• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, April 21, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News

Festival Pisang Pertama di Sulut, Masyarakat Kalasey Dua Tidak Merasakan Keadilan

by Redaksi Barta1
4 Juli 2022
in News
0
Festival Pisang Pertama di Sulut, Masyarakat Kalasey Dua Tidak Merasakan Keadilan

Festival Pisang di Desa Kalasey Dua. (foto: meikel/barta1)

0
SHARES
282
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado, Barta1.com – Teriakan hidup petani kembali bergemuruh di Festival Pisang Kalasey Dua, Jumat (01/07/2022). “Hidup petani…hidup petani…hidup petani. Tuhan tidak akan membiarkan kami, hanya pemerintah yang membiarkan kami mati,” ungkap  Agustine Lombone, salah satu petani Kalasey Dua yang menggugat SK Gubernur terkait lahan 20 Hektar ke Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Oma Ndio sapaan akrabnya, menceritakan kehidupannya sejak kecil dengan hasil pertanian di Kalasey Dua. “Oma saat ini  berumur 63 tahun, dahulunya  tinggal di Lingkey. Di Lingkey orang tua kami bekerja di PT. Asiatik Kalasey pada tahun 1982, kemudian dipindahkan oleh pemerintah dari Lingkey ke Kalasey Dua. Saya ditinggalkan ayah sejak  umur 6 tahun.  Di umur 6 tahun kami sering berjalan kaki tanpa menggunakan sendal sambil  menenteng hasil  dari lahan disini, bukan  hanya  kemarin kami mencari hidup disini,” tegasnya sembari menyebut saat ini tinggal sisa, karena sebagian lahan diambil oleh Pemerintah.

“Pemerintah sudah mengambil lahan disini, disana sudah dibangun sekolah SMA dan kantor-kantor. Sebelah sini ada Rumah Sakit dan Brimob.  Bakamla datang bertemu dengan masyarakat untuk  melakukan perjanjian, mereka menyampaikan akan  mengantikan kerugiannya,  ternyata satu perah pun tidak ada pergantian. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Kantor Desa menyampaikan bahwa mereka tidak ada dana untuk menganti rugi,” terangnya. “Bakamla instansi terakhir bertemu dengan kami ternyata pendusta,” tegasnya. 

Lanjutnya, jika ada pemilihan datang membuat janji, apa yang dimintakan Selalu diberikan dalam bentuk pemenangan. “Ketika mereka terpilih, mereka menginjak kami. Kami sudah menderita, kami hidup dalam ketakutan, dan hidup dalam penderitaan,” cetusnya.

“Bulan April 2022 Angkatan Laut (AL) datang ke sini atas perintah Gubernur mau mengambil lahan seluas 20 hektar. Mereka menyampaikan bahwa Gubernur yang memerintahkan karena  ditukar guling dengan Gedung AL, untungnya kami petani bisa mencegahnya.

Lanjut Oma Ndio, ada LBH Manado dan teman-teman mahasiswa yang membantu petani di sini untuk mengetahui namanya hukum. “Coba baca sila ke 5 Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tetapi kami masyarakat Kalasey Dua tidak merasakan keadilan itu,” katanya.

“Indonesia sudah merdeka berpuluh-puluh tahun merdeka, namun kami tidak merdeka, kami dijajah. Untuk itu, Petani tidak perlu takut, Tuhan tidak membiarkan kita. Kehidupan kita ini tinggal terkahir, tinggal lahan ini kami mencari makan dan menyekolahkan anak,” pungkasnya.

Terpantau Barta1.com, Festival Pisang ini dihiasi dengan pernak-pernik hasil tani, berupa pohon pisang berserta buahnya.  Kemudian dekorasi dari dedaunan pisang dan kelapa, yang  digagas langsung  oleh beberapa elemen seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manado, kelompok adat Minahasa, dan beberapa gerakan mahasiswa di Sulut.

Bukan itu saja, pada Festival Pisang ini diisi dengan pameran olahan pisang berbahan pisang, pameran lukisan/karya instansi seni, kabasaran, panggung boneka,  tarian betina, musikalisasi puisi, orkes rakyat, lapak dan pameran foto warga.

Peliput: Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: Festival PisangKalasey Dua
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
Sambut HUT RI, Pemuda Kombos Barat Bakal Lakukan Aksi Sosial

Sambut HUT RI, Pemuda Kombos Barat Bakal Lakukan Aksi Sosial

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Polisi Tangani Kasus Dugaan Pemalakan dan Penganiayaan terhadap Pelajar di Bitung 20 April 2026
  • Hengky Honandar : Manajemen ASN Fondasi Utama dalam Mewujudkan Birokrasi yang Profesional 20 April 2026
  • Wabup Sangihe Buka TKA SD 2026, Tekankan Kejujuran dan Kesiapan Infrastruktur 20 April 2026
  • Hengky-Randito Dampingi Dirjen Pendidikan Tinjau Pelaksanaan TKA di SDN Impres 6/84 Madidir 20 April 2026
  • Jalan Berlubang di Sulut: Keluhan Warga Menggema, Respons Diharapkan Nyata 20 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In