Kopi di Minahasa telah berusia 489 tahun sejak pertama ditanam. Dan, pada sebuah kantata: seorang gadis berkata, seribu ciuman kekasih tak sebanding nikmat sesesap kopi.
Airmadidi, mulai tumbuh jadi salah satu kota di jalur perlintasan Manado-Bitung. Dulunya, hanya sebuah desa subur di bentang Minahasa Utara yang kini relatif belum lama mekar jadi kabupaten.
Mundur 20 tahun ke belakang, sebagaimana desa-desa di Minahasa, pukul 21.00 Wita, jalanan telah menjadi sepi di Airmadidi. Pada waktu semacam itu, suara dengking serangga terasa bagai pesta malam di petak-petak kebun dan semak. Lalu perlahan, lampu-lampu rumah mulai padam, para petani menepi ke kamar meletakan letih ke bantal.
Airmadidi kini telah berbeda. Sebagaimana kota baru, ia mulai dirambah bisnis malam. Anak-anak muda tak lagi gegas tidur menepis sepi. Mereka punya tempat tongkrongan baru di coffee shop dan resto yang mulai mengisi sisi-sisi Airmadidi. Dan gegas harus kusebut salah satu yang terbaik adalah CoffeeBengkel. Di sana pertama kali saya menyesap nikmatnya “Ijen”.
Ya Ijen, kopi asli dengan harum alami, racikan seorang barista CoffeeBengkel Minahasa Utara (Minut) sambil membayangkan Sabastian Bach, seorang komponis dunia yang agung suatu ketika tak mampu menahan ransangan harumnya kopi. Dengan gairah menggebu-gebu ia menggubah lyric nona Lieschen untuk sebuah opera malam hari.
Lalu, bagi penikmat kopi seperti saya, bersama Ijen CoffeeBengkel, tak mungkin terhindar debak inspirasi tentang kota-kota yang dikerubuti imaji penyair, jalan-jalan dikekalkan para komponis, tempat-tempat di mana semangat kemerdekaan pertama kali dicetus, ruang-ruang saat cinta menjadi hangat, atau saat kecupan paling puitis mengekal. Bahwa, ketika kopi mulai diseduh di sanalah kesedihan itu runtuh, dan semangat menjadi api yang tumbuh. Dan saya menghabiskan 5 jam di CoffeeBengkel!
ada yang bertanya padaku
di mana kopi pertama kali tumbuh
kujawab;
ia tumbuh di tanah Tuhan
di tempat segala pahit berubah kegembiraan
karena itu
ketika kopi mulai diseduh
tak ada lebih nikmat dari pahitnya makna hidup
sejak gerai kopi berhamburan ke atas kisah dunia baru
pertempuran dan penaklukan mengiringi jalan bijibiji
disangrai jadi hitam itu
Bila sekadar menyentil kultur dan sejarah kopi di Minahasa, kita tak lepas dengan era Spanyol pada 1532 ketika bibit kopi dari Amerika Selatan mulai di tanam besar-besaran di tanah Minahasa yang kemudian menjadi komoditi ekspor ke Cina sebagaimana dicatat Nicolas Desliens pada 1541.
Lalu penyerbuan Verenigde Oost-Indiesche Compagnie (VOC) karena nafsu memonopili kopi selain rempah bumi timur bertanah subur ini lewat Simon Kos, yang berlayar menuju Manado disertai dua kapal perang Belanda, Molucco dan Diamant pada awal 1661 dari Ternate. Kekuatan inilah yang mengalahkan Spanyol dan Makassar hingga Manado, Amurang pada bulan Februari 1661.
Namun saya lebih ingin membiarkan catatan lepas ini mengalir bersama sesapan ‘Ijen”. Ya kopi Ijen, ala CoffeeBengkel.
kuteguk badai paling api
dari sajak kopi
harum ampas kau suji
kuteguk pula
lezatnya cemeti
dari cangkir putus asa
harihari suasa
kabung yang perih
lihatlah
semua arah melepuh
diseduh
sajak kopi
sebagai kopi memuisi
kuteguk badai cemetiMu ini
Selebihnya, malam cukup dingin. Hari itu, Senin, 12 April 2021. Sebuah hari yang sesungguhnya biasa. Tidak ada yang istimewa! Kecuali, Ijen yang tersaji pada semacam wadah berbentuk vas bunga kecil, lengkap dengan pita merah melingkar cekung bagian tengah. Sebuah sloki anggur dan segelas air es yang berfungsi sebagai penawar saat Injen menyisakan kelat pada rengkah lidah. (bersambung ke bagian 2)
Penulis : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post