Manado, Barta1.com – Sekilas orang akan melihat dirinya seorang artis. Punya paras cantik dan prestasi membanggakan. Siapa sangka, Gita Ratnasari Tuuk ternyata adalah Sangadi Desa Bombanon.
Sangadi merupakan sebutan untuk kepala desa (kades) di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Wanita kelahiran 22 Juli 1993 ini menjadi jawara dalam pemilihan Sangadi di Desa Bombanon, Kecamatan Lolayan. Desa paling ujung di Kecamatan Lolayan, berbatasan dengan Desa Toruakat, desa pertama di Kecamatan Dumoga.
Perempuan 26 tahun ini meraih 206 suara, unggul atas empat rivalnya yang hanya mampu meraih suara di bawah 100. Usai menang, istri tercinta dari Stenly Uno ini, langsung diarak warga.
Desa Bombanon merupakan salah satu dari 14 desa di wilayah Kecamatan Lolayan yang terletak kurang lebih 9 km ke arah barat kotamobagu. Desa Bombanon mempunyai luas wilayah kurang lebih seluas 500 hektar.
Sejarahnya, pada tahun 1928 disuatu tempat yang letaknya 20 km ke arah Barat Kotamobagu didataran Dumoga datanglah serombongan keluarga untuk maksud berkebun.
Mereka yang datang ini semuanya berasal dari daerah Minahasa (Desa Remboken). Sebelum rombongan menuju tempat tersebut, mereka telah melapor kepada Raja Jakobus Manoppo di Kotamobagu.
Atas seijin Raja mereka meneruskan perjalanan kearah Dumoga. Mereka tiba disuatu tempat dan mereka mendirikan pondok/sebuah tempat tinggal mereka.
Hari demi hari mereka tinggal di tempat tersebut dan mereka membuka lahan untuk berkebun. Diwilayah yang mereka tempati di kelilingi oleh tanaman atau pohon bomban (pohon bomban ini adalah sejenis pohon yang batangnya dapat dipakai untuk menjahit atap).
Setelah kurang lebih dua tahun mereka tinggal di tempat itu lahirlah seorang anak perempuan dari Keluarga George Koagow yang diberi nama ‘non’. Kemudian mereka mulai memperbincangkan nama tempat dimana mereka tinggal karena tempat itu belum mempunyai nama. Akhirnya atas kesepakatan bersama tempat itu diberi nama Bombanon.
Kata Bombanon diambil dari nama pohon yaitu Bomban dan nama anak yaitu Non artinya anak yang lahir diantara pohon–pohon bomban.
Maka beruntunglah Gita yang memimpin desa tersebut dan tentu akan mendapat dukungan masyarakat yang mayoritas telah memilihnya. Penyandang gelar sarjana ekonomi ini bertekad memajukan desa tersebut tak hanya sekedar menjual tampang.
“Saya mohon warga membantu saya membangun desa ini menjadi lebih baik,” kata Gita.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post