Manado, Barta1.com – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mendatangkan berkat. Itulah yang disampaikan oleh Agustina Togas. Perempuan kelahiran Sitaro, 5 Agustus 1980 itu, bagian dari puluhan ibu-ibu yang mengumpulkan sisa-sisa makanan yang ada di area TPA Sumompo, Kota Manado.
Ditumpukan sampah itu, Togas terlihat menggaruk satu per satu sampah guna mengumpulkan sisa makanan untuk ditampung di ember cat berukuran 25 kilo gram. Terik matahari dan hujan bukan penghalang bagi ibu empat orang anak ini, untuk terus mencukupkan kebutuhan hidup keluarganya.
“Menjadi pengumpul sisa makanan ini karena dorongan kebutuhan. Dan yang terpenting mencari uang dengan cara yang halal,” ungkap Togas kepada Barta1.com, Kamis (27/7/2023).
Bagi sebagian orang, TPA Sumompo adalah tempat yang kotor dan mendatangkan penyakit. Namun bagi dirinya mendatangkan berkat. “Dari sisa makanan itu, saya mendapatkan uang. Sisa makanan seperti nasi dan ikan dijual kepada peternak bebek dan babi. Harga per ember cat berukuran 25 kg itu dihargai Rp 15 ribu,” tuturnya.
“Per harinya saya bisa mengumpulkan 7 sampai 10 ember saja, untuk melengkapi kebutuhan. Seringkali juga mengumpulkan sampah plastik dan dos untuk bisa dijual,” imbuhnya sembari menceritakan awalnya dirinya menjadi pengumpul makanan bekas itu tahun 2002.
Dengan penghasilan yang diperoleh dari TPA Sumompo ini, Togas bisa menyekolahkan empat anak-anaknya. Anak pertama dan kedua sudah menyelesaikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 8 Manado, dan sudah bekerja di toko. Sedangkan, anak ketiga bersekolah di SMK yang sama dengan kakak-kakaknya, dan anak terkahir masih duduk di bangku SMP.
“Selain sekolahkan anak-anak, saya juga bisa membangun rumah dengan hasil dari TPA Sumompo ini. Mengharapkan suami, sudah tidak ada gunanya lagi, jadi harus berjuang sendiri untuk mencukupkan semuanya,” sahutnya.
Ia menceritakan, awal menjadi pengumpul makanan bekas itu, tidaklah mudah. Dirinya sering merasa mual, akan tetapi lama-kelamaan bisa menyesuaikan dengan keadaan hingga saat ini. “Kami tidak takut sakit, ketika berprofesi seperti ini, yang kami takut ketika tidak rajin bekerja. Untuk penyakit yang didapatkan, hanya seperti biasanya beringus dan batuk saja. Sedangkan adanya Covid-19, kami di sini tetap bekerja seperti biasanya, tidak ada yang terdampak,” cetusnya.
“Tuhan sangat adil kepada kami yang bekerja seperti ini. Kami terus diperhatikan dari pemenuhan kebutuhan hingga kesehatan. Karena berkatnya, saya bisa menjalankan tugas sebagai ibu, sekaligus kepala rumah tangga,” pungkasnya.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post