• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Senin, April 20, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur

Sajak-sajak Kontemplasi (3): Amorfati Dan Burung Kecil Yang Bersiul

by Agustinus Hari
6 September 2020
in Kultur, Sastra
0
Sajak-sajak Kontemplasi (3): Amorfati Dan Burung Kecil Yang Bersiul

Iverdixon Tinungki dan Eric MF Dajoh. (foto: dok barta1)

0
SHARES
249
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Karya: Iverdixon Tinungki

——- suatu sore dengan Eric MF Dajoh

Pabila engkau mencintai Emily Dickinson
Sesungguhnya engkau mencintai puisi
Katakata hanya disampaikan lewat pintu
Dari sebuah dunia sangat pemalu
Tapi penyair bukanlah manusia lucu
Kendati ia senantiasa mentertawai diri
Memuja sepi dan pilu yang bernyanyi
sejak Tuhan menghidupkan Lazarus sebagai api
Penyair menulis satir
Cinta nan sublim
dan hasrat pemberontakan paling cemerlang
bahkan subversif
Seperti pengunjung Amherst
Begitulah kita sore ini Ric…
Dua makkhluk dengan detil-detil teraneh
dalam biografi Lazarus
Lelaki yang dihidupkan
Mati dan dihidupkan dalam impian kita
Lalu berlalu dalam ketiadaan kisah
Dan engkau berkata: Mati adalah si pecemburu
Penjaga pintu waktu
Lalu siapa kita kalau bukan Lazarus atau kupukupu
Menjalani saja
Mencintai saja
Karen hidup seakan padang dongeng
tanpa mencari ujung mati yang sungguh
Aku belajar bahagia dengan semua itu Ric…
Menemukan kesendirian di alam semesta
Melihat sesuatu yang tak ada dari yang ada
Merayakannya seperti burung kecil yang bersiul
Sambil menunggu kesendirian itu berakhir
Dan masa depan biarlah ia
Menjadi seakanakan sebuah ruang untuk harapan
Karena begitulah manusia
Makhluk yang menikmati betapa mengasyikan cemburu itu
Di nyala api sebatang rokok
bisa jadi ia biografi kematian nan elok

Hari itu bersama para amorfati
kita menjejali kedai
menikmati sore
Menunggu mati yang biru itu cemburu
Sembari menjalani ritus kopi
Menyatukan air dan api pada cangkir
Untuk makna puisipuisi penyair
Tentang fana dan abadi
Dalam masingmasing diri
Karena sejak mulanya
hidup bukan jalan untuk menyingkir
sebab kreatifitas itu seperti sebuah pipa air
Jika tersumbat ia akan meledak ke manamana
Ke mana kita akan melangkah esok hari Ric…
Selain mengikuti takdir
Seperti Emily menggugat dan mengganyang dunia
Dengan hatinya melampaui batasbatas dogma dan kekuasaan
Karena perasaan sayang tak boleh terkungkung dan terjajah
Mencairlah nestapa! Ucap Emily di atas musim berkilau
Karena tanpa cinta puisi jadi mustahil
Begitu aku menulis sore itu
Seberapa jauh kau mengenalku
Mengenal cinta yang hanya kekal dalam ketiadaannya
Dan kita dua burung kecil berkesiur
lalu bersiul bercericit
meniti dahandahan
sambil terpukau dengan pemandangan anakanak pergi
dan kekasihkekasih menjauh
kita duduk pada ranting kita patahkan sendiri
Karena penyair percaya ia akan tumbuh kembali
Maka ia mencintai saja luka itu datang padanya
Seperti manusia, satwasatwa terbang itu butuh sarang
Untuk pulang ke dekapan ketiadaan
biar senja dari zaman ke zaman
tak sekadar berisi deru dan bising
namun juga resital
bahwa panggungpanggung alam bersahaja
juga punya nyanyian
punya katakata disampaikan lewat hening dan diam
sebelum daunan gugur
dan cinta bertemu daya ucapnya
pada sepasang kekasih yang melangkah
ke laga peradaban dunia

O…
Siapa yang kau cintai Emily
Sajaksajak cintamu begitu sepi
Katakata yang hanya disampaikan lewat pintu
Dari sebuah dunia sangat pemalu
Lihatlah kami berdua menyesap kopi
sembari mentertawai diri
Dalam kehidupan biasa seperti ini
Kita selalu dipertemukan banyak dongeng
Tentang ketiadaan yang sesungguhnya ada
Tentang plantae dalam metafora hemafrodit
Bahwa cinta itu sesuatu yang unik
Sebab andaikata serangga ramairamai bunuh diri
Tak saja puisi, bahkan sejarah akan berhenti
Dan kita menyangka kisah kematian Dirk di suatu hari nan suram
Adalah kematian paling sepi
Hanya sendiri
Hanya diratapi perempuan sepuh
Bergetar seperti anthurium menikmati hari basah
Seolaholah hadiah terindah di ujung hidup itu airmata
Tak bisa membayangkan burungburung bersiul
Selain memejamkan mata membiarkan dunia melewatinya
Oh betapa luka seorang ibu yang melahirkan
Anakanak durhaka
Dan betapa tragis anakanak durhaka memaknai kefanaan
Tanpa melambaikan tangan untuk perpisahan
Tanpa menoleh dan mengucapkan salam
Namun bukankah ibu telah menata dunia dengan cinta
Dan kekasihnya barangkali telah berjumpa tempat terindah

Dengan menggebugebu sore itu
Kita tibatiba sangat berhasrat membongkar masa lampau
Bahwa anakanak adalah sang penari bumi paling riang
Mewariskan nama ayah dalam harapan selalu hidup
Dan bangkit
Namun saat ia terbangun di suatu pagi
Mendapati kekasihkekasihnya telah pergi
Beberapa kawan telah pulang ke surga
Dan kita dua sosok amorfati
Menjejali kedai
Menjalani ritus kopi
Sembari menikmati sore
Menunggu mati yang biru itu cemburu
O hai… seniman itu Lazarus
Seseorang yang tak mempertanyakan hakekat hidup dan mati
Menjalani saja
Mencintai saja
semacam kunangkunang di tengah malam
Mengindahkan dunia dengan caranya yang sepi
—Dan bukangkah pabila Tuhan mengirim sinar terindahnya
ke seluruh kota
Maka makin tampaklah sekian banyak kebohongan
Membentuk replika hubungan social semu—
Begitu andaikata aku memulai khotbahku
Pada sore diwarnai wajah putus asa
Karena di tengah hidup tanpa waktu luang ini
Apa lebih jenaka dari mati yang selalu cemburu
yang menuntunmu ke tempat lebih bahagia

Di utara
Uap air mulai mengambang
Lalu hujan
Hewan dan tumbuhan
Mengajari kita rasa hormat kepada alam
Untuk melakukan perjalanan ke pegunungan nan indah
Tertegun
Selagi kita di balik pepohonan
Dan bukan kebetulan pabila engkau datang ke zona intertidal
Merasakan pasang naik atau pasang surut
Saat matahari bercerita
Dan rerumput mendesah
Aku mencintai saja segala yang datang dan pergi
Karena aku tak bisa sembunyi dari diriku sendiri
Bagiku puisi harus mampu memberi harapan
dan harus bisa membangun impian
apakah kau mendengar doaku?
Sejauh mana aku pergi
Sejauh mana aku terbang
Saat berjalan di tepi pantai
Di sebuah belahan dunia
Aku selalu punya kebahagiaan untuk kukalimatkan:
—sebuah cinta, sebuah kehidupan
Karena lautlah yang mengajariku
Bertarung, bertahan dan meraih kemenangan
Seperti siput, musuh utama kehidupan adalah keterbatasan–
Matahari itu bukan sesuatu yang angkuh, ucapmu
Seperti para buruh jalanan bukankah kita juga amorfati
Yang menyadari kekuasaan sebesar apapun
Tak menjamin engkau mati dengan tersenyum
Dan sejak itulah burung kecil itu bersiul
Untuk kematian yang elok
O… kematian yang elok
Tanpa menelpon atau bersenda gurau
Kau datang dengan pelukan paling airmata
Tapi siapa ragu padamu
Bukankah dari mulanya pula
kehidupan tanpa ujung pangkal
tanpa waktu luang untuk bersejenak
mendengar suara mulut sungai
dan keluh kesah kota yang terus berubah
menjadi kamarkamar serigala
Entah apa yang engkau suarakan
Dalam kekuatan sekaligus ketakutan engkau sembunyikan
Aku mencintai saja
Bahkan siasia membantah
Ketika tubuh tak lebih kuil bagi jiwa belajar dewasa
Mengartikan kedermawanan malam
Melatih sunyi dan kegelapan bagi segala yang fana
Dan kadangkala aku mendengar suara masa kanakkanak
Barangkali itu sebuah mahakarya
sebuah pengulangan cahaya
agar sesungguhnya cinta tak pernah menjadi samar
dalam diri setiap manusia
Bahkan tanah kau sebut rumah bagiku adalah kecupan
Apakah kau tahu malam adalah sesuatu yang mudah tersayat
Seorang penyair yang baik
harusnya merasakan puisi berjalan dalam hatinya
Dan mendegar setiap kata mengucapkan maknanya
Seperti arloji yang menipu gerak waktu
dengan mengulang angka yang telah berlalu
Harusnya segala yang ada dalam hidup ini tak begitu rapuh
Dan kita adalah perahu
Pelintas yang tak menceritakan apapun
Hingga retak dan membusuk di kedai
Di pinggir kali
Biarlah sejarah yang menulis semua perjalanan
Dan puisi mengungkap makna di balik peluh
atau air mata saat tergugu
Tapi semua orang sebaiknya baikbaik saja

Barta1.Com
Tags: Eric MF Dajohiverdixon tinungki
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Hari Terakhir Pendaftaran: CEP-SSL Muncul Sore, VAP-HR Belum Terlihat

Hari Terakhir Pendaftaran: CEP-SSL Muncul Sore, VAP-HR Belum Terlihat

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Polisi Tangani Kasus Dugaan Pemalakan dan Penganiayaan terhadap Pelajar di Bitung 20 April 2026
  • Hengky Honandar : Manajemen ASN Fondasi Utama dalam Mewujudkan Birokrasi yang Profesional 20 April 2026
  • Wabup Sangihe Buka TKA SD 2026, Tekankan Kejujuran dan Kesiapan Infrastruktur 20 April 2026
  • Hengky-Randito Dampingi Dirjen Pendidikan Tinjau Pelaksanaan TKA di SDN Impres 6/84 Madidir 20 April 2026
  • Jalan Berlubang di Sulut: Keluhan Warga Menggema, Respons Diharapkan Nyata 20 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In