Amadea!
Aku meringkuk seperti orang mati
Tapi aku selalu dibangunkan ke dalam ruang kosong ini
Hanya itu hal berharga yang kupunya
Para penindas melewati pintu
Dan aku dilontarkan kembali karena kepelikan
Aku harus datang memberitahu siapa diri mereka
Hingga mereka punya cerita untuk dikisahkan pada malam hari
Kepada anak-anaknya
Agar bertemu kehidupan yang mereka impikan
Tahukah kamu Amadea
Seperti juga menarik pelatuk
Ada beberapa tangan tak disiapkan untuk menulis
Aku ingin berdiri di sini, Amadea
Dan berteriak sekeraskerasnya, sebab:
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Kota adalah ibu tak bernyawa
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Negara adalah tempat ibu tergeletak
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Kekuasaan adalah makam ibu yang kesepian
Wujud
kematian
abadi
dari sebuah akal sehat
Aku ingin berdiri di sini
Dan berteriak sekeraskerasnya, atau:
aku harus diam terpaku
Membiarkan katakataku tenggelam ke dasar bisu
Menukar khayalanku
Tidurtiduran di atas sofa kenyamanan
Memplototi tontonan sebuah bangsa sedang runtuh
di atas bahu para pemimpin tengik itu
lantas gusar seperti anjing dirantai di tengah hura hara
sekadar menggonggong dan memekik
di tengah gempuran virion, retorika dan dusta
dari sebuah akal sehat yang hampa
Tidak!
Aku harus berdiri di sini
Dan berteriak sekeraskerasnya karena:
Kebijaksanaan paling tua
Adalah catatan lepas
Tak berayah ibu
Kesempurnaan adalah api
Kecerdasan adalah air
Duka cita adalah tanah
Kehidupan adalah kemungkinan
Dari menjadi
tak menjadi
dan entah
andaikata lembing tertancap
adalah benih luka tua
tak terhindarkan
andaikata matahari akan berhenti
dan bulan turun padam
akulah tanah yang bernyanyi
Karena benih itu telah kembali
Untuk mengulang segala
Telah ia bawah pergi
Aku Lazarus
Aku tak mau meminjam katakata orang ketiga
Untuk menyenangkanmu
Membuat engkau yakin
Aku tak mau dipaksa mimiliki akar
pada bukubuku panduan
Pada filsafat, pada etika
Sementara sejak aku lahir
hingga berdiri di sini
Aku tak kekurangan katakataku sendiri
Seperti jerit ngiau kucing liar
Mendermakan cinta kepada kekasihnya di malam hari
Baca juga: Sajak-sajak Kontemplasi (1): Surat Lazarus Buat Alice
—Lazarus, seseorang yang disebut Pizarnik sebagai sosok
yang melintas sendiri
dalam suatu gelombang El Bosco
di mana ada banyak pasangan telanjang
berbaring dalam dunia yang begitu halus
yang hanya karena keajaiban
sehingga tidak memecah di setiap saat—
Saat manusia dibangkitkan dalam kesadarannya
Bahwa harta dan kekuasaan tak memuaskan
Ketenaran dan puncak karir tak lebih ilusi dangkal
Apalagi yang menarik di dunia ini selain cinta?
dan saat aku berdiri di sini
di hadapan kekasihku
harusnya aku menyeringai menunjukan keliaranku
dan…
“sejujurnya aku ingin bercinta denganmu Amadea”
Tak akan kubiarkan seseorang merampas ini dariku
Karena aku tokoh dalam hidupku
Bukan sosok dibentuk dari selsel pikiran orang ketiga
Yang tak kukenal
Yang asing
Yang selalu dipaksakan membentuk diriku
Aku ingin berdiri di sini
Dan berteriak sekeraskerasnya
Aku Lazarus!
Aku tumbuh dari remahremah kematian sejarah
Fiksi dan berhalaberhala ilmu bahkan agama
Aku Lazarus yang mencintaimu Amadea
Mencintaimu dengan semacam kesombongan biadab
Namun senilai kejujuran paling tulus
Di masarang 81, di bawah cabang kudus
Oleh karena keheningannya
Aku ingin mencumbumu
—Dalam sebuah revolusi,
orang pertama yang harus dibunuh adalah penyair
Karena mereka yang menajamkan kata melebihi peluru—
Bermingguminggu di udara pongah
Di kota kelabu dihuni pemimpinpemimpin tengik
Kaum yang mengira harta dan kekuasaan
adalah sumber kehormatan harus direbut sepanjang hidup
Aku telah dibangkitkan
Persis di tepian hukum alam
Di ruangruang dipenuhi kepanikan massal
Di mana segala yang tak diucap
Terus mengulang
Yang tak dipikir
Datang pergi
Dari retak ke retak
Tertunduk masygul tanpa harapan
Oleh karena tujuan hidup telah menjadi dangkal
Dan malam mendesis bagai ular
Imaji matang menjelma sepasang tangan
Bergandengan dan bersamasama saling meraih
Dan pagi membersit dalam pemandangan aneh
Lebih indah, dan terus menghadirkan indah
benarbenar indah
Bahkan sekadar untuk setegukan kopi
Lalu kita bersepakat menyukai hujan
Dalam sebuah pertukaran air mata
Saat saling menyeret tubuh kita masingmasing
penuh hasrat, saling memuaskan
—Aku bingung dan bertanya-tanya
mengapa Tuhan menciptakan penyair dengan nasib seburuk ini
Seseorang yang melewati jam malam dengan kesepian
seakan berjalan ke jalur kematian,
lalu lenyap sepenuhnya
Saat ia mulai menulis, ia menjadi seseorang yang tiada
tak nyata.
Penyair itu Lazarus. Dia ini Lazarus. Kamu Lazarus.
Kita semua lahir dari sepasang birahi yang aneh
Lalu hidup. Lalu mati
Hidup dan kembali mati—
Amadea
Amadea
Ini malam kau bergaun merah
Dan aku berdiri di sini
Ketika Tuhan yang anggun itu
Berkatakata lewat secuil surga
“jagalah cinta jangan sampai renta”
Hujan pun merintik
Barangkali untuk sekutum bunga yang baru merekah
Aku tak bisa mengangkat bahu
membusungkan dada
pada senyuman mawar
Kecantikan itu dunia berbisik
Katakata tak diucapkan
Namun menjulurkan lidah
Sungguh dahaga sudah di pucuk dada
terus meledak
menghancurkan faktafakta buruk di kepala
menghalangiku mengutarakan kebaikan
karena hidup tak sekadar bayangan berlalu begitu saja
Aku ingin mengecup kecantikan Amadea
seni yang ditempa surga
sebelum Alighieri dan Piero da Vinci
menyembah jalan tengah lembut
saat cinta dan hati telah berpisah
akal dan logika saling menghunuskan pedangnya
Aku ingin mengecup kecantikan Amadea
Dengan segala puisi mengalir di matanya
Yang membuat langit menjadi lembab
Sebab tahukah anda
pabila ada seseorang jatuh cinta pertama kali
maka hujan akan turun
dan ringkik kuda akan menyelusupkan birahi
ke jantungjantung serangga
hingga fajar mekar di pelupuk mata
dan semua putik bunga akan meminta sentuhan perkawinan
dalam semacam kata yang ingin kuteriakan di sini
saat berdiri di sini
Aku memandangmu dengan jiwa seorang manusia
Di tengah abad ketika peradaban bagai akar
menyerap tetes demi tetes hujan
Untuk kebahagiaan pucukpucuk ranting
Yang mengikhlaskan seluruh getahnya menjadi bunga
Menjadi buah lalu rentah, patah
Dan sepanjang hidup aku belajar cakap mendengarmu
Amadea
di usia setua ini terasa klise mencium bibirmu
Bahkan Tuhan menggambar pada dinding
dua ekor burung berwarna suram
menyusuri takdir di garisgaris retak
dan engkau terbangun di atas kasur berwarna abu
berselonjor seperti cacing ke liang hitam yang lain
Aku ingin berdiri di sini
Dan berteriak sekeraskerasnya: Wahai…
Engkau yang pernah bertemu waktu
Dan mengalahkannya
Saat dentangnya menangis
Kau persembahkan jantungmu
Tapi siapa yang bisa bersahabat dengan waktu
Di mana tempat menyenangkan itu
Selain pada ciumanmu Amadea, sebab:
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Kota adalah ibu tak bernyawa
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Negara adalah tempat ibu tergeletak
Tanpa kaki menapak
Tanpa jiwa mendetak
Kekuasaan adalah makam ibu yang kesepian
“Hari itu begitu terik
Amadea adalah sebuah tarian bayang perempuan di atas panggung
Seakan sebuah drama berlangsung di tempat serba dimensi
Ada sebuah sumur imaji
Lampu-lampu mengantung di berbagai sisi
Tempat itu seperti mengambang
Saat Amadea bernyanyi
Ada gemuruh suara orang-orang bersedih
memanggil Lazarus dari dalam sumur
Sang Pemburu mengarahkan senjatanya ke Lazarus lalu menembak
Lazarus terkulai
Lampu mendadak padam”
Ya Allah, mengapa engkau tinggalkan aku!
“Saat lampu kembali menyala
Lazarus tampak tengah terbaring lelap di pangkuan Amadea
di dekat Sumur Imaji”
—Apa yang dapat dilakukan penyair
selain menguap, begitu saja
Tak ada yang akan datang mengetuk pintu kesepiannya
sebentuk hidup tak pernah menjadi nyata
sosok tak memiliki tanah benarbenar tanah
daratan benarbenar daratan. Selain bayangan suram
berulangulang memberi nyawa pada kata
sebagai perjuangan suci ditakdirkan untuknya
Bahkan untuk cinta tak pernah memeluknya—


Discussion about this post