• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Sabtu, Mei 2, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home SWRF

Merekam Jalur Rempah Dengan Puisi

by Redaksi Barta1
7 September 2021
in SWRF
0
Merekam Jalur Rempah Dengan Puisi
0
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sangihe Talaud, di peta sejarah niaga dunia adalah salah satu kawasan lintasan persaingan dagang dan perebutan hegemoni kekuasaan di masa lalu. Sebagai kawasan di perairan laut Sulawesi, Sangihe Talaud masuk dalam enam Jalur Niaga –disebut juga Jalur Rempah– terpenting di abad ke-15.

Alex John Ulaen dalam “Nusa Utara: Dari Lintasan Niaga ke Daerah Perbatasan”, menyebutkan sebagai daerah yang masuk pada kawasan perniagaan Laut Sulawesi, peran Nusa Utara (Kepulauan Sangihe dan Talaud) adalah sebagai tempat transit penting dari dua jalur perniagaan utama menuju Pulau Rempah. Yakni, bagi para pedagang yang datang berlayar dari arah barat, Malaka, yang biasanya akan berlayar menuju Pulau Rempah dengan menyusuri laut di bagian utara Pulau Borneo, lalu berbelok ke arah timur menuju Laut Sulu, transit di Kepulauan Nusa Utara, baru setelahnya pergi ke Pulau Rempah Maluku Utara.

Sedangkan dalam jalur pelayaran lain, adalah yang biasa dilalui oleh para pedagang dari daratan Cina yang berlayar melalui wilayah barat Kepulauan Filipina, menuju ke Laut Sulu, transit sebentar di Kepulauan Nusa Utara, baru setelahnya pergi manuju ke Pulau Rempah.

Dua jalur pelayaran inilah yang nantinya akan diikuti oleh Bangsa-Bangsa Barat ketika mereka hendak menuju ke Pulau Rempah pada awal-awal kedatangannya di Nusantara. Sejumlah ahli sejarah juga menyebutkan, di masa lalu, letak geografis yang strategis, serta potensi komoditi ekspor yang menjanjikan, membuat tiga kekuatan Barat yakni Belanda, Portugis, dan Spanyol bersaing mati-matian untuk menancapkan pengaruh di gugusan kepulauan Sangihe Talaud terutama pada abad ke-16 sampai akhir abad ke-18.

Untuk menyemarakan Sangihe Writers & Readers Festival 2021, berikut ini kami sajikan beberapa puisi yang diambil dari Buku Kumpulan Puisi “Jalur Rempah” karya penyair Sangihe Iverdixon Tinungki.

DENAH LOYASA

ada sisa denah Loyasa*)
di bandar Malahasa
lima ratus tahun sudah usia peta
bertukar rempah dan nyawa

bagai sebuah pita
disunggi batu
ke rambut ibu yang telah tua

inilah sepi dan abu
menyimpul laut yang ngilu
karena berlayar adalah mencari
hingga hidup tak sekadar uzur yang bisu

di ujung tanjung beberapa perahu kecil merayap
seakan bandar punya sejarah tersembunyi
di atasnya burung dan angin bertarung
melunasi hutang di buku matahari menunggu

itu sebabnya tugu tak sekadar batu bagiku
karena yang tumbuh di laut biru;
elegori ibuku

lalu apa tumpah di pantai selain ombak berderai

tanpa berkayuh di arus
hidupku hanya catatan sehelai

*) Loyasa: Catatan harian Pigaffeta berupa laporan bandar-bandar penting yang disinggahi kapal niaga mereka dalam ekspedisi Loyasa tahun 1537.

PADA CATATAN ANTONIO PIGAFFETA*)

di bandarbandar
banyak orang tak tahu ke mana pergi
ke mana menemukan diri sendiri

kuli
masih saja kuli
memikul kemalangan

seorang Pigaffeta
dan beribu penjelajah
seakan saman
wujudnya bagai kapak
menebang makna samudera
hingga seluruh layar dan impian
berderak patah

orangorang hilang arah, hilang harap
setiap kali sauh menjangkar
setiap kali kapalkapal jauh berlayar

kecuali malam mendenyar itu
melahirkan ibu pada sepatah puisiku;

puisi tumbuh digemuruhnya sendiri
umpama burung dengan mata tak berkesip
mengepak gusar dan dengkingku ;

–musim rempah telah berhenti di lautku

*) Antonio Pigaffeta: Pelaut yang menulis catatan perjalanan Laksamana Magelhaes melewati kepulauan Sangihe dan Talaud pada bulan Oktober-November 1521 dalam buku “Primer Viaje en Torno del Mondo”

KETIKA DURADO BERTEMU PAGINCAR

Fernao vaz Durado) tahun 1580 menulis Pagincar Bertholamev Laso) menyebutnya Pancare
itu nama pulau Tagulandang

apa ingin kautulis pada Tagulandang yang kini
apakah tulang pipi cemas
atau ramai iklan asing di jalan bau pesing

embun menetes di Minanga
menambah tabungan air sungai
juga air mata

dan kita menegak kelabu dan kejernihannya
juga riwayat ratu pertama Lohoraung
karena ingin mengenang kegemilangan

apa dikenang Durado dan Bertholamev Laso
di atas pelayaran sejarah timur yang kini koma

pusat kekuasaan membelenggu
anakanak sekolah disungguhkan hafalan
hanya itu, hanya Jawa, hanya Sumatera
juga samasama pilu
dan sampah

o alangkah lukanya timurku
timur dipagari
bulan murung
dan pasang surut pendegup sepi

dan kita teguk hari ini
dengan ramai yang ampas

ketika Durado bertemu Pagincar
kapalkapal datang menjangkar di bandar
bajak laut, raja laut juga mengincar rempah
bertempur hingga luluh kehidupan timur

Pancare, alangkah luka timurku

umpama serpih, kini hanya debu tergelincir
dari atapatap iklan asing
di jalanjalan bau pesing

di bulan oktober-november 1521
laksamana Magelhaes melintasi pulaupulau
navigasinya menunjuk jalur rempah yang makmur

di atas pulau rempah inilah harusnya kita seduh mimpi
juga pertempuran paling api

*) Fernao vaz Durado: Pembuat peta pelayaran niaga yang mencantumkan Pulau Tagulandang tahun 1580 dengan nama “Pagincar”. Pencatuman yang sama dilakukan Bertholamev Laso (1590) dengan nama “Pancare”.

SUATU HARI DI PULAU KAWIO

siapa menyangka
pernah tiba di sini
Juan Sebastian del Cano*)

atapatap hijau mangrove
dan laut yang kutatap
diramaikan ikan bersirip dan kakap

kubayangkan kesepakatan Tordisalles*)
semua samudera baiklah disusur
sebagai bukti bumi bulat bagai bola

dan di tebing batu pasir putih ini
kapten del Cano pertama kali menyakini
manusia tak bisa lari dari peta hidupnya sendiri

aku mendengar ada musik hispanik
diramu malam dusun
mengiringi penari
di pesta hari anakanak bumi

aku ikut bernyanyi
dan menghanyutkan lamun
jauh ke sana ke layar masa lalu
yang berarak mencariku di sebuah pantai nan bisu

*) Juan Sebastian del Cano:Kapten kapal yang memimpin ekspedisi Ferdinand Magelhaens (Magellan—10 Agustus 1519 ).
*) Kesepakatan Tordisalles: Tentang pembagian wilayah ekspedisi antara Portugis dan Spanyol.

CATATAN PARA PELINTAS

1
eskader Ruy Lopez de Villalobos*)
melintasi Gilolo Bendenao Cebu
dan Tubusu
masa itu
Sanguin dan Tarrao
sudah punya tempat indah
seperti Ganalo

tapi apa kaubaca di sebuah buku
ia menulis pantaipantaiku;
untuk kau yang hanya suka tangis dan pilu

2
di utara
ada pulau dan datu
ada samudera dan perahu

bila kau berlayar
berlayarlah ke sini
berlayarlah ke jantung api tradisi

–karena mengaji laut, mengaji hidup dan maut–

3
di batang sejarah moyang
Cempaka dan Manuru
tumbuh bagai sepasang kembang
mengalung langit dan sembayang

datanglah bila kaumau menegak kalbu
karena di batang gelombang sesungguhnya
doa bertubuh

4
dulu maut menunggu di sini
pada gema kapal niaga Eropa
para eskader
memanggul laras senapan
dan bajak laut mampir memperdaya

di atas perang dan bencana itu
kita kembali membaca
niaga
senantiasa berhala dan darah

kini menyamar setangkai tombak
menusuk warna guram
ke celah dada

*) Ruy Lopez de Villalobos: Seorang eskader Eropa yang mencantumkan nama Sanguin (Sangihe) dan Tarrao (Talaud) dalam dokumen Spanyol tahun 1548 sebagai wilayah kerajaan laut yang punya tradisi samudera dan makmur.

SHUN FENG HSIN SUNG MENCARI SHAO

di lembah Hoangho mengalirlah sungai
mengalir ke pucuk bunga Peony

di musim semi seperti ini
aku meretih api ke dalam diri

dalam legenda Hou Yi
ia memanah sembilan matahari
karena cinta di bumi hanya butuh satu
cahaya diri

di bawah satu matahari
bukankah aku dapat pergi
menyusul delapan dewa bahari
berlayar hingga mencapai diri

di lembah Hoangho mengalirlah sungai
dan aku Shun Feng Hsin Sung*)
perahuku meluncur di air
melewati teratai, krisan dan beku apricot

di musim itu
aku tak lupa tekstur rumah bata merah
pohon bambu dan pintu berhias pahatan naga

sejauh mana aku berlayar
tak jua jauh dari tangan Pangu yang mengejar

dengan mantel kulit lusu
kujelajahi peta Shui Jing Zhu

dan Tuhan menyunggi kecapi ke lubuk karangku

lima abad sudah perahuku
meretih gelombang
meronce puisi
dengan guci dupa gaharu yang suci

dan masih kukenang musim semi Peony

burungburung mengambang
melunaskan perjamuan samudera
meneguk makna indah dan nila ke dalam hati

di lembah Hoangho mengalirlah sungai
sudah jauh Utara Cina
rumah bata merah, pohon bambu
dan pintu berias pahatan naga

aku sudah berarus hingga ke Zamboanga
dan tiba di Shao dalam wangi dupa kian bernyawa

di langit dewi bulan Chang’e memijar
seperti kisah catatan musim semi Tuan Lu

di hatiku telah tumbuh kisah lebih sungguh
laut dan pulau yang menunggu

*) Shun Feng Hsin Sung: Pelaut Cina yang menulis buku petunjuk jalur pelayaran
Utara Cina melewati Zamboanga ke bagian timur Mindanao lalu ke selatan menuju
pengunungan Shao (Siau) pada tahun 1500. Sejak itu, perniagaan Cina kian berkembang ke Timur Nusantara.

JEJAK PELAYAR

ombak memukul lambung kapal
menanggalkan musim September
dulu dikeramatkan

dan aku membaca jejak pelayar
Tome Pires dan David Haak*)
di jalur utara selatan
menamai pulau dalam catatannya

kapal dulu tiba
dan kini berlayar
masih di jalur memar

menggelayuti toponymy
arakarakan rempah dan budak

tapi jangan kaukira aku mau pergi
ke bandarbandar tak dikenal

perahu cadikku punya laut sendiri
tegar berlayar sejauh akar kalbu
di mana camar merumahkan keluh

kendati sejarah itu
seperti jarum arloji terus mengulang
detakan yang hilang
hati yang bimbang

*) Tome Pires: Sebelum dan sesudah jatuhnya Malaka pada 1511 eskader kapal niaga Eropa ini menulis kesaksiannya dimana kerajaan-kerajaan di Sangihe Talaud sudah punya hubungan dagang dengan Jawa. David Haak: Seorang perwira muda di tahun 1689 menulis catatan harian tentang kebaharian orang Sangihe Talaud dengan perahu sendiri melayari jalur-jalur perdagangan hingga ke Batavia, Malaka, Manila, Siam dan ke berbagai wilayah Nusantara.

SETELAH BROWN*) MENULIS PULAUKU

o nusaku
yang seluruh gunungmu puisi
bila laut menitip buih ke paruh kalibri. terbanglah

terbanglah
kian jauh terbang
terbang ke gerbang cahaya dirindu pendaki

bila dulu telah tiba syekh dan paderi. biar

biar aku mendoakan diriku sendiri
dengan garis nasib dan kelabu tubuh

akan kurempah
dengan lautku yang biru

*) Brown: Seorang penulis Eropa yang menamakan kepulauan Sangihe Talaud sebagai “Archipelago of Tears” (Kepulauan Air Mata).

PELAGOS

moyangku pelaut yang tahu
di mana letak tujuh belas mata angin
luas cakrawala
persegi bintang pembujur arah

dan arus tak bisa sembunyi darinya

perahunya menderap sebijak mantra
syair tubuh menjelma diri yang nyata

karena itu…
karena itu datudatu bernyanyi;

mendetaki laut ini
mendetaki gelombang dalam diri

begitu kami menebah pagi
pada semua suara burung
mengicaukan pulau
bagai katakata bestari

di puncak Cempaka dan Turi
mantra tak pernah mati
menegakkan tradisi

dari zaman flake dan blade
setelah batu
moyangku menempa perunggu

mengolah lempung di sulur sejarah periuk
karena ia ingin menggarami hidup

–dan kami mau hidup

logamlogamku akan berdencing
serupa moyangku menghalau bajak laut
di medan perang yang kukenduri

aku dan moyangku pelaut
kami tahu di mana letak maut;

hanya sejauh khilaf
dan sungut

TEPIAN PERLINTASAN

di tepian perlintasan jalur rempah
sulit dibedakan bajak laut atau pedagang
mereka datang
samasama dengan agama dan pedang

saat perahunya tiba
suara geram dan garang bagai buku
mengabar Tuhan yang remuk redam

perang berkecamuk
dan abadabad melanjutkan cacahan hasta
pada bahtera selalu runtuh

tak ada yang terselamatkan
arah dan tujuan tenggelam

selepas Malaka
mereka menebar katakata
seakan biji sesawi
tapi
tak ada kusuka dari bengisnya

kabar lain datang dari Pasai, Sulu dan Goa
meretaki doa lebih dulu merekah

di tepian perlintasan jalur rempah
moyangmoyang tabah
memberiku laut baru
mesti kutempa

PUSAKA ARUS

pusakaku silsilah dan arus
adat dan camar berkesiur

burungburung dan penyair menetas
beriburibu syair bayangbayang hilir
dilangir ibu ke jiwaku yang Sangir

bilamana arus menderas
seberdaya apa aku di hadapan gelombang
jika kekuasaan tak beguna
adat istiadatlah yang mendekatkanku biru semesta

saat petualang tiba
para pedagang mencium bau rempah
dan Marcopolo bertemu pelayarku
di sebuah perahu dan buku

menyebut perahu
bukan besar kecilnya kuukur keberanianku
liar dan hujaman gelombanglah guru
sejarahnya memberi kita arah dan tubuh

laut itu
tempat silsilah adat dan maut
hanya yang taat disebut peraya hidup

DARI SEBUAH UPACARA PESISIR

saat doa diketukkan ke arus
aku tahu kesakitan
bagai hutang harus lunas ditebus

tapi siuman jangan hanya tradisi
sedang kita bak pelangir cempaka ke laut mati

bukankah berkayuh harus sampai ke jati diri

di suatu pagi
kita barangkali membaca van Erde atau Brillman*)
lalu bertanya bagaimana menghargai budaya

budaya tak sekadar keris dan mantra
jampi kehendak menegak sebuah menara

mimpi dan hasrat mestilah terpacak di tengah
saat haluan kemudi bergerak
menakluki laut mengajari kita gelora

*). J.C. van Erde dan Brillman: dua penulis yang antara lain berjasa menyelidiki asal-usal suku bangsa Sangihe Talaud.

Barta1.Com
Tags: Alex John Ulaeniverdixon tinungkiMerekam Jalur Rempah Dengan Puisisangihe talaud
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
Tim Asal Minsel Wakil Sulut di Pra-PON 2021 Game Free Fire

Tim Asal Minsel Wakil Sulut di Pra-PON 2021 Game Free Fire

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Alarm bagi Pendidikan Vokasi: Teknik Mesin Polimdo Hadapi Krisis Minat dan Regenerasi Dosen 2 Mei 2026
  • Semarak Peringatan 63 Tahun Integrasi Papua di AMN Dipimpin Rektor Unsrat dan Kolonel Jacobus 2 Mei 2026
  • HUT ke-17 IKA Polimdo: Menebar Kepedulian, Menghidupkan Kasih di Setiap Langkah 2 Mei 2026
  • Supriyadi Pangellu: Pak Gubernur, Evaluasi Dulu Kinerja Calon Sekprov! 2 Mei 2026
  • Pemkot Kotamobagu Sebut Perda APBD 2026 Sudah Lolos Evaluasi Gubernur 2 Mei 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In