Manado, Barta1.com – Yesinta Sihombing Egeten, menumpahkan ‘amarahnya’ akibat bisnis online yang dia geluti beberapa tahun terakhir ini merugi gara-gara internet ngadat. “Gila. Kerugiannya bukan satu dua juta. Saya rugi sampai 16 juta untuk sehari ini,” ujar ibu muda pemilik Joel Decoration Souvenir ini kepada Barta1.com, Jumat (24/5/2019).
Ceritanya begini kata dia, ada seorang pelanggan memesan barang kepadanya. “Lumayan harga barangnya Rp16 juta untuk dibawa ke luar kota. Tapi sialnya, jaringan parah, pelanggan itu sulit dihubungi. Dan akhirnya orang tersebut sudah berangkat,” ujar ibu dari Joe dan Elo ini.
Tak hanya Yesinta, seorang grabcar bernama Rommy mengaku hal serupa. “Saya keluar rumah jam 7 pagi sampai jam 11 malam belum capai poin utuh. Masih ada dua poin lagi baru selesai. Bayangkan, saya dapat penumpang dua dua jam. Kalau internet belum terganggung, biasanya 15 menit sudah ada penumpang. Memang cukup menganggu pembatasan internet dan media sosial tiga hari ini,” katanya.
Meski begitu, dia sendiri merelakan upaya pemerintah meredam kerusuhan saat demo 22 Mei kemarin. “Ngak apa-apa kami rugi yang penting Indonesia tetap aman dan damai. Ya, tapi sudah jatuh korban. Semoga tidak ada korban lagi,” beber Rommy.
Pasca pembatasan akses media sosial oleh pemerintah Indonesia diakui ternyata berdampak buruk. Pelaku bisnis online mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta selama tiga hari sejak medsos seperti facebook, twitter dan lain-lain down.
Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung menyebutkan bahwa pembatasan akses pada media sosial memang berdampak pada industri e-commerce. Ada yang besar dampaknya ada juga yang kecil dampaknya.
“Kalau dampak ya pasti ada, tapi ya saya kira nggak terlalu gede ya. Dampaknya ya karena kan industri ecommerce punya channel promosi di sosmed, ya kalau sosmed lemot ya performancenya kan turun karena orang jadi sulit dan terbatas buka sosmed,” ungkap Untung seperti dikutip dari detikFinance, Kamis (23/5/2019).
Namun, dampak yang cukup besar akan dirasakan oleh para penjaja barang online tanpa masuk dalam platform resmi. Pasalnya, pelapak online seperti ini hanya menggantungkan usahanya lewat akun sosial media, dan kalau sosial media bermasalah otomatis bisnisnya pun terguncang.
“Kalau yang informal ecomerce yang jual lewat sosmed, pakai akun sendiri ya jelas lah berasa banget pasti dampaknya, kena banget mereka pasti imbasnya. Kerugian bisa aja,” kata Untung.
“Karena mereka itu kan transaksi di luar platform ya. Kita nggak ada datanya, facebook pun nggak punya, karena mereka kaya akun biasa aja, sistem sosmednya masalah ya kena lah mereka,” tambahnya.
Penulis : Agustinus Hari


Discussion about this post