• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Minggu, April 19, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home SWRF

Gerakan Literasi, Sumbu Revolusi Kebudayaan Sangihe

by Redaksi Barta1
23 Agustus 2021
in SWRF
0
Foto ilustrasi oleh Stenly Pontolowokang

Foto ilustrasi oleh Stenly Pontolowokang

0
SHARES
383
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Catatan: Johanis Pilat*

Kabupaten Kepulauan Sangihe merupakan bagian kunci yang terhubung dalam mata rantai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Letak geografis yang berada di beranda terdepan ujung Utara, menjadikan kawasan ini memiliki nilai strategis dalam menjaga kedaulatan. Puluhan tahun lalu, Sam Ratulangi memandang kawasan bibir pasifik termasuk Kepulauan Nusa Utara (Sangihe, Talaud, Siau dan Tagulandang) akan memegang peranan penting perdagangan. Saat ini terbukti, 60% alur lalu-lintas perdagangan armada pelayaran kontainer dunia berada di jalur Pasifik.

Titik pertumbuhan ekonomi terbesar pun terjadi di negara-negara Asia Pasifik. Namun sayangnya di tengah hiruk-pikuk pertumbuhan dunia, Sangihe masih mencari momentum kebangkitan budaya baharinya (termasuk posisi strategisnya, ekonomi dan politik) yang pernah dilakoni dan dirasakan faedahnya.

Daerah ini pernah memiliki letupan peradaban. Sejak 1300-an, Kepulauan Sangihe telah mengenal sistem pemerintahan yang berbudaya. Antonio Pigaffeta seorang juru tulis Spanyol yang berkunjung pada 1420-an, menyebutkan saat itu di Sangihe telah terdapat kerajaan yaitu Kerajaan Tampunganglawo yang memiliki wilayah yang terbagi dua bagian; Sahabe (Lumango) di Utara, dan Manuwo (Salurang) di Selatan. Lalu pada abad 18, Francois Valentijn, seorang misisonaris dan naturalis, menuliskan setidaknya terdapat sembilan kerajaan yang pernah berdiri di kepulauan ini, yakni Kerajaan Kendahe (1570 – 1893), Kerajaan Tahuna, Kerajaan Kolongan, Kerajaan Manganitu (1600 – 1949), Kerajaan Kauhis, Kerajaan Limau, Kerajaan Tabukan (1530 – 1953), Kerajaan Sawang (Saban), dan Kerajaan Tamako.

Kehidupan kerajaan mewariskan tradisi sastra dan kearifan adat istiadat yang masih tertinggal hingga kini. Kearifan budaya yang diwariskan membentuk karakter masyarakat Sangihe dan menempanya dalam hubungan dirinya sebagai bagian dari bangsa-bangsa di dunia. Karena karakter dan budaya pula, Sangihe pernah melahirkan sosok yang pemikirannya berkelana mempengaruhi pergaulan dunia. Sebutlah Prof Dr Makamiman Makagiansar, seorang cendekia yang pernah menjadi pimpinan organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB, UNESCO.

Sebelumnya juga beberapa Putra Nusa Utara mencatatkan pemikiran dan kepenulisan mereka pada kancah nasional seperti JE Tatengkeng dan LK Bohang hingga John Rahasia, seorang mayor dan cendekia yang mengembangkan konsep Tagaroalogi sebagai suatu wawasan geopolitis atas bangsa-bangsa di kawasan Pasifik.

Sebagai seorang putra asli Sangihe yang tumbuh besar di Desa Lebo Kecamatan Manganitu, saya pernah melihat dan merasakan sisa masa keemasan bagaimana kawasan ini pernah memiliki peranan penting dalam perdagangan kopra dan pala dunia. Masih segar di ingatan saya, cerita opa maupun nenek saya bahwa di era awal 50-an, kapal-kapal besar datang dan pergi membawa banyak barang dagangan produk luar negeri dan hasil bumi Nusa Utara.

Kehidupan kota Tahuna sangat meriah, tak kalah dengan Manado sebagai Ibu Kota Provinsi. Infrastruktur banyak dibangun, hingga saat itu, Sangihe pernah memiliki stadion olah raga terbesar kedua dan termodern di kawasan Timur Indonesia. Namun hanya berselang 40-50 tahun kemudian, bukan kemajuan melesat yang dapat dilihat, tapi perkembangan yang lambat di berbagai sektor yang menjadikan Sangihe menjadi pengikut dibelakang melesatnya daerah-daerah lain.

Di awal abad 19 hingga zaman Indonesia merdeka, aktivitas dikawasan Sangihe ( Tahanusang Sangihe/Tampunganglawo ) dikenal sebagai wilayah depan dari teritori yang kini menjadi kawasan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada masa awal perkembangan negara RI, pola sentralistik yang dikembangkan menjadikan wilayah Sangihe menjadi halaman belakang, sebuah kawasan yang dikenal dengan 3T ( terdepan, terluar, tertinggal). Oleh karenanya, mengembalikan marwah Sangihe sebagai beranda terdepan seperti yang digaungkan oleh Bapak Presiden Jowo Widodo merupakan sebuah kesadaran dari pengetahuan dan sejarah kawasan bahwa wilayah ini merupakan wilayah yang memiliki potensi untuk maju, mandiri dan berperan aktif dalam kancah pergaulan dunia.

Saat ini, kawasan Sangihe masih dikategorikan sebagai wilayah 3T. Seperti maknanya, daerah tertinggal dan terluar acapkali dianalogikan dengan keterbelakangan, jika saat ini ada semacam sinisme bahwa orang Sangihe hanyalah “pemetik kelapa” dan nelayan yang tinggal di pesisir pulau, tak ayal menjadi semacam suku bangsa yang tak berkelas, tentu merupakan tamparan bagi kita semua, mengingat dahulu kala kita pernah memiliki peradaban yang dipandang setara dan sejajar, bahkan turut mempengaruhi pembangunan dan peradaban dunia.

Dalam menunaikan tugas sehari-hari sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, fenomena yang terjadi hari ini tentu menjadi ganjalan dan tantangan bagi saya pribadi. Rendahnya daya indeks literasi di Kab. Kepulauan Sangihe dibanding standar nasional, dapat diartikan sebagai rendahnya pula tingkat kecakapan dan daya saing masyarakat, bila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Permasalahan literasi adalah permasalahan budaya, maka sebuah “revolusi budaya” perlu digagas agar kebudayaan Sangihe dapat kembali menemukan momentumnya.

Revolusi Kebudayaan & Renaissance.
Revolusi kebudayaan merupakan sebuah istilah yang disematkan atas perubahan secara menyeluruh kondisi sosio-budaya masyarakat dalam waktu yang sangat cepat (Adler: 2011). Sejarah mencatat, revolusi kebudayaan seringkali diasosiasikan dengan peristiwa gerakan sosial politik Tiongkok dari 1966 – 1976 yang dipimpin Mao Zedong. Di tahun tersebut, Mao dan para cendekia Tiongkok dihadapkan pada fenomena menurunnya moral dan identitas budaya tradisional Tiongkok yang dipengaruhi oleh peradaban barat. Hal ini menyebabkan maraknya korupsi dan kemiskinan.

Dalam pertemuan Pleno Komite Sentral ke-8, pada Agustus 1966, Mao Zedong meluncurkan gerakan revolusi kebudayaan yang berpijak pada pembaharuan atas nilai kebudayaan, gagasan pemikiran, tradisi dan adat – istiadat kuno. Dalam buku “Chinese Cultural Revolution” (2018), gerakan revolusi kebudayaan di China berlangsung selama empat tahap dalam kondisi yang sangat ekstrim. Propaganda, pelanggaran HAM, kekerasan fisik mewarnai implementasi gerakan revolusi kebudayaan di China. Di balik pro-ontra yang terjadi, kini sejarah mencatat revolusi kebudayaan yang digagas di China itu, telah menjadikan negara tersebut sebagai pemain global dan dominan, bahkan kini bersanding dengan raksasa dunia, Amerika dan Rusia.

Yang ingin saya sampaikan melalui contoh gerakan revolusi kebudayaan di China, adalah timbulnya kesadaran intelektual dan kultural memperbaharui gagasan-gagasan pemikiran suatu suku bangsa dalam menunaikan jalan hidupnya di dunia. Masyarakat Sangihe harus memiliki kesadaran tersebut, karena tanpa kesadaran itu tidak akan timbul gagasan-gagasan perbaikan dan pemikiran-pemikiran baru menuju perubahan.

Kita harus menjauhi pandangan-pandangan pragmatis dan “main aman”. Kita harus mengimplementasikan makna semboyan “Somahe Kai Kehage”, kita adalah bangsa yang selalu mencari tantangan dan sebesar apapun gelombang yang kita hadapi, kita selalu menemukan jalan keluarnya dengan gemilang.

Permasalahannya adalah bagaimana kita dapat mengenali tantangan yang datang dan menghadang, apabila kita tidak memiliki kemampuan dalam membaca dan memahami tersirat dari yang tersurat/terlihat?. Tantangan selalu datang dalam pelbagai rupa, ia dapat bergelora seperti amuk samudara, namun dapat pula hadir dalam senyap hembusan angin sepoi menyejukkan. Tanpa kemampuan literasi, maka tak mungkin kita dapat mengenali tantangan, bahkan menghadirkan perangkat perubahan untuk menghadapinya.

Gerakan pencerahan di Eropa, abad ke-14, selalu dimaknai sebagai gerakan bangkit dari kebodohan. Dan salah satu ciri utama dari munculnya gerakan ini adalah tumbuh kembangnya produksi dan konsumsi pengetahuan!. Penemuan mesin cetak, gerakan revolusi budaya dan seni hingga awal mula era eksplorasi dunia, merupakan momentum yang mendorong era renaissance. Bagi Eropa, era renaissance membuka banyak tabir, membuat cerlang-cemerlang dan berkibarnya pengaruh Eropa di seluruh dunia.

Lalu mengapa sebuah kesadaran kultural penting? Dalam menjawab hal ini, saya senang mengutip gagasan Charles Darwin dalam magnum opus-nya: “The Origin of Species”. Seperti kita ketahui, teori evolusi Darwin, mengatakan setiap populasi berkecenderungan untuk bertambah banyak, dan setiap individu harus berjuang mempertahankan hidup agar mampu berkembang biak. Akibatnya, “Survival of the fittest”, yang lebih kuatlah yang menang, dan akan tinggal. Teori evolusi Darwin, dapat kita maknai dalam teori humaniora, betapa aspek budaya pun akan selalu terjadi “pertarungan untuk menentukan pemenang”.

Setiap suku bangsa akan selalu bersaing mempertahankan hegemoninya, yang tidak kuat akan lenyap. Demikian pula dengan Sangihe. Secara sadar ataupun tidak, kita saat ini sedang berada di fase pertarungan untuk mempertahankan eksistensi kita sebagai suku bangsa. Dan tanpa sadar, kita saat ini sedang tergerus, bahkan bisa saja tertelan oleh pergerakan zaman yang begitu cepat dalam hikmat permukaan. Sebagai indikator, lihatlah, berapa banyak anak kita yang masih bisa bertutur dalam bahasa Sangihe? Atau, berapa banyak anak cucu kita mengenali cerita masa lalunya, seperti dongeng-dongeng tentang Bekeng, Ansuang hingga Makaampo yang selalu di senandungkan oleh orang tua kita?

Gerakan Literasi, Peletak Dasar Kesadaran Budaya.
Masyarakat yang melek literasi, akan memiliki kemampuan membaca, menulis dan mengolah informasi bagi dirinya. Hal ini yang akan mendorong kecakapan hidup. Oleh karenanya, gerakan literasi menjadi sebuah upaya penting dan strategis untuk mengawali penanaman kesadaran kebudayaan bagi masyarakat Sangihe

Perhelatan Sangihe Writers & Readers Festival (SWRF) merupakan sebuah upaya untuk lebih membumikan gerakan literasi. Sebagai sebuah kegiatan, SWRF memiliki dua tujuan, pertama, menggugah kesadaran kita secara internal sebagai masyarakat dan suku bangsa Sangihe untuk kembali mempertanyakan gagasan pemikiran dan nilai kebudayaan yang selama ini kita anut, apakah masih relevan atau tidak dengan situasi zaman? Kedua, SWRF adalah sebuah jembatan bagi kita untuk terkoneksi dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia dalam mewujudkan peradaban yang sentosa dan saling menghargai. Sudah saatnya kita berani memperkenalkan diri kepada dunia, dan bersama-sama merangkai kerjasama bagi masa depan yang gilang-gemilang.

Saya sadar, upaya menggelorakan gerakan literasi yang berujung pada revolusi kebudayaan (baca: perubahan), bukanlah hal yang mudah. Akan selalu ada badai, halangan dan rintangan. Tapi saya yakin dan percaya, hal ini wajib kita lakukan, karena inilah warisan kita bagi anak cucu kita kelak. Malulah kita pada leluhur yang telah mewarisi banyak nilai kearifan hingga kita dapat hidup dan beranak-pinak di pulau yang kita cintai, dan kini saatnya kita wariskan sesuatu yang berharga agar kelak mereka dapat menuliskan masa depannya sendiri. (**)

*) Penulis adalah Kepala Dinas Perpustakaan & Kearsipan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe

Barta1.Com
Tags: literasisangihe
ADVERTISEMENT
Redaksi Barta1

Redaksi Barta1

Next Post
Foto oleh Rene Asmussen dari Pexels

Fakta-fakta Mengejutkan Tentang Jam Tangan Pria Bermerek

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Pecatur Muda Memukau dan Ukir Prestasi di BNNP Sulut Cup 2026 18 April 2026
  • Usai Turnamen Catur Daerah, Kepala BNNP Sulut Tatap Event Nasional 18 April 2026
  • Halal Bihalal Jurusan AB Polimdo: Merajut Kebersamaan dalam Keberagaman 18 April 2026
  • WALHI Sulut Perkuat Gerakan Lingkungan, 18 Peserta Ikuti Pelatihan Community Organizer 2026 17 April 2026
  • Pegadaian Gelar “Mengetuk Pintu Langit”, Wujud Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan 17 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In