Manado, Barta1.com – Mandiri sejak usia muda tidak semua orang bisa melakukannya. Apalagi, ditinggalkan orang terdekat. Itu yang dirasakan Resky Tumimbang (24). Pemuda periang, baik dan pekerja keras. Ia anak pertama dari dua bersaudara pasangan sederhana Japris Tumimbang bekerja penjaga rakit dan almarhum Roslili Malese.
Pemuda kelahiran Dapalan 24 Desember 1994 ini menceritakan tentang kepergian ibunya bertepatan dengan kesibukannya saat kuliah. “Saya masih menginjak semester 7 di Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Manado. Pastinya, kesibukan makin padat dimana ada Praktik Kerja Lapangan (PKL) hingga tahapan penyusunan laporan PKL dan proposal. Diwaktu tersebut kita membutuhkan topangan motivasi dari keluarga terdekat. Namun, harapan tersebut berbeda ketika mama saya meninggal,” ujar Kribo sapaan akrabnya yang sempat berpikir untuk berhenti kuliah.
“Pernah berpikir untuk berenti kuliah. Namun terpikir dengan pesan mama hanya ingin melihat Resky pakai toga. Itu, yang membuat Kita kembali bersemangat untuk menyelesaikan sisa semester menuju sarjana,” jelasnya, Rabu (17/11/2021).
Setelah kepergian ibunya, Resky tetap bersemangat menjalani kesehariannya. Setelah di Wisuda tahun 2018, Reski menjadi instrutur surfing di UKM Jendela Indoneia MM Group selama 7 bulan. “Menjadi instruktur hanya 7 bulan mengingat tahun 2019 awal Covid-19 dan pekerjaan di rumahkan sampai tahun 2020. Tahun 2020 berpikir untuk mengadu nasib ke luar negeri yakni Jepang,” ucapnya.
Berjalannya waktu untuk mempersiapkan administrasi menuju negara MatahariTterbit, Resky kembali dirundung duka. Kali ini, adik kandungnya, almarhum Vicky Anto Tumimbang meninggal. “Mama dan adik pastinya tidak mau melihat saya dan papa berduka untuk setiap saat. Keduanya, pasti ingin melihat kami tetap bersemangat. Jadi, kita tetap menjalankan niat untuk pergi ke Jepang,” tuturnya.
Sosonopan Paniki Bawah Lingkungan IX, Kecamatan Mapanget adalah kediaman Resky bersama keluarganya. “Rindu dengan suasana rumah. Saat, Mama dan Ade masih ada pastinya suasana sangat berbeda, pastinya seperti anak-anak lainnya yang masih ada orang tuanya,” cetusnya.
“Mama orang hebat demi kita kuliah. Rela, mencari sayur Daun Ubi untuk dijual agar kita boleh ke kampus, mengingat jarak lapangan dan Politeknik agak jauh. Pernah 2 hari berjalan kaki dari Kampus sampai ke Rumah tujuannya untuk menghemat biaya,” ceritanya.
Ia kembali menceritakan sejak semester 3 sudah bekerja. Setelah jam kampus kita langsung bekerja. Ada, beberapa Hotel yang pernah mengijinkan kita bekerja semasa kuliah yakni Novotel, Sutanraja, dan Peninsula. Selain itu, melatih basket di SMK Yadika Manado.
“Proses, demi proses suka dan duka mampukan dilewati. Dan, Syukurlah ketika berada di Jepang Tuhan masih memperhatikan, memampukan, dan memberikan pekerjaan di perusahaan Nakayama dengan Gaji 15 Jutaan perbulan,” imbuhnya.
Sambungnya, kedepannya akan membangun usaha dan melanjutkan perkuliahan. “Dengan penghasilan yang kita dapatkan saat ini. Rencana, akan membuka usaha dan melanjutkan studi S2 di Jepang,” pungkasnya.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post