• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Jumat, April 24, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Biografi

Seri Biografi Dramawan Sulut: John Piet Sondakh

by Agustinus Hari
9 Juni 2020
in Biografi
0
John Piet Sondakh. (foto: dokumentasi pribadi)

John Piet Sondakh. (foto: dokumentasi pribadi)

1.2k
SHARES
337
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Bermain dalam “Ayub” karya Yulius Siranamual disutradarai Yodi Subroto pada pembukaan Sidang Raya Dewan Gereja (DGI) di Bukit Inspirasi, Tomohon pada 1980, boleh dikata kiprah awal dramawan John Piet Sondakh di Sulawesi Utara (Sulut).

Sekembalinya dari pendidikan teater di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) Dramawan yang akrab dengan sapaan Hanny ini kemudian mengukuhkan kehadirannya di panggung teater Sulut dengan menggarap Antigone, sebuah tragedi yang ditulis Sophokles, pengarang Yunani yang paling terkenal di dunia, sebelum tahun 442 SM.

Sukses dengan Antigone yang dipentaskan di Gedung Kesenian Pingkan Matindas Manado tahun 1983, dengan melibatkan Teater SMPP Negeri 29 Manado, di tahun yang sama kembali dipentaskan di Bukit Inspirasi, Tomohon.

Tahun 1985, dramawan, aktor dan pembaca puisi ini dipercayakan pemerintah Provinsi Sulut sebagai Sutradara Umum pada ajang pembukaan Pesparawi Nasional tahun di Stadion Klabat Manado yang melibatkan 3 ribu orang lebih pemain dan pendukung konfigurasi.

Lahir di Langoan, Minahasa pada 6 Maret 1957 dari pasangan P.F. Sondakh dan C.C. Kembuan. Menikah dengan seorang gadis Jawa, Eneng Etin Tiana dikaruniakan seorang putri Caroline Sondakh. Kini memiliki seorang cucu, Alessia Sondakh.

Riwayat pendidikan, SD GMIM 8 Tikala Manado. SMP Kristen Tikala Manado. SMPP Negeri 29 Manado (sekarang SMAN 7 Manado). LPKJ (Lembaga pendidikan Kesenian Jakarta ) tahun 1977 hingga 1981.

Semenjak masa kuliah ia telah menjadi Koordinator acara Mimbar Kristen Protestan sebuah materi tayangan TVRI PUSAT Jakarta yang bekerjasama dengan Yayasan Komunikasi Massa Dewan Gereja Indonesia (YAKOMA DGI).

Kembali ke Manado tahun 1981, ia mendirikan Teater SEPAKAT dan mengajar Seni Teater di beberapa sekolah di Manado, di antaranya, SMA Negeri 2 Manado, SMA Negeri 1 Manado, SMKN 1 Manado dan SMPP Negeri 29 Manado dari tahun 1982 sampai dengan 1986. Pada 1986 sampai dengan 1993 menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditugaskan di Bidang Kesenian Kanwil DEPDIKBUD Propinsi Sulut.

Ia kemudian berhenti dari PNS lalu terjun ke dunia entertainment sambil terus berkiprah di dunia panggung baik sebagai aktor drama dan film televisi, juri festival sastra dan drama. Di lain sisi, sejak tahun 1994 hingga 2017 ia mengelola tempat hiburan malam baik di Manado, Palu, Bitung di antaranya: Ozon, Osean, Rumbia, Music Cafe, Planet Musik, Bogenvile, Doblas Cafe, Sitou Milenium Bitung, Maranu Cafe Palu, Pentium Cafe, Millenium Pub, Zodiac Café.

Ia juga terlibat dalam sejumlah organisasi kesenian sebagai pengurus yaitu pada PATSU (Persatuan Artis Sulut), IAS (Ikatan Artis Sulut), PARFI Sulut. Karier kesenimanannya telah dimulai sewaktu SMA sebagai anggota Tim Kesenian Sulut mengisi acara peresmian Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta 1974. Sejumlah karya-karya besar yang pernah disutradarainya di antaranya: Impian di Tengah Musim, Bung Besar, Aduh, Tolong, Wek wek, dan drama-drama klasik barat lainnya.

Di Sulut, ia lebih dikenal dengan panggilan “Papanialo”, sebuah karakter tokoh yang diperaninya dalam drama-drama komedi yang disiarkan secara reguler oleh TVRI Stasiun Sulut. Selain banyak main dalam film-film televisi, ia juga ikut berperan dalam sejumlah film layar lebar yang di tayang di bioskop-bioskop Indonesia.

Penulis : Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
Tags: John Piet SondakhSeri Biografi Dramawan Sulut
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Polda Sulut Terus Bergerak Sosialisasi Protokol Covid-19

Polda Sulut Terus Bergerak Sosialisasi Protokol Covid-19

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Akreditasi Unggul Diraih, Mahasiswa Informatika Polimdo Percaya Diri Dalam Persaingan 24 April 2026
  • Petinggi BSG ‘Dikuliti’ Kejati Sulut Soal Dugaan Korupsi CSR, Kapan Dirut? 24 April 2026
  • Gubernur Yulius Angkat Isu Lingkungan di Paripurna, 5.000 Warga Koha Krisis Air Bersih 24 April 2026
  • PLN UP3 Gorontalo Gelar Apel Serentak, Akselerasi Layanan dan Jamin Keandalan Pasokan Listrik 24 April 2026
  • PLN UID Suluttenggo Perkuat Mitigasi dan Keandalan Listrik di Desa Siaga Bencana Kinilow 24 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In