• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home SWRF

Sangir Sampai Terluka, Sampai Tersisa Cinta

by Redaksi Barta1
6 Oktober 2021
in SWRF
0
Ilustrasi dari Pixabay

Ilustrasi dari Pixabay

0
SHARES
352
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

paradoks cinta anak laut, anak ombak

Catatan:
Jane AA Lumi*


Bila kita mengingat lagi perkataan termasyur perempuan suci dari Kalkuta ini “When you love until it hurts, there will be no more hurts, only more love” demikianlah kita akan mengingat suatu gambaran melekat tentang seorang Iverdixon Tinungki, lelaki penyair yang dibesarkan laut dan ombak negerinya, Sangihe. Ia gelisah dalam rindu, ia cinta yang api. Ia geram yang kesumat, tetapi juga iklas yang mengharu biru. Ia Sangihe yang penuh mimpi, terluka berulang-ulang, sampai akhirnya ia tak punya luka lagi untuk ditoreh – persis perempuan suci Teresa – yang tersisa padanya hanyalah cinta. Iverdixon dan Sangihe berkelindan, bergelut, gelisah, tertawa, menangis, bernafas bersama.


Dalam salah satu puisi berjudul Setelah Brown*) Menulis Pulauku, (Kumpulan Puisi “Jalur Rempah”, Teras Budaya, 2016), sang penyair mengiklaskan cinta dan gumul airmata negerinya,
o nusaku
yang seluruh gunungmu puisi
bila laut menitip buih ke paruh kalibri, terbanglah

terbanglah
kian jauh terbang
terbang ke gerbang cahaya dirindu pendaki

bila dulu telah tiba syekh dan paderi, biar

biar aku mendoakan diriku sendiri
dengan garis nasib dan kelabu tubuh

akan kurempah
dengan lautku yang biru

Seakan bisa membaca bagaimana wajah negerinya berabad-abad nanti, puisi ini semacam nubuat sang penyair tentang sebuah masa ketika setiap orang Sangir terpanggil untuk “pulang”, untuk kembali pada dirinya sendiri sebagai anak pulau dan laut, merempahi raga dan jiwanya dengan samudera cinta yang biru itu, samudera yang kerap dikhianati dan ditinggalkan, namun yang selalu setia hadir merengkuh kesunyian pantai dan karang.

Seiring dengan keiklasan cinta itu, Iverdixon menyalakan api juang yang tak mau menyerah. Ia mengajak, merayu. Ia meyakinkan, menguatkan. “Perempuan, Mari Menikah Dalam Ombak” (Kumpulan Puisi “Makatara”, Teras Budaya, 2014) adalah puisi yang membuat saya sebagai manusia sekaligus perempuan menjadi begitu yakin tentang kekuatan sebuah komitmen dan daya juang demi membela dan mempertahankan apa yang kita miliki dan cintai. Metafor pernikahan dalam ombak dapat kita baca sebagai kondisi mencintai tanpa dusta dan tanpa kenal batas waktu. Ia tak ada akhirnya. Iverdixon sedemikian mencintai pulau dan negerinya, semesta laut yang telah mengajarinya makna musim-musim. Ia telah mengarungi beratus-ratus ombak dan arus, telah tenggelam dalam palung terdalam, ke dalam rahim yang melahirkannya. Rahim yang berdarah itu sampai saat ini terus berpeluh dalam geliat eksistensialnya. Iverdixon mengajak kita menikah dengan negerinya yang eksotis, negeri yang mewariskan rentetan sejarah epik nenek moyang mereka. Di negeri yang kekayaannya menjelma untaian mutu manikam nusa utara, Iverdixon dan jutaan orang Sangir lainnya menyadari kekayaan itu tak mungkin tergantikan oleh apapun juga kendati era disrupsi sekarang ini selalu mencoba membelinya.

perempuan, mari menikah
dalam ombak
merasakan persetubuhan ikanikan
berciuman sebuas hiu
bercengkerama serupa megalodon

aku telah menabung arus
seabad belum kutetas

aku memilihmu
buat kuterjang
mari

mari kemari
ke laut lepas ereksi ini

hanya laut tak berdusta padamu
ia sungguh bila mencintaimu
ia sungguh bila membunuhmu

perempuan bertelanjanglah di sini
di luas dada pulau sesungguhnya kau mimpi

sejuta perahu melintas
hanya kau kupanggil kekasih
perempuan mari kemari
telah kusiapkan banyak musim
kau tak perlu memilih
semua punya sisi nikmat sendiri
ombak, bui, arus, dan kedalaman
mematang kau salami

menikahlah denganku
seperti putri duyungduyung akan menari
di pecahan cahaya bulan memantul
membentuk garisgaris perak
di malam hari kau rindui

kita akan mabuk
merayakan hari pengantin
di palung terdalam
di sebuah liang
kau sebut hati
kau yakini kebebasan hakiki

Membaca Iverdixon dalam kecemasan dan harapan-harapannya, kita akhirnya tiba pada kesadaran bahwa selalu ada resiko dalam mencintai. Sang penyair telah mengambil resiko itu, ia mempertaruhkan segenap keberadaanya, cintanya, hasratnya, mimpinya. Ia akan selamanya berdiri bagi negeri dan pulaunya. Dalam resiko yang maha dahsyat yang ia tempuh, ia tetaplah lelaki Sangir yang bebas lepas, tak terpenjara oleh apapun dan siapapun. Cinta yang maha itu telah membebaskannya melampaui semua kondisi dan kemelut yang tiba. Kita membaca Iverdixon, kita membaca diri kita sendiri. Ketika sang penyair sementara menggenapi apa yang menjadi sabda paradoks cinta itu, pertanyaan tersisa bagi kita. Seberani apa kita mencintai jati diri kita, negeri kita, bumi yang melahirkan kita — hingga kita siap terluka?

Kita belum mencintai, jika kita belum berdarah.
Kita belum Iverdixon –
mungkin kita belum juga sungguh Sangir. (**)

*Penulis adalah sastrawan di Manado

Barta1.Com
Tags: SWRF
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
New MG ZS, salah satu produk Morris Garage untuk Gen Z dan milenials di Manado. (foto: MG Manado)

Morris Garage Bawa Pengalaman Berkendara Asyik Untuk Milenial Manado

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Usai Turnamen Catur Daerah, Kepala BNNP Sulut Tatap Event Nasional 18 April 2026
  • Halal Bihalal Jurusan AB Polimdo: Merajut Kebersamaan dalam Keberagaman 18 April 2026
  • WALHI Sulut Perkuat Gerakan Lingkungan, 18 Peserta Ikuti Pelatihan Community Organizer 2026 17 April 2026
  • Pegadaian Gelar “Mengetuk Pintu Langit”, Wujud Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan 17 April 2026
  • Anak Aniaya Ibu Kandung hingga Meninggal, Polisi Tindak Cepat Amankan Pelaku 17 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In