Manado, Barta1.com – Jeremy Tingginehe, anak muda yang memilih berhenti dari pekerjaannya sebagai staf, di salah satu perusahaan pertambangan di Halmahera, Maluku Utara. Dan, lebih memilih mengabdikan dirinya di pendalaman Papua. Tepatnya, Desa Mamit, Distrik Kembu, Kabupaten Tolikara Papua sebagai guru honor.
Sekolah Dasar (SD) YPPGI Mamit Tolikara Papua merupakan tempat Jeremy mengabdikan dirinya. “Saya mengajar dibeberapa kelas gabungan. Yakni kelas 4 dan 5, kelas campuran 1 dan 2. Kemudian, kelas 3 dan 6. Jumlah siswa yang diajarkan sebanyak 10 orang per 2 kelas yang digabung,” ungkap Jeremy kepada Barta1.com, Sabtu (14/05/2022).
“Saya mulai mengajar disini sejak tanggal 8 April 2022, dengan mengikuti mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang ada,” tuturnya sembari menyebut Mata pelajaran yang ia ajarkan ialah IPA, Kesenian, matematika, Bahasa Indonesia dan lainnya.
Alumni Universitas De La Salle Manado menyebut dirinya sebelum menjadi guru honor, ia bekerja di perusahaan pertambangan selama 10 bulan dengan gaji 7 Juta perbulan.
“Sedangkan menjadi guru, saya digaji Rp 5 juta per 3 bulan dari dana BOS. Untuk angka gaji, saya tidak permasalahkan, karena menjadi guru adalah impian saya sejak dahulu,” imbuhnya.
Menurutnya, ada beberapa metode belajar yang ingin dikembangkan dari pengalaman sejak duduk di bangku SMK hingga perkuliahan.
“Selama saya sekolah hingga kuliah. Ada, beberapa tenaga pendidik yang hanya datang dan suru menulis saja. Seperti itu, terus-menerus, cara begini tidak akan meningkatkan anak didiknya. Dari hal itu, saya terdorong menjadi guru dengan komitmen dan prinsip yang ada,” cetusnya.
“Apalagi teman-teman, dan asli anak Papua kurang diperhatikan dari segi pendidikan di sini. Saya terdorong menjadi guru, dan mau memberi diri dengan kasih agar anak-anak Papua kedepannya mampu membangun daerahnya semakin lebih baik kedepannya,” ujarnya.
Anak kedua, dari tiga bersaudara, dari pasangan Ricky Mukhlis Tingginehe dan Yulita Gusungi berharap apa yang ia ajarkan kedepannya bisa dipahami oleh anak didiknya. “Setiap mata pelajaran selalu diulangi, agar siswa-siswi disini bisa lebih mengerti, dan memahami,” tambahnya.
“Saya bermohon kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan pendidikan yang ada di Papua baik tenaga pendidiknya, dan fasilitas yang sangat diperlukan,” pintanya.
Sebelum mengabdikan dirinya di tanah Papua sebagai guru honor, Jeremy Tingginehe pernah melakukan aksi sosial dengan melakukan pendakian 15 gunung di Sulut. Aksi itu guna menggalang dana kebutuhan dan pengobatan anak kanker di Kota Manado.
Peliput : Meikel Pontondo


Discussion about this post