DI BAWAH ARCA GADIS BERSAYAP 1
Melewati jam malam kesepian
Seakan berjalan ke jalur kematian
Lalu lenyap sepenuhnya
Begitulah saat aku mulai menulis
Aku menjadi seseorang yang tiada
Tak nyata
Itu saat berbahaya bagi diriku
Seperti kobaran rasa sakit
hanya bisa dihibur oleh cinta
Aku terus melangkah maju
Menerobos suara paling halus
dan harum panggilan cinta itu
Semacam cericit makhluk nocturnal
Dalam nyala birahi puitis
Aku di bangkitkan sebagai Lazarus
Mengenakan mantel lembut seorang gadis
Dalam sebuah kehidupan suci
Dan aku sekuatnya menggenggam bisikannya
Lalu menuangkannya ke tenggorokan
Menikmati setiap lapisan rasa hancur
Memuaskannya, hingga mengelupas dan berjatuhan
Di ruasruas udara buas
Aku seakan metafora berdarah
Menerpa tusukan ketakpedulian
Hingga jiwaku selalu mati di ujung katakata
Karena penulis adalah manusia tak punya selimut kasih sayang
Bahkan untuk sebatang pedihnya
Tak ada yang bernyanyi untuknya
Juga pohonpohon cemara
Membiarkannya layu
Dan burungburung membiarkannya menangis
Seakan bendera seorang pahlawan tertimbun pasir
dilanggar pasang
Disobek karang
Dilupakan zaman
Di sebuah pintu berukuran tinggi menghadap langit
Aku cuma kupukupu dihibakan ulat
Dalam perkawinan bebunga
Siapa sepenuhnya jatuh cinta denganku
Ya sepenuhnya…
Kecuali engkau memilih menjadi abnormal
Semacam angin menyelusupiku di akhir pekan
Kesepian yang mendapinginku ke hari tua
Betapa istimewanya engkau
Memilih menjadi tokoh utama ceritaku
Aku tak mau menuliskan namamu
Apalagi di zaman terang benderang ini
Tapi aku memuji kecantikanmu
Seperti bunga azalea
Tuhan membentukmu dari debu terindah doaku
Namun di belahan dunia ini
Barangkali aku tak mungkin menemukanmu
Karena menemukanmu sesulit menceritakan cara berpikir
Atau cara bernafas
Saat semua orang berharap sesuatu yang baru
Sesuatu yang luar biasa untuk mereka nikmati
Tapi tak mau mengukir inisialku pada selembar daun
Bahkan sekadar dibaca seorang penyapu jalan
Apakah aku termasuk seseorang terbuat dari banyak kisah?
Dari abu tanah kelahiran
Dari kecupan dan sayap usia
Andai kau memang mati dari segala upaya mengerti
Betapa banyak sampah lenguhan malam hari
Untuk perempuan yang semestinya memungutnya
Agar ia menjadi ibu punya senandung
Dari pada ledakan laras senjata merampas hatinya
Dalam kisah tamat seketika
Kalian barangkali percaya sedang menjalani hidup
Namun dimana kau merayakan duniamu
Selain pada keriangan melenyapkan aku
Begitulah saat aku mulai menulis
Aku menjadi seseorang yang tiada
Tak nyata
Sahabatku satusatunya adalah arca gadis bersayap
Dan dua musim selalu disobek Elnino
Sebuah resital azalea di hutan kecil Jess
Gadis bersayap itu
selalu mengentuk pintu, berbagi lentera
Saat aku benarbenar telah menjadi kabut
Makhluk kecil dengan bibir dilanda cinta ini
Pun hanya boleh sampai di tanah angan
Tempat di mana setiap airmataku kumakamkan
Maafkan untuk waktu ini
Waktu yang percuma kuraut
Seakan sebatang pensil ingin menulis
Cinta tanpa alamat
Selalu gugur sebelum mencapai pagi
Karena seniman sejati bahkan mati beriburibu kali
Siapa mengatakan seni itu hidup
Mereka adalah pembohong
Hidup semacam apa kau raih di atas bangkai para pencipta
Bukankah hidup sesungguhnya kematian
di atas tiang palang
Tafsirlah dengan beragam pengertian
Ia semata analekta kehilangan demi kehilangan
Lalu kalian berkata; hati adalah rumah para kekasih
Bukankah itu keisengan paling dramatis?
Sebab penulis didefinikan seseorang yang terikat
Tersangka abadi di hadapan mahkamah putus asa
Sejak puisi mengabadikan jejak rasa sakit, kecewa
Kritik dan pemuliaan yang berpeyorasi menjadi luka
Sebelum dosa, aku menyimpan sebuah wajah familiar
Namun hujan deras turun setelah kemarau panjang
Aku membayangkan gadis bersayap itu
Ia hanyut dalam lengan seseorang
Dan airmata kembali kumakamkan
Kandangkala aku memikirkan beberapa tempat lain
Dengan bebunga menggelantung seperti lonceng
Namun apa dapat diharap dari ciuman palsu mereka
Sebagai pemakan daging babi
Tentu aku punya malaikat
Merekalah yang menjagaku dalam kerangkeng
Sebab penulis adalah manusia terpenjara
Penjara kebebasan tempat pikiran jernih mengalami kehidupan
Dan katakata menjelma firman
Demikianlah firman adalah ucapan dari seseorang yang teringkus
Apakah ada lagu lain di kepalamu?
Ikuti aku bertempur
Penyair adalah pejuang
Meski tanpa cinta untuknya
Dan aku tahu kau akan sekadar menengok
Bahkan senyumanmu adalah pisau
Menusuk nadiku
Bungabunga murbei menjadi tua
Dan aku kehilangan segalanya
Terusir dari lembaran puisiku
Sekadar tema dalam sejarah
Apakah aku telah menyia-nyiakan hidup?
Bahkan aku tak mahir dalam seks
Kecuali sebagai pencinta tanah air
Tanah lahir menakdirkan aku manusia banyak kisah
Sang penjaga api dalam upacara penebusan
Agar anakanak selamat mencapai masa depan
Aku Lazarus!
Layaknya seekor burung tak takut jatuh
Mengarungi cahaya yang melahirkan cahaya
Mengarungi cinta yang melahirkan cinta
Apabila seorang gadis mencari ayahnya
Dalam diri seorang penyair
Ia akan menemukan jalan pulang
Menuju setiap ciuman
Sebagaimana puisi
Selalu punya tempat di sisi kemanusiaan
Tapi aku Lazarus
aku akan mati karenanya
Begitulah saat aku mulai menulis
Aku menjadi seseorang yang tiada
Tak nyata
Hanya lagulagu surgawi berpendar menjadi nyawa
Terus membelah butir demi butir dalam kehidupan cahaya
Karena setiap karya harus hidup dan menghidupkan
Dan penyair akan beku dalam makam kesendiriannya
Itulah penghargaan untuk setiap pertempurannya
Kekasih mana yang akan menangis untuknya?
Bau melati pun akan usai menjelang dini hari
Karena setiap manusia punya paginya sendiri
Lalu di ranjang dekat jendela
Apa lebih piatu dari penyair berbaring tanpa mimpi
Andai ada hari lebih bahagia
Tapi seni selalu menjadi gelombang
Menghacurkan penciptanya tanpa rasa bersalah
Karena mencintai berarti merelakan
Di hutan hitam
Di sebuah almamater keheningan
Aku membaca beberapa nama
Mereka tak lagi menengok padaku
Tak seperti tahuntahun nan gagah
Ketika burungburung kepondang kusajak
Meminjamkan aku kekuatan malaikat
Tubuh yang memikat
Dan katakata bermata
Itu sebabnya, sebelum menjadi arca gadis bersayap
Ia memberi aku keningnya yang indah
Kami bercinta di bawah ketapang
Di bawah cemara
Kini ilusi dengan bau lembab mencekik
Sebab wanita tak mau tahu lebih dalam
Bahkan tentang makam leluhurnya
Apalagi penyair yang tak pernah nyata
Lelaki ditangisi malam karena kesengsaraannya
Tapi siapa menyangka
Jalan cinta ditempu wanita menuju sang penyair
Setara dengan cara bunuh diri
Karena sebagaimana takdir
Tak ada peristiwa paling putus asa
Sebanding mencintai penyair
kendati semua percaya
Cinta sejati adalah upaya merangkul
Semua derita yang dipikul sang kekasih
Dan hanya sedikit memilih jalan suram ini
Sebuah jalan menuju yang terindah
Hakikat kehidupan itu sendiri
Di bawah cahaya
Tubuhnya tercabik
Hatinya terambil
Tak ada yang ingin mengenalnya
Tapi penyair punya tujuan sejati
Aku Lazarus!
Dibangkitkan buat mencecap perjamuan paling pahit
Tak saja dengan raga
Tapi seluruh jiwa menjadi derma
Mendenyuti peradaban
Dan wanita paling sedih adalah ibunya
Karena ia saksi utama penyerahan diri tanpa ampun itu
Namun saat sang pejuang ditetapkan
Ibu adalah orang pertama berbagi api ke matanya
Dan arca gadis bersayap itu cinta sejatinya
DI BAWAH ARCA GADIS BERSAYAP 2
Lagu dinyanyikan ombak itu
Puisimu
Semesta kecil menawan
Dan kunangkunang berkesiur dari sana
Memanggilmanggil pohonan
Di sebuah hari
Saat hatiku bagai pantai sepi
Makhlukmakhluk menggembirakan ini
Terasa hukuman kekal
Bukankah kita terancam masingmasing kefanaan
Adakah hal megah di dusun yang kita ciptakan itu
Selain tawa. Kesantunan
Dan percakapan kecil rahasia
Dua manusia yang diperdaya keingintahuan
Atau ciuman, pelukan yang terseduh
Pada sebuah tulisan
Tuhan, aku duduk di bawah ramburambu waktu
Sebagai Lazarus
Di pinggir jalan menguarkan bau perdu
Itulah saat paling menyentuh hati dan menginspirasi
loncengloncengmu mendenting
dan suara lembutmu membangkitkan
Seakan setiap kelopak yang melepaskan embun
Mengucapkan namamu
Harus kudengar dengan sabar
Sebab betapa getas cinta di ruang tak berbatas
Dan bayangmu akan bangkit di kutumkuntum api
Seperti malaikat nan ganih
Menari seumpama daun rambat mengapai tebing tertinggi
Di sebuah jurang mengangah
Di ruang hati
Lalu sepi berbisik dengan matanya yang belati
Karena penyair selalu menjadi musuh terburuk bagi dirinya sendiri
Di suatu siang saat sirine menegaskan keseharian
Dimana banyak hal darurat di tengah masyarakat
Saat muslihat disuguhkan seakan berkat
Seberapa indah kemiskinan itu?
Tanya seorang ibu yang pedih
Seindah dikau tersenyum untuknya, ucapku
Bukankah setiap orang punya kegelapan dan terangnya sendiri
Dan kehidupan adalah memilih
Di ruas mana engkau berdiri
Menjadi yang mati atau sang lain
Menghidupkan semangat jangan sampai pergi
Karena hidup adalah menjaga yang kau sayangi
Lalu malam turun seperti pengantin
Di perempatan saat kenangan itu datang
Dan usia mengayungkan langkah
Tak ada lagi yang patut dikejar
Sebagaimana harmoni
Cinta kadang datang terlambat
Dan seseorang seakan merasa ketinggalan kereta
Namun di saat paling usur sekalipun
Selalu ada yang mengulurkan sentuhan
Mau mendengarkan hal yang ingin engkau ucapkan
Karena setiap orang sepatutnya
mencintai apa yang ia cintai
Tanah basah dan burung burung penuh rasa syukur
Karena antara bintang engkaulah yang paling bersinar
Visual yang memberi pencerahan di bawah arcamu
Dan aku sebuah kamar dihantui lukisan tanpa wajah
kenangan tak lagi ingin menatapku
Namun kutata seakan hiasan
Biarlah mereka mengantarku mengatupkan mata
Kendati aku terus merasakan gerakan angin
Merasakan kesunyian pohon
Merasakan getaran inderamu
Dan aku selalu ingin berucap
Pabila engkau matahari
Bawalah aku mendaki chimborazo untuk bertemu apimu
Pabila engkau jantung dari bumi
Ringkuslah aku ke kedalaman mariana
Biar kudengar gema suaramu
Sebagai Lazarus dalam mimpimu yang biru
karena setelah embun
Apa yang dapat dilakukan penyair
selain menguap, begitu saja
Tak ada yang akan datang
mengetuk pintu kesepiannya
sebentuk hidup tak pernah menjadi nyata
sosok tak memiliki tanah benarbenar tanah
Daratan benarbenar daratan
Selain bayangan suram berulangulang
Memberi nyawa pada kata
perjuangan suci ditakdirkan untuknya
Bahkan untuk cinta tak pernah memeluknya
Demikianlah aku tak percaya pada halhal dirasakan
Kendati ia punya tempat yang tepat
Bahkan sekadar untuk diingat
Karena mengharapkan seseorang yang ada, bagiku tiada
Untuk itu ada banyak hal tak kukatakan
Kepada orangorang kucintai
Biarlah semua itu mengikuti kesepianku
Karena segala sesuatu bergerak menurut alasannya
Begitulah aku membiarkan hidup merapikan dirinya sendiri
Dan aku saksi hidup yang medefinisikan
Segala yang ditentukan oleh kosmis adalah pertempuran
Karena tak ada hal yang dapat dicapai tanpa pengorbanan
Dan keagungan sejati hanya milik mereka yang gigih
Saat kaum durhaka kelas atas memaksakan ketakutan
Dan kriminal membuat rakyat gemetar
Mesias mana yang menghidupkan nurani terpenjara
Selain katakata ditempa penyair di tungku kesepiannya
Menjelma bedil bagi beriburibu martir
Menghidupkan senyuman di mata kaum tersingkir
Orangorang yang kehabisan darah di trotoar
Namun tak ada orang mempedulikannya
Ketika manusia hanya hidup untuk diri mereka sendiri
Bagi penyair bahagia itu bukan hal terpenting
Dan tahukah kamu?
Sejarah Tuhan ditempa tidak dengan api
Namun dengan katakata
Dengan katakata pula Tuhan menempa penyair
Dengan katakata penyair menempa dunia
Dan ia berdiri mengatasi kekhawatiran
Hingga kehidupan menemukan jalannya sendiri
Namun karena cinta adalah perasaan paling kuat
Penyair logam pun remuk dalam pelukannya
Melemparnya ke jurang keagungan
Karena untuk kekasih sepertimu
Burungburung akan berkicau
Daundaun akan bernyanyi
Tapi penyair akan mati di ruas paling gila
Dari jalan yang ia pilih
DI BAWAH ARCA GADIS BERSAYAP 3
Ada hari di mana sebuah kereta akan lewat
Kesibukan kota tak memandang
Daunan jatuh
Dan hati kesepian di jalanan
Siapa mau mencatat elegi berlalu itu
Manusia telah menjelma para pemburu waktu
Seperti susunan tuts piano
Bukankah hidup itu serentetan nada
Baru menjadi lagu bila dijalani dengan padu
Pandanglah malam sepat
Barangkali itu rambatan sebuah kidung
Dan Tuhan yang bertahta di bening airmata
Akan menerbitkan cahaya di hatimu paling suhud
Aku membayangkan Ophelia
Gadis yang pernah melihat banyak surga dan neraka
Lalu telentang di antara kuntum teratai
Ia ingin bertemu jalan pintas ke sebuah pesta
Namun kaisar tetaplah kaisar
Kekuasaan tetaplah kekuasaan
Dan rakyat tak lebih badut di tengah jamuan
Siapa mau mencatat elegi berlalu itu
Selain seseorang yang dibentuk Tuhan
Dari susunan perih yang baja
Ia adalah kekuatan yang tak patut disayangkan
Karena alam bersenandung untuknya
Dan bebunga berlomba menambat di rambutnya
Para pahlawan mengambil api di matanya
Dia tak butuh keturunan mulia untuk jadi manusia
Karena cinta baginya bisa mengubah dunia
Saat Kristus tersalib
Bukankah Allah sendiri yang merobek tabir
Bahwa kekuasaan bahkan gereja
Jangan sampai terpisah dengan airmata rakyat
Dan umatnya
Dengan semua itu Ophelia melihat keberanian
Dimana hidup tak sekadar bertukar jalinan balladona
Tapi berbagi kebaikan hingga setidaknya di ujung mati
Segala yang fana bisa tersenyum
Dan melambaikan tangan bahagia
Wahai engkau sang perwujudan kecantikan
Yang membunuh dan menghidupkan penyair
dengan tatapan
Yang menganugerahkan hari tua seperti suatu pagi
Yang mengistirahatkan matahari persis di kening
Yang berkatakata melampaui kejeniusan jiwa
Yang mengobarkan perang pada sepotong senyuman
Terberkatilah hatimu
Yang memberi aku percakapan dengan Tuhan
Sepasang sayap buat meluncur terbang
Menggapai cahaya dimateraikan bagi nasibku
Cinta
Catatan suram
hingga lagulagu mendeting dari loncengmu
meringkusku ke ladang katakata
Memungut segala retak
Mendoakan yang luput diucap
Dan moga Tuhan menyebut namanama kita
sebagai firman di atas ladang para petani
Menguntum seperti mata fajar yang memanggil
Semangat tumbuh mengolah tanah menjadi berkat
Mengolah harapan menjadi petakpetak kegembiraan
Agar tak ada lagi yang merasa kehilangan waktu
Sebagaimana kekasih Tarsi yang berharap punya satu pagi lagi
Kendati kadangkala hujan menulis buku lebih tebal
Mempertegas garis riang dan kesepian
Juga yang berlalu begitu saja
Semacam lolongan dalam bentuk api
Menguak ngeri sprei dan pisau
Dua perwujudan nyawa pemberi luka, perih dan rindu
Terus disimpan diamdiam
Agar tak ada yang mungkin menyangkal
Bahwa sejarah busuk memang tak memiliki musim semi
Kendati tak sedikit yang memilih menanak kemustahilan
Melanjutkan sesuatu yang tak abadi
Dengan senyuman atau tangisan
Pabila itu tentang masa depan
Setiap manusia butuh keajaiban
Namun selain cakrawala tanpa batas
Hal lain tak mudah bagi penyair
Karena penyair adalah perahu melayari satu garis
antara Tuhan dan kehidupan
namun di hari saat burungburung dinggota itu kembali
dan tanganmu mengurai matahari
aku bangkit sebagai Lazarus
Seakan pecahanpecahan kecil dari hati
aku kembali melihat kupukupu mati di ujung minggu
mengabari yang telah bermula akan berakhir
Kecuali waktu
Dan ajaibnya,
Engkau percaya pada pelikan imajinir yang kusajakan
Maka engkau percaya pada Pearly
Bagaimana ia bisa mencintai pantaipantai sunyi hari tua
Membaui anyir kerak karang
Payau dan debur payah dari lelaki yang tersuruk
Di balik kejayaan samudera masa lalu
Siapa bisa menjaga semuanya tetap hidup
ketika cinta sebatas segaris masir, seusia surut
Dan manusia tak lebih bagian kecil
Di bawah pelican yang lebih kuat terbang tinggi
Lebih tabah menjalani kesepiannya sendiri
Namun katamu, bilamana engkau ingin hidup
Jangan beri tempat pada kecemasan
Karena perasaan jatuh cinta
Tak saja menerbitkan kecantikan
Juga kekuatan menaklukan
Segala yang tak mampu diucapkan
Yang tak mungkin terpikirkan
Bahkan ia yang paling teguh
Menghaluskan kematian
Sebagai Lazarus, aku tak akan menulis
Betapa indah kau meneguk ciuman
Aku lebih ingin membayangkanmu sang Ophelia
Karena bersamu lambanglambang purnah berpelukan
Demikian engkau membunuh dan menghidupkan penyair
dengan tatapan
Di sebuah bait suci alam
Di pagi hari saat aku merindukan burung burung kepondan
Melintasi jalan yang sama
Semak yang berubah
Dan pohon jati mencondongkan tubuhnya
Seakan raksasa gunung datang membelai manusia
Kerena manusia hanya si kecil dalam lukisan
Dibuat ombak
Sama seperti pelikan
Di sepanjang garis pantai
Tak pernah abadi kendati itu kusajakan
Dan burung yang bercericit
Bukan karena matahari berhasil menyajikan pagi hari
Bisa jadi katamu, itu pisau tengah membelah uluh hati
Dan maut penuh senyuman itu mencecap
Segala yang paling pahit dari hidup
Di sebuah kamar telanjang
Namamu semacam jarum jam mengucapkan cinta
dengan cara paling dramatis
tanpa katakata
sebisu bunga liar
dalam petualangan serangga
di belukar dihantui kegentingan
saling bertarung untuk sehari kehidupan
Wahai engkau sang perwujudan kecantikan
Yang membunuh dan menghidupkan penyair
dengan tatapan
Yang menganugerahkan hari tua seperti suatu pagi
Yang mengistirahatkan matahari persis di kening
Yang berkatakata melampaui kejeniusan jiwa
Yang mengobarkan perang pada sepotong senyuman
Ini aku
Katakata yang mendetak
Dari satu hingga seribu
Dari tiada ke tak terhingga
Mendetak kerena tidak tak
Ini aku
Lumpur yang mendetak
Lumpur yang tidak bisa tak
Ini aku
Sesuatu harus ada
Menanda yang ada
Lambung yang luka
Wajah yang seluruhnya derita
Kepala di bulan januari
Berisi sejarah
Kebun dan laut
Citacita dan hampa
Kepala di bulan januari
Berpurapura
Tegak berpurapura
Menjalani bulan menangis
Harihari cemas
Semacam pelacur politik
Tenggelam di mata tanpa api
Lalu apa yang ilahi
Selain lautan selangkangan
Kapalkapal birahi
Menderukan omong kosong
Barisan pohon
Dan sejarah yang palsu
Saling membunuh
Di nyanyian subuh
Lalu apa aku ini?
Siapa pun berselisih dengan waktu
Takkan mampu melampaui kesiasiaan sejak lahir
Ia hanya kupukupu pecah menjadi abu
Begitu tulisku
Aku telah menulis pulaupulau kalah
Merpati berhamburan
Dan kapal membela lautan
Semuanya ingin meraih tujuan
Namun apa yang baru setelah kesadaran
Bahkan dengan tinta dari Tuhan
Segala kujumpai hanya kiasan
Jelmaan abu seumur kupukupu
Itu yang kubawa di jalan puisi
Juga tak abadi
begitulah diri membetuk kekuatannya
dari remahremah harapan
konon di luar sana ada seseorang
menanti di anak tangga untuk kesempatan kedua
sehingga semua punya pilihan mati sebagai Balam
Aku Lazarus!
Aku barangkali terlalu banyak bermimpi
Bahwa tanpa sejarah
Kita tak punya jalan menuju mati
Lalu kita mencakapkan mati yang abadi
Atau yang hidup kembali
Di jalan sejarah tak kita pahami
Kita mengacungkan senapan untuknya
Untuk sejarah yang meminta beriburibu pahlawan
Sementara pahlawan hanya namanama di makam
Sepi tanpa penghormatan
Selain kiasan agar kembali ada yang mengacungkan bedil
Menyalak lebih tajam untuk mati yang kalam
Seakan cita itu sebuah lubang yang dalam
Harus ditempu dengan mati sepanjang saman
Kita terlalu asyik memainkan pikiran
Sedang di luar manusia
Segala yang hidup dan ada
tengah merayakan masingmasing pesta rayanya
sambil menghafal ucapan: selamat tinggal
Wahai engkau sang perwujudan kecantikan
Terberkatilah hatimu
Yang memberi aku percakapan dengan Tuhan
Yang memberi aku sayap meluncur terbang
Menggapai cahaya dimateraikan bagi nasibku
Cinta
Catatan suram
Dan lagulagu yang mendeting pada loncengmu
Di hari yang terasa kian dekat padam


Discussion about this post