Manado, Barta1.com – Mari mengenal lebih dekat komunitas sosial bernama Sahabat Pelangi Manado (SPM). Komunitas yang didirikan sejak tahun 2018 ini, konsennya pada dunia pendidikan.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo Manado adalah lokasi dimana komunitas SPM itu beraktivitas bersama anak-anak yang kurang beruntung. “Di TPA itu ada anak-anak yang masih sekolah, ada yang tidak. Kami coba hadir untuk menutupi kekurangan itu dengan memberikan pembelajaran membaca, menulis dan menghitung,” ungkap Founder SPM, Jose Andre Soehalim kepada Barta1.com, Jumat (3/2/2023).
“Komunitas SPM dibentuk dengan tujuan membantu setiap anak-anak di TPA Sumompo Manado, Untuk mendapatkan hak-haknya. Yang dalam hal ini, adalah pendidikan. meskipun yang diberikan berupa pendidikan dasar saja,” tutur Andre sembari berharap ada dampak yang baik bagi lingkungan masyarakat sekitar.
Jika ditanya lagi, alasan apa yang membuat dirinya secara pribadi membentuk SPM. Ia menjawab, saat dirinya berstatus mahasiswa. Disitulah dia bertanya pada dirinya sendiri hal apa yang sudah dilakukan untuk masyarakat. Hal itu mendorong dirinya untuk membuat komunitas SPM itu.
“Saat baru memulai SPM, saya melakukan survey lokasi, mencari volunteer dan lain-lainnya. Sehingga terjawab sudah apa yang menjadi pertanyaan pada diri saya sendiri, dengan hadirnya SPM ini,” ucap lelaki kelahiran Makasar, 4 Januari 1999.
Anak dari pasangan Edwin Soehalim dan Leidy Parengkuan itu, menambahkan, kegiatan SPM sendiri dilaksankan setiap hari Sabtu. Proses belajar mengajar seperti biasanya membaca, menghitung dan menulis. “Untuk itu, SPM itu sendiri sudah pernah mengikuti beberapa event seperti Manado Youth Fest di tahun 2018, Social Media Festival tahun 2018, dan diundang ke stasiun TV maupun Radio, serta mendapatkan penghargaan atas kontribusi kepada masyarakat khusus kepada anak-anak dari komisi Nasional perlindungan anak Indonesia yang diserahkan langsung oleh Ketua Arist Merdeka Surat di tahun 2018,” sahutnya.
“Mungkin begitulah, sedikit history dan journeynya SPM yang bisa kita bagikan hingga sekarang ini. Kegiatan setiap Minggu, sebanyak 10 sampai 20 orang terkumpul. Kalo event di lokasi yang terkumpul hingga 50 anak,” imbuhnya.
Dirinya kembali menceritakan, bahwa kegiatan SPM sempat berhenti ketika datangnya virus covid-19, namun saat ini akan dimulai lagi proses belajar-mengajar itu. “Semoga kegiatan belajar-mengajar kedepannya terus berjalan dengan baik dan tidak ada kendala lagi,” pungkasnya.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post