Sorot mata Kristal Tenda dan Ricky Mandas berkaca-kaca. Keduanya tak kuasa menahan rasa haru dan gembira. Sekitar pukul 11.00 WITA, Selasa (28/5/2019) saat detik-detik jelang mereka keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Manado. Di luar gedung sudah menanti sanak saudara dan keluarga mereka.
Berpakaian rapi dengan kaos oblong hitam dipadu celana jeans hitam, mereka tampak gagah pagi itu. Dan terlihat berbeda dengan penampilan ketika masih di jeruji besi dengan seragam tahanan.
Baik Kristal maupun Ricky merupakan warga binaan Lapas Kelas IIA Manado yang terletak di Bilangan Kelurahan Tuminting. Mereka dijerat dengan kasus yang sama: hukuman tindak pidana pembunuhan. “Iya saya divonis 12 tahun. Namun setelah mendapat remisi hanya menjalankan hukuman separuh. Hari ini kami menghirup udara bebas,” ujar Kristal yang mengaku melakukan pembunuhan di Malalayang.
Dia mengungkapkan kebebasan itu sangat mahal dengan perilaku yang sudah dibuat selama ini. “Jujur, saya sangat menyesal. Dimana dulunya begitu terpengaruh dengan lingkungan yang tidak baik. Dengan pergaulan terbawa-bawa dengan teman-teman, minum minuman keras dan akhirnya berkelahi hingga terjerumus dengan tindakan yang sebenarnya kita sendiri tidak inginkan,” ujarnya kepada Barta1.com, yang sekali-sekali kepalanya tertunduk.
Saat sebagai warga binaan baru terpikir perbuatan yang sudah dibuat ternyata salah. Dampaknya sampai keluarga yang merasa malu dan terpukul dengan apa yang telah diperbuat, bebernya.
Ketika bebas, Kristal berjanji akan lebih bergaul dengan lingkungan tempat tinggal dengan lebih baik. “Saya akan rajin beribadah dan akan fokus pada pekerjaan untuk membiayai kehidupan anak dan istri. Pada intinya berperilaku seperti apa yang sudah didapatkan saat berada sebagai warga binaan Lapas Kelas IIA Manado,” tuturnya.
Senada disampaikan Ricky Mandas. Dia yang terlibat pembunuhan di Paal 4 ini mengatakan bagi teman-teman di luar sana untuk tidak melakukan hal yang bodoh seperti apa yang sudah mereka perbuat, karena kebebasan itu sangat berarti.
“Setelah keluar nanti, paling berat untuk mengobati pandangan masyarakat terhadap kami. Di luar sana, biar pun kami betul-betul bertobat, tapi kami tidak tahu dengan pikiran dan pandangan masyarakat terhadap kami,” ungkapnya.
Bertahun-tahun di Lapas Manado keduannya mengaku banyak mendapatkan pembelajaran mengenai keagamaan, mengikuti ibadah sesuai waktu yang sudah diatur.
Kepala Lapas Manado, Sulistio Wibowo mengungkapkan pada prinsipnya sebagai petugas mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi warga binaan. “Dan ketika bebas nanti, kami berharap binaan yang sudah bebas bisa kembali menjadi masyarakat yang bebas seperti biasanya,” tutur pria bersahaya nan ramah ini.
Ia menambahkan, meski sudah bebas warga binaan itu belum tentu betul-betul bertobat. “Walau pun harapan kami mereka bisa menjadi teladan di masyarakat. Sebab setiap hati seseorang kita tidak tahu, tapi saya percaya binaan yang telah kami berikan selama di sini pasti akan berdampak sampai kehidupan mereka sehari-har,” kunci Sulistio.
Peliput : Meikel Eki Pontolondo


Discussion about this post