Tagonggong yang ditabuh 3 pria mengiringi penari gunde. Di belakang penari, terlihat kue Tamo yang dijemput Pnt Yusak Lesman Walo, yang dibawa empat pria dan diletakkan di atas panggung di depan Pdt Indrawati Soekardi dan Pdt Maurits Rumengan.
Sabtu (16/02/19) malam menjadi momen istimewa bagi Jemaat GMIM Diaspora Karame Kolom IV, Kecamatan Singkil, Manado. Tari Gunde dan Kue Tamo merupakan bagian dari acara syukur Tulude, yang digagas oleh Jemaat Kolom IV.
Prosesi tersebut menjadi penanda awal dimulai rangkaian acara peribadatan syukur Tulude. Perhatian jemaat dan tamu undangan langsung tertuju pada prosesi dan tampak antusias menyaksikan.
Ibadah syukur dikemas dalam nuansa kebudayaan Sangir. Bahkan pada ibadah yang dipimpin oleh Pdt Grace Bastian-Birahim, Liturginya menggunakan bahasa Sangihe dan terjemahannya. Ibadah pun berlangsung khidmat.
Pdt Grace dalam khotbahnya, menekankan soal semangat, keyakinan, pengharapan kepada Tuhan Allah, sang pemilik kehidupan umat manusia.
“Dalam menjalani kehidupan yang selalu dihiasi dengan suka dan duka, kita ajak untuk berpengharapan kepada Tuhan. Berharap dengan keyakinan bahwa Tuhan akan memberi kita kekuatan dan kemampuan,“ cetus dia.
Adapun mengenai Tulude, Pdt Grace mengatakan, dipahami sebagai melepas tahun yang baru saja lewat, yakni 2018, dan menatap dengan pengharapan terhadap tahun yang baru 2019.
Usai ibadah, acara dilanjutkan dengan prosesi pemotongan Kue Adat Tamo sambil diiringi Tarian Gunde, yang dipimpin Krets Mole. Ia diundang sebagai pemotong kue adat Tamo di acara syukur Tulude di Jemaat kolom IV Gmim Diaspora Karame.
Pdt Indrawati Rumengan-Soekardi, selaku tamu kehormatan dalam sambutannya sambil mengacu dalam sebuah kotbah yang sudah disampaikan oleh Khadim.
“Meski tahun ini masih rahasia, dengan yakin kita ada jaminan dari Tuhan. Namun tentu siapa yang bekerja giat, kreatif sambil berharap kepada Tuhan, akan mendapat berkat Tuhan,“ tegasnya. (*)
Peliput: Albert Piterhein Nalang

Discussion about this post