Oleh: Iverdixon Tinungki
“Burung kecil ini akan bernyanyi selamanya
di Taman Surga,” kata Tuhan dalam The Happy Prince.
Menulis Leonardo Axsel Galatang, setidaknya ada dua hal yang wajib kubayangkan: pertama, sebuah rumah sakit jiwa Maison de Sante dari Edgar Allan Poe, dimana seseorang bisa merasa menjadi apa saja. Kedua, Pangeran Bahagia dan burung Layang-layang yang menemukan surga dalam “The Happy Prince” Oscar Wilde.
Dan percayakah kalian bahwa kebaikan akan selalu jadi pemenang? Setelah membaca Wilde, saya terinspirasi menulis puisi berikut ini:
MEMBACA THE HAPPY PRINCE WILDE
— Untuk Axsel sahabatku
–pernahkah kalian melihat malaikat?
tanya Wilde dalam The Happy Prince
sejujurnya aku ingin menjawab:
–di sini aku lebih banyak bertemu orang gila dari Edgar
namun baiklah! aku harus mengaku:
aku termasuk orang gila yang berbahagia!
karena aku hidup di zaman ini
hidup di luar kekuasaan
dimana kesedihan diizinkan
aku berdiri di penghujung angkatan empat lima
dan awal angkatan enamenam
bau mesiu bertengger di ujung hidungku
namun kemerdekaan masih cerita piatu
tetapi, aku dibahagiakan Tuhan
dengan dua bola mata sebegitu gila
dan sebuah hati yang lembut,
merasakan hidup itu keajaiban
di usia tua ini, bayangkan!
aku bisa melihat burung layanglayang
burung layanglayang yang membawa pesan Tuhan
untuk puisiku. ya untuk puisiku
puisi yang mensyukuri setiap catatan tumbuh di bumi
seperti anak kecil yang percaya ada malaikat dalam mimpinya
dan mereka bahagia!
aku melihat burungburung gelatik meriangi hari
dari ranting ke ranting mereka bernyanyi
dan burungburung perantau mampir memperagakan
semangat hidup itu jangan sampai padam
karena kesedihan,
karena ketiadaan
aku melihat segala yang muram dari warna kehidupan
kaum pinggir yang percaya ada malaikat dan Tuhan
di sinilah aku dan puisiku tumbuh dalam perumpamaan
–lima ketul roti dan dua ikan
dan di sebuah padang sampah dalam catatan Tohari
aku dijerang airmata dari tawa gadis kecil bernama Carmi
ya Carmi yang tak sekadar ilusi
Carmi yang terpapar matahari di jalan sepi hari ini
Carmi yang tak pernah merasakan pesta raya bangsanya sendiri
meski tak ada jalan membawanya pulang ke rumah
ia sungguh bahagia
bahagia bertemu sepatu kiri yang dicarinya
inilah kebahagiaan yang luput dikisahkan
simbolsimbol kekuatan cinta
dalam rupa malaikat terpacak kaku
sebagai patung di menaramenara kekuasaan
yang lebih gila dari yang bisa kubayangkan
Di suatu sore, saat matahari masih terik, di tahun 1981, di bilangan jalan Sam Ratulangi, Manado, di antara lapar dan haus yang terkadang membuat limbung, saya pertama kali bertemu Leonardo Axsel Galatang. Kami bersua tepatnya di kantor Koran Harian Obor Pancasila saat mengambil honor dari puisi-puisi kami yang diterbitkan koran tersebut, lalu beranjak ke rumah es Rivera di Shopping Centre yang terletak di pusat kota.
Sebagai pelajar SMA, ketika itu, ia sosok lelaki belasan tahun dengan ekspresi yang lebih matang ketimbang usianya yang remaja. Rambutnya ikal, tubuhnya kering dan cada, namun senyumannya lugu dan surga. Dan barangkali, ia juga belum punya pengalaman sepotong pun tentang berciuman dengan seorang gadis –saya pun demikian—karena kami hidup di era ketika tata krama masih sangat lekat terjaga, dan kesenian dipandang sebagai musuh penguasa.
Baca juga: Leonardo Axsel Galatang dan 37 Tahun Sanggar Seni Tangkasi: Sebuah Catatan (1)
Sejak SMA, saya dan Axel memang gemar mengirimkan puisi dan cerpen kami ke berbagai media massa yang terbit di Manado. Dari aktivitas bersastra itulah kami sering mendapatkan segepok uang honorarium, seperti yang kami jemput hari itu sebagai karunia yang patut dinikmati dengan kebanggan lebih.
Sebagaimana Oscar Wilde, menutup cerpennya “The Happy Prince” dengan epilog paling mengguncang, siapa menyangka, menjelang 40 tahun kemudian Axsel menjelma raksasa susastra dan drama di kota Bitung, yang merupakan tempat tinggalnya sejak kecil. Sanggar Seni Tangkasi yang dibinanya, yang disebutnya sebagai sekolah peradaban berhasil menuntun ribuan generasi berikut ke puncak-puncak sukses.
Di Hamburg, Jerman, Marsel Rakinaung, seorang anak binaannya kini menjadi ahli di bidang konstruksi pesawat terbang dengan gelar Doktor yang menjadi tenaga ahli dalam industri pesawat terbang Boeing Commercial Airplanes. Juga ada DR Rizal. Marcos Lumombo (sekarang akademisi) dan DR Fitri Mamonto.
Tangkasi juga berhasil mengantar 1000 lebih anak-anak binaannya menyandang S1, S2 sebanyak 107 orang, dokter 27 orang, pengusaha sukses kurang lebih 60 orang baik di Bitung (Sulut) maumpun di luar daerah, TNI – Polri kurang lebih 100 orang, ASN lebih dari 1000 orang dan pendeta 42 orang.
Siapa sejatinya Axsel? Siapa sejatinya ia yang kubayang sebagai seorang lelaki yang percaya bahwa dirinya sebuah gasing sebagaimana tokoh yang digambarkan Edgar Allan Poe dalam karyanya tentang sebuah rumah sakit jiwa Maison de Sante?
Ia Lahir di Bitung, 27 Maret 1963. Pendidikan terakhir Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Merdeka Manado. Bekerja sebagai wartawan di Harian Manado Post hingga pensiun. Mulai menulis puisi sejak di bangku SMP. Saat di bangku SMA Negeri Bitung (1980 -1983), puisi-puisinya, menghiasi Majalah Dinding sekolah, dan berbagai media cetak.
Selain aktif menulis puisi, Axsel juga menulis naskah drama, Cerpen dan Esei. Ratusan puisi dan seratusan naskah drama telah ditulisnya.
Tahun 1983 Axsel mendirikan Teater Repsas. Namun grup teater yang didirikannya ini hanya berumur setahun. Setelah menggelar dua kali pementasan musikalisasi puisi, Axsel ditangkap aparat Orde Baru dengan dalih pementasannya tak berizin dan puisinya dianggap ‘menghasut’ dan ‘merongrong’ penguasa. Lepas dari tahanan aparat, Axsel mengganti nama sanggar teaternya menjadi Sanggar Tangkasi sampai sekarang.
Bersama Tangkasi Axsel produktif menggelar pembacaan Puisi dan pementasan Teater. Tahun 1986 Axsel lagi-lagi ditangkap karena menggelar pementasan tanpa izin di Balai Pertemuan Umum Bitung. Kali ini ia bukan sekadar diinterogasi, tetapi ‘’dibina’’ hingga babak belur. Bahkan dalam kondisi sekarat ia dibuang ke bak penampungan air hujan dan disuruh ‘menghabiskan satu balok sabun cap tangan.
Ayahnya dan ibunya dijemput paksa dan diinterogasi selama dua hari. Ratusan puisi dan teks drama karyanya disita dan dibakar. Beruntung, ada seorang tokoh pendidikan: Jacob Hendrik Bororing, yang berani pasang badan sehingga Axsel dan orang tuanya dilepaskan dari tahanan.
Akibat ‘’pembinaan’’ ala aparat tersebut, Axsel mengalami cacat permanen: betis kanannya harus disambung dengan platina dan dia menjadi gagap karena sarafnya terganggu.
Kapok? Tidak. Karena, sejak peristiwa tragis itu, semangatnya makin membara. Apalagi, ketika rezim Orde Baru ‘’tumbang’’, Axsel dan Tangkasinya makin produktif menggelar pementasan drama dan pembacaan puisi. Bahkan, sejak 2001, Tangkasi telah melebarkan ‘sayap’’nya dengan mendirikan Sanggar binaan di seluruh SMP dan SMA/SMK di kota Bitung. Tiap tahun, sanggar binaan itu ‘diadu’ lewat panggung Festival Kesenian Tangkasi. Sanggar Tangkasi kini memiliki ribuan anggota. Axsel sendiri dibaptis anak- anak binaanya jadi Presiden Tangkasi Kota Bitung.
Sejak 1989, Axsel berteriak menuntut pemerintah kotanya membangun gedung kesenian. Pemerintah akhirnya mendengar teriakan pengagum Gabriel Garcia Marquez dan Nelson Mandela ini. Kini, gedung kesenian berbanderol 23 miliar berdiri anggun di Bitung. Masyarakat, pemerintah dan DPRD Kota Bitung berniat ‘’mematenkan’’ nama Leonardo Axsel Galatang sebagai nama resmi Gedung Kesenian itu. Tapi, dia tegas menolaknya. “Saya bukan pahlawan. Saya hanya budak kesenian yang menjalankan tugas sebagai murid abdi kehidupan.’’
Karya-karyanya yang telah diterbitkan: Riak Utara, Antologi Puisi 1987 diterbitkan Pusat Pengabdian Pada Masyarakat IKIP Negeri Manado. Enam Penyair Sasambo, Antologi Puisi 1991 diterbitkan Forum Komunikasi Seni Budaya Sangihe Talaud. Nyanyian Dari Tingkungan, Kumpulan Drama 2007 diterbitkanSanggar Tangkasi Bitung. Dendang Bocah Gelombang, Kumpulan Drama 2013 diterbitkan Yayasan Istitut Seni Budaya Sulawesi Utara. Selendang Sutra Jingga, Kumpulan Drama 2017 diterbitkanYayasan Serat Manado dan Balai pelestarian Nilai Budaya Manado. Album Musikalisasi Puisi: Lagu Patriotisme 2016, Tangkasi Project. Album Musikalisasi Puisi: Episode Cinta 2017,Tangkasi Project. Ia juga penerima sejumlah penghargaan dari berbagai lembaga dan pemerintah Indonesia.
Menutup tulisanku yang agak cerewet dan lebay ini, baiklah kepadamu sahabatku Axsel, dan ribuan anak binaan Sanggar Seni Tangkasi di manapun berada kupersembahkan puisi ini untuk perayaan HUT ke 37 tahun pada 23 Juli 2020:
SESEORANG YANG BERJALAN DIBAWA KESUNYIAN
–Kado HUT ke 53 sastrawan Leodardo Axel Galatang
beruntung kita yang punya masa kecil. tanah lapang,
semaksemak, dan bedil bambu yang menyalak dengan
bunyinya yang lucu. dengan itu kita melucuti kesunyian.
meledakkannya di pinggir batu. di jalanjalan setapak
yang dipenuhi kotoran babi. beruntung kita punya ayah
dan menyandang kebanggaan mereka, sisasisa peperangan
masih panas di tangannya. beruntung kita bisa
memikul margamarga mereka yang luhur di bawah tiang
bendera suci kemerdekaan. ya! beruntung kita yang
diwariskan semua kesunyian itu, kesunyian yang tak bisa
kita ledakan dengan bedilbedil bambu, kesunyian yang
membawa kita berjalanjalan ke abadabad maju, ke waktu
ketika kesunyian lebih baja dari batu
tapi kita tersenyum di bibir pantai karena elangelang laut
itu terus mengekalkan kesunyian sebagai hiburan pada
harihari saat sepasang tangan kita bergerak menulis katakata
yang dirayakan kesunyian, katakata yang dimerdekakan oleh
kesunyian ke atas lapaklapak tuak, ke atas warungwarung
kopi, ke atas kuekue waji yang menemani para peraya
dongeng kesunyian
di bandar terasa sekali keperihan keringatkeringat yang
meleleh. yang disaput ombak samudera. yang pecah
yang retak yang pergi dan yang datang semua bertemu
jawaban bahwa kita adalah buruhburuh yang tergopogopo
memanggul beban kesunyian itu. bahkan pada deru mesin
pabrikpabrik, gudanggudang barang, kesunyian bagai
logam yang berdencingdencing dalam satire yang kita
tuliskan sebagai babakbabak drama, baitbait puisi, jeketjeket
yang kita kenakan menyembunyikan wujudwujut murung
kertaskertas kerja yang mubasir di ladangladang,
di sawahsawah, di sekolahsekolah, di kantor atau jawatan
atau pada kecerewetan lilin yang terpasang saat ulang tahun
sungguh kita beruntung lahir dan tumbuh dalam lenguhan
kesunyian. karena kita paling beruntung menyaksikan negara
ini dari waktu yang sangat dekat dengan awal, dan kita adalah
manusiamanusia yang punya pahlawan yang kita arak dalam
hati dengan penuh kehormatan. dan kita adalah
manusiamanusia yang ikut menyaksikan generasi baru telah
lahir dan menciptakan pahlawanpahlawan mereka sendiri,
kesunyiankesunyian mereka sendiri. (***)



Discussion about this post