Sangihe, Barta1.com – Dengan memakai alat pelindung diri seperti baju hazmat, masker, sarung tangan dan semprotan disinfektan, inilah ciri khas Tim Pengusung Jenazah pemakaman secara protokol Covid-19. Tim ini tentu merupakan bagian yang sangat penting dalam menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia.
Tak sedikit cerita menarik, terlebih suka duka mereka yang tergabung di dalamnya. Hampir terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, pasukan terakhir penanganan Corona ini kerap mengalami kendala dalam melakukan prosesi pemakaman secara protokol Covid-19 seperti halnya berhadapan dengan keluarga yang menolak prosesi pemakaman.
Untuk Kabupaten Kepulauan Sangihe sendiri, sejauh ini tim pengusung telah memakamkan kurang lebih 14 orang dengan berbagai kategori, Suspek/Probable, Rapid Test Reaktif dan Positif Corona. Suka duka mereka diamini oleh beberapa sumber yang merupakan bagian dari Tim Pengusung Jenazah pemakaman secara protokol Covid-19 terdiri dari BPBD, SatpoL-PP, Tagana , dan STIC.
Januar Kakasih, mengatakan dalam memakamkan pasien secara protokol Covid-19 yang terberat ialah saat mereka berhadapan dengan keluarga yang menolak pasien dikubur secara protab.
“lebih pada saat bertemu langsung dengan pihak keluarga, memang untuk kita kan paling beresiko, bersentuhan langsung dengan peti jenazah, kemudian resikonya lagi jika ada keluarga yang tidak bisa menerima apalagi jenazah yang pasien reaktif yang belum bisa ditentukan positif atau negatif Covid-19.
Salah satu anggota pengusung lainnya dalah seorang perempuan tangguh bernama Kartika Baweleng Corneles. Waninta yang biasa dipanggil Tiqha Kartiqha selalu aktif dan menjadi bagian terdepan di tim pengusung baik, tim sterilisasi (penyemprotan disinfektan) sedari awal kasus pertama Corona diumumkan di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Tiqha memaparkan hal yang sama dengan yang diutarakan Januar Kakasih. Meski berbagai macam stigma yang dialami mereka, akan tetapi mereka hingga saat ini masih beryukur bahwa di dalam tim mereka, tidak ada yang terpapar covid-19 sejauh ini. Meski begitu tentu kesedihan akan stigma yang berkembang yang menurut dia dilakukan sebagian masyarakat yang gagal paham tetap membuat mereka merasa sedih.
“Bersyukur karena sampai saat ini kami semua (anggota team pengusung) yang sudah bersama-sama dari awal memakamkan jenazah secara protap sampai saat ini tidak ada yg terpapar. Duka atau kesedihan yang kami alami di lapangan adalah ketika kami dihujat habis-habisan baik itu di kalangan masyarakat (sebagian yang gagal paham) maupun di banjiri hujatan di sosial media yang mengatakan kami adalah “team pemburu upah mayat”. Ungkapnya.
Resiko bekerja sebagai tim pengusung bagi Tiqha sendiri sangat-sangat beresiko baginya. Pasalnya, di rumahnya, ia memiliki seorang suami yang sudah 6 tahun berjuang sembuh dari sakitnya, dan juga seorang anak yang masih kecil. Oleh karena itu dirinya selalu berdoa agar tidak terpapar.
“Berharap kami tidak membawa virus ini ke rumah. Apalagi saya pribadi mempunyai keluarga yang sedang sakit serta memiliki anak yang masih kecil. Ada ketakutan tersendiri saat pulang ke rumah berjumpa dengan mereka.Tapi dengan keyakinan, saya percaya saat kami bekerja dengan niat baik dan ketulusan maka Tuhan pasti akan menjauhkan kami dan keluarga kami dari virus ini,” tuturnya kepada barta1 belum lama ini.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Kepulauan Erik Marentek mengatakan tim pengusung ini memang sengaja dibentuk oleh satgas penanganan Covid-19 Sangihe terdiri dari enam belas orang dari Dinas BPBD/ SATPOL PP/ Tim Tagana Dan Pemadam Kebakaran Sangihe dan dari Organisasi Otomotif.
“Kami siap 16 orang tergantung dari kesediaan waktu masing-masing karena untuk teman-teman di Satpol-PP ada tugas-tugas lainnya, demikian juga dengan Tagana tapi ada saat kami mendapat informasi dari Rumah Sakit ada kasus kematian kami sudah siap melaksanakan tugas. Kami juga berharap masyarakat tetap mengedepankan protokol kesehatan agar kita semua dapat menghentikan penyebaran pandemi ini. (*)
Peliput : Rendy Saselah


Discussion about this post