• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, April 21, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Fokus

Suara dari Ruang Isolasi: Kalian Tunggu Kami Mati di Situ…

by Ady Putong
6 Juli 2020
in Fokus, Lipsus
0
Sejumlah pasien mendapat perawatan dalam tenda di samping Rumah Sakit Manado Medical Center. (foto Albert/Barta1)

Sejumlah pasien mendapat perawatan dalam tenda di samping Rumah Sakit Manado Medical Center. (foto Albert/Barta1)

0
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Barta1.com telah mewawancarai dua pasien dan satu anak pasien yang kini tengah dirawat di Rumah Sakit (RS) Manado Medical Center (MMC) Paal 2, Kecamatan Tikala pada Minggu (06/07/2020). Dua pasien yang dinyatakan pihak rumah sakit berstatus pasien dalam pemantauan atau PDP, mengaku tengah berada dalam ruang isolasi dan mengalami hal yang merugikan, termasuk pelayanan yang terkesan tidak manusiawi. Berikut testimoni mereka.

Pasien pertama, seorang perempuan berumur 30-an, menyatakan dirinya lewat panggilan suara pada jurnalis Barta1, Albert Piterhein Nalang, telah 4 hari nginap dalam ruang isolasi RS MCM. Saat pertama kali opname, dia mengeluhkan rasa nyeri di perut. Pihak rumah sakit melakukan prosedur tes darah, yang dikiranya adalah standar pemeriksaan terhadap sakit yang dia derita. Ternyata yang dilakukan perawat merupakan standar protap penanganan pasien di era pandemi. Pasien mengaku tak diberi informasi akan menjalani rapid test.

“Hasilnya reaktif, saya diminta menetap di ruang isolasi. Mereka memperlihatkan kertas hasil tes itu tetapi menerangkannya sangat cepat. Setahu saya darah merahnya bagus dan darah putih ada sedikit infeksi, selebihnya dari itu saya tak mengerti karena kan awam,” kata dia.

Maka pasien tanpa gejala batuk ini menginap di ruang isolasi RS MCM. Dia mengaku sudah 3 bulan terakhir tidak banyak berbaur secara umum. Aktivitas yang dilakukan secara terbatas hanyalah bekerja dan berbelanja. Selama 4 hari dirawat, pihak rumah sakit memberinya obat 2 kali sehari, pagi dan malam, sementaranya infusnya sudah dicabut. Pasien tak pernah meminta informasi, atau pun diberi informasi, mengenai obat yang dia konsumsi. Yang pasti dirinya mengaku nyeri di perutnya masih terasa.

“Artinya kalau itu obat untuk mengurangi rasa nyeri kan harusnya saya sudah mendingan tapi hingga kemarin malam sakitnya masih saya alami. Sepertinya tidak ada upaya untuk penanganan penyakit yang saya derita ini misanya periksa darah. Dokter yang datang pun hanya sekali, selebihnya yang ada perawat,” ujarnya.

“Jadi saya merasa tidak ada penanggulangan untuk penyakit saya dan membuat saya berpikir kalian tunggu kami mati di situ, torang pe mati ngoni langsung cair dengan corona kong torang mati karena corona,” katanya lagi.

Alasan lain dia menyatakan itu karena makanan dari rumah sakit yang mereka konsumsi 3 kali sehari. Pasien mengaku sering mendapat nasi yang sulit dikonsumsi karena keras. Lauknya pun hanya abon ikan setiap hari, dengan sayur sawi hijau dan pepaya. Mereka juga diberi bubur.

“Kalaupun ada bubur kondisinya sama seperti nasi,” kata pasien.

Pasien mengaku dalam ruang perawatannya ada beberapa pasien lain yang rata-rata sudah lanjut usia. Dia menceritakan nasib salah satu pasien perempuan lansia di ruang perawatan itu menderita sakit lambung dan tidak bisa makan, tapi infusnya sudah dicabut oleh pihak rumah sakit.

“Oma itu seperti mengurus diri sendiri, dia bilang lebih baik dirawat saja di rumah dari pada di sini, dia berniat keluar dari rumah sakit ini, kalau pun tak diizinkan dia akan lari saja. Infusnya sudah dicabut padahal dia muntah-muntah tak bisa makan, mau dapat kekuatan dari mana kalau tidak dikasih infus,” jelas pasien.

“Saya datang dengan sakit lain jadi tidak merasa berstatus PDP. Dalam 1 hari itu semua pasien yang datang itu reaktif, semua dibikin reaktif. Bayangkan dana-dana BPJS itu (dari pendaftaran pasien) mereka ‘makan’,” kata pasien lagi.

Ada Ratusan PDP
Pasien kedua, lelaki yang sudah hampir sebulan dirawat dalam ruang isolai RS MMC. Dalam rentang yang relatif panjang itu dia mengaku setidaknya sudah ratusan pasien PDP yang diisolasi di rumah sakit tersebut. Sedangkan yang diisolasi dalam ruang tersendiri karena dinyatakan positif juga termasuk banyak.

Lelaki ini datang ke rumah sakit ditemani istrinya dengan keluhan kencing darah. Saat mendapat perawatan pertama dia langsung dipasangi infus dan sampel darahnya diambil. Sekitar 15 menit dokter datang dan menjelaskan pada istrinya bahwa dia reaktif. Dokter menyatakan ada virus dalam darahnya dan itu sudah berlangsung sekitar 2 minggu sehingga pasien langsung diminta harus masuk ruang isolasi.

“Saya tolak isolasi di situ, saya minta mandiri saja di rumah karena kan baru reaktif dan itu dimungkinkan karena memang ada rasa nyeri akibat penyakit saya,” ujar pasien.

Tetapi pihak rumah sakit tak mengizinkan permintaan pasien. Ketika dia bersikeras hendak pulang, rumah sakit menyatakan dirinya akan ditangani aparat dan pihak gugus tugas penanggulangan Covid-19. Akhirnya pasien mengalah untuk masuk ke isolasi. Apalagi pihak rumah sakit memberi tahu bahwa masa karantina itu hanya akan dijalaninya selama 14 hari saja. Ternyata karantina berlangsung lebih dari 2 minggu dan sudah berjalan 1 bulan.

Pada 17 Juni 2020 sekitar pukul 14.00 pasien menjalani pemeriksaan SWAB pertama. Namun kendati pasien sudah meminta, pihak rumah sakit tak memberi tahu hasil tes tersebut. Sembilan hari kemudian atau pada malam 26 Juni 2020, pasien diminta melakukan SWAB kedua. Kali ini dia menolak.

“Kasih tahu dulu hasil tes pertama baru lakukan tes kedua, saat itu saya diancam kalau tak mau melakukan tes kedua saya akan dipersulit dan terpaksa saya turuti, tapi yang berbeda waktu tes kedua saya diminta menandatangani dokumen sedangkan tes pertama tidak ada tanda tangan begitu,” jelas pasien lagi.

Rumah Sakit Manado Medical Center di Paal 2. (foto: Albert/Barta1)

Tiba-tiba Reaktif
Elsye Tang membawa ibunya berusia 65 tahun ke RS MMC pada Jumat (03/07/2020) sekitar pukul 23.00 Wita. Sebelumnya sang ibu mengeluhkan sakit pada lambung dan dibawa ke RS Advent Teling —fasilitas kesehatan yang biasanya merawat dia saat harus cuci darah. Di rumah sakit Advent, protap standar penanganan Covid-19 sudah dilakukan, yaitu rapid tes dan hasilnya non reaktif. Berhubung tak ada kamar untuk mendapat perawatan, Elsye membawa ibunya ke fasilitas kesehatan Siloam Paal 2. Di lokasi itu juga ditolak karena pengelola menyatakan ibu bukan pasien Covid-19. Akhirnya RS MMC jadi tujuan akhir.

“Di rumah sakit ini saya langsung daftar ke kamar kelas 1, waktu diterima bagus dan langsung dikasih kartu jaga, tak perlu rapid lagi karena kan sudah di (RS) Advent,” kata Elsye dalam wawancara via ponsel.

Ibunya tak dibawa ke dalam kamar yang dipesan, justru dibawa dengan kursi roda ke tenda di samping bangunan rumah sakit. Di situ juga ada beberapa pasien yang dirawat. Saat menunggu, pihak rumah sakit datang mengambil sampel darah. Saat ditanya, lanjut Elsey, perawat mengatakan bukan untuk tes rapid atau tes sejenins lainnya tapi untuk memeriksa HB pasien. Malam itu ibunda Elsye Tang tak mendapat perawatan dalam kamar. Semalam suntuk dia hanya dirawat dalam tenda tersebut. Elsye mulai berang. Apalagi ketika pada pagi harinya dokter datang menjelaskan kondisi sang ibu kepada dirinya.

“Dokter panggil saya bicara di samping rumah sakit, bukan dalam ruangan, mereka bilang hasil tes darah ibu saya ada reaktifnya, saya kan jadi heran karena tadi malam katanya tidak perlu diperiksa sebab kami bawa hasil dari RS Advent hasilnya non reaktif. Kata dia, tidak bisa karena memang prosedur rumah sakit sudah harus begitu. Jadi darah itu akan di-SWAB dan hasilnya keluar lagi sekitar 2-3 minggu. Kendati pun hasil SWAB negatif tetap akan ditahan hingga 30 hari. Saya tanya apa memang begitu prosedurnya?” jelas Elsye.

Elsye mengaku saat datang dia melihat ada beberapa pasien yang juga dinyatakan reaktif. Salah satunya seorang ibu yang menjalani proses melahirkan, juga reaktif. Anaknya bisa dibawa pulang tapi ibunya tetap ditahan di rumah sakit tersebut. Elsye sendiri tak terima ibunya harus menjalani perawatan panjang mengaku telah mengontak wakil walikota Manado dan beberapa dokter kenalannya untuk dimintai pertolongan.

“Dokter yang datang menemui saya menyatakan hal itu, katanya dia sudah ditelepon pak Mor Bastiaan, dari orang-orang yang saya hubungi baru saya tahu dokter yang bicara ke saya itu adalah pemilik rumah sakit,” ujar dirinya. “Namanya Dokter Ronald,” tambah dia.

Karena sudah emosi meminta ibunya dipindahkan ke kamar, dokter itu lantas meminta cleaning service rumah sakit membersihkan kafetaria agar sang ibu bisa ditempatkan di situ, mendapat perawatan. Tapi Elsye kian kecewa karena ruangan itu tak dilengkapi penyejuk udara, kipas angin hingga fasilitas air bersih. Dia menjelaskan pada Selasa (07/07/2020) ibunya akan menjalani pengobatan cuci darah di RS Advent. Pihak rumah sakit itu akunya, tetap menerima karena mengetahui ibunya non reaktif.

“Setiap kali cuci darah per 7 hari pun tetap dites dan hasilnya non reaktif, kenapa di sini jadi reaktif? jadi saya minta saat cuci darah kalau rumah sakit ini tak mau rujuk berarti harus bayar 3 juta lebih, kalau tak mau bayar berarti harus izinkan kami keluar,” kata dia lagi.

Jawaban Pihak Rumah Sakit
Senin (06/07/2020) dr Ronald Ciakareng selaku pengelola RS MCM menerima permintaan konfirmasi Barta1. Dia menerangkan prosedur penanganan pasien berstatus PDP mengacu pada protokol kesehatan. Dia mencontohkan prosedur yang dijalankan di bandar udara, penumpang dan calon penumpang menjalani rapid tes. Bahkan untuk yang bepergian ke luar negeri harus menjalani SWAB. Rumah Sakit sendiri adalah lokasi paling utama menjalankan protap dimaksud.

“Ini semua karena kita berada di era pandemi dan mewajibkan kami melakukan screening terhadap setiap orang,” katanya.

Pandemi Covid-19 membuat pengelola RS MMC beradaptasi. Pihak rumah sakit memilah pelayanan pada dua bagian besar; dalam ruangan UGD Infeksi dan UGD non infeksi. Sebelumnya juga menurut dia memang sudah seperti itu, tetapi pandemi membuat pemilahan ini. Ini sepatutnya dilakukan karena pihak rumah sakit menyadari tak ada pasien non reaktif yang mau dirawat dengan pasien reaktif.

Dia melanjutkan dengan adanya Covid-19, penyakit penyerta menjadi lebih serius dibanding sebelumnya. Sehingga pihak rumah sakit paling terutama menangani keluhan dasar pasien. Sedangkan untuk pasien Covid, intinya adalah isolasi dan sistem imunnya harus terjaga.

“Untuk penanganan penyakit bila pasiennya menderita demam tentu dikasih obat demam, kalau dia sakit lambung tentu obat lambung, jadi sudah pasti semua obat itu ada, pasti ada,” jawab dr Ronald.

Menyangkut kebutuhan makanan pasien, menurutnya diatur sesuai kebutuhan. Atau kalau pasien yang sudah sulit mengunyah tentu asupan makanannya harus disesuaikan. Jadi asupan gizi atau nutrisi itu relatif, tergantung kondisi pasien. Kondisi ini juga termasuk pada seberapa kali pasien makan dalam sehari. Yang bisa makan normal dan makan bubur saring tentu berbeda jumlahnya.

“Sejauh ini keluhan soal makanan mungkin soal rasanya, tapi itu kan tergantung selera, saya sendiri tak bisa pastikan selera masing-masing seperti apa,” katanya.

Soal data berapa banyak pasien terkait Covid-19 yang menjalani perawatan di rumah sakit ini, Ronald menyatakan bisa diminta ke Dinas Kesehatan terkait. Data yang beredar selama ini di berbagai publikasi merupakan jumlah yang ditangani semua fasilitas kesehatan dan rumah sakit dan dirangkum oleh Dinas Kesehatan.

Kendala SWAB terkendala pada proses pemeriksaan. Mesin pemeriksanya memerlukan ruang khusus dengan keamanan level tinggi. Hasil SWAB yang diambil dari rumah sakit dikirim ke dinas kesehatan. Hasil pemeriksaannya sudah semakin baik hari ini, karena kalau biasanya menunggu lama kini hanya sekitar 2 minggu.

Pasien yang berada di tenda adalah hasil pemilahan. Ada yang menolak diisolasi sudah dilokalisir ke ruangan lain. Yang berada di tenda tetap akan ditempatkan dalam ruangan.

“Banyak masyarakat yang belum mengerti soal Covid-19, tapi kami terus edukasi,” ujar Ronald.

Di sisi lain, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulawesi Utara, dr Steaven Dandel menjelaskan, rumah sakit tak bisa berbuat banyak menyangkut hasil pemeriksaan SWAB pasien karena yang melaksanakan pemeriksaan adalah laboratorium milik pemerintah. Dua laboratorium ada di Sulawesi Utara, sementara sisa sampel dikirim ke luar daerah.

“Seluruhnya ada di laboratorium dan harus ditunggu hasilnya, kami juga tak bisa berbuat apa-apa. Antriannya sudah sangat panjang dan kami di sini lagi berupaya menambah laboratoriumnya tapi prosesnya panjang jadi harus bersabar karena secara nasional lagi bermasalah dengan hasil pemeriksaan ini,” kata Dandel.

“Rata-rata waktu antrian hasil tes sudah 3 minggu lebih agar bisa keluar hasil. Di dalam daerah sudah tak sanggup lagi,” ujar dirinya. (*)

Peliput: Albert Piterhein Nalang
Editor: Ady Putong

Barta1.Com
Tags: Covid-19manadoManado Medical Centerpandemisulawesi utara
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Unsrat Manado Gelar UTBK Bagi Peserta SBMPTN

Unsrat Manado Gelar UTBK Bagi Peserta SBMPTN

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Polisi Tangani Kasus Dugaan Pemalakan dan Penganiayaan terhadap Pelajar di Bitung 20 April 2026
  • Hengky Honandar : Manajemen ASN Fondasi Utama dalam Mewujudkan Birokrasi yang Profesional 20 April 2026
  • Wabup Sangihe Buka TKA SD 2026, Tekankan Kejujuran dan Kesiapan Infrastruktur 20 April 2026
  • Hengky-Randito Dampingi Dirjen Pendidikan Tinjau Pelaksanaan TKA di SDN Impres 6/84 Madidir 20 April 2026
  • Jalan Berlubang di Sulut: Keluhan Warga Menggema, Respons Diharapkan Nyata 20 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In