan atas saran tersebut akhirnya pemerintah kabupaten Sangihe melakukan kajian lalu mencabut ijin dan membatalkan beroperasinya pertambangan pasir besi tersebut.
Dua poin perjuangan riil Jull Takaliuang di atas baru sekilas awal dari sejumlah advokasi yang dilakukannya di tiga Kabupaten kepulauan yakni Sitaro, Singihe, dan Talaud ini.
Selain yang paling aktual, kemenangan bersama rakyat dalam koalisi Selamatkan Sangihe Ikekendage (SSI) menolak tambang PT Tambang Mas Sangihe pada 2023, Jull juga banyak menangani kasus-kasus terkait Hak Asasi Manusia (HAM) perlindungan anak dan kaum perempuan di Nusa Utara dalam puluhan tahun terakhir.
Mengapresiasi latar perjuangan Jull Takaliuang tersebut Benni E. Matindas –Budayawan, penulis buku-buku filsafat dan tata Negara— menilai sosok Jull Takaliuang figur yang paling paripurna dari aspek integritas bila ia masuk kepanggung politik.
“Jull Takaliuang sudah terbukti setia mengabdi untuk Sulawesi Utara, apalagi Nusa Utara. Ia konsisten, berani dan cerdas memperjuangkan kepentingan orang banyak. Sudah seIama bertahun-tahun ia berjuang di semua lini, dari pemberdayaan ekonomi rakyat kecil, pelestarian lingkungan hidup, advokasi hak-hak rakyat yang terpinggirkan, perjuangan untuk perlindungan perempuan dan anak-anak,” kata Benni Matindas.
Menurutnya, dengan latar belakang luar biasa seperti itu, pembacaan terhadap kisah, kiprah dan visi politik Jull Takaliuang bisa dirujuk dalam perspektif Paulo Freire, pada “Pedagogy of the Oppressed” (Pendidikan Kaum Tertindas), 1967, sebagai gambaran semacam keterwakilan dari buah pikiran kreatif dan hati nurani yang peka akan kesengsaraan dan penderitaan luar biasa masyarakat tertindas,
Jull Takaliuang kata dia, adalah artikulator masyarakat bawah. Kerja-kerja politiknya mendekati apa yang digambarkan Helen Keller sebagai hal-hal terbaik dan terindah dalam kehidupan, sesuatu yang tidak bisa dilihat atau diraba, tetapi dirasakan oleh hati. Sebuah dedikasi yang bagi banyak orang dipandang sebagai kisah-kisah inspiratif yang dapat kita petik dari pengalaman hidup dan historiografinya.
“Pemahaman akan hal itu melampaui apapun. Dalam perspektif agama-agama semitik, ia semacam seseorang yang dipersiapkan Tuhan untuk menempatkan kebenaran pada alurnya yang sebenarnya, tapi juga menginspirasi yang lainnya. Oleh karenanya, banyak orang menjadi kuat, lainnya menemukan jalan menuju apa yang ia harapkan. Dan kita menjadi kian tahu bahwa Tuhan tak pernah lelah berbagi kebaikan,” ujar Matindas. (*)
Penulis:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post