• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Jumat, April 24, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Politik

Depan Pimpinan DPRD Sulut, Nelayan Karangria Serukan Dampak Reklamasi

by Meikel Eki Pontolondo
4 Juni 2024
in Politik
0
Pimpinan dan Anggota DPRD Sulut bersama Nelayan Karangria Manado. (Foto: Meikel/Barta1.com)

Pimpinan dan Anggota DPRD Sulut bersama Nelayan Karangria Manado. (Foto: Meikel/Barta1.com)

0
SHARES
45
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado,Barta1.com – Roi Runtuwene, salah satu nelayan Pantai Karangria Manado dengan penuh semangat menyampaikan aspirasinya kepada pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Sulut, terkait persoalan reklamasi, Kelurahan Bitung – Karangria, Kota Manado, Selasa (4/06/2024).

Anggota DPRD Sulut, Amir Liputo saat bertemu dengan Nelayan Karangria. (Foto: meikel/barta).

“Ketika pantai karangria ini ditimbun dampaknya sangat besar, yang pertama ikan-ikan di sini akan puna, secara bersamaan nelayan kecil seperti kami ini akan tergusur.Tolong kami Bapak, kehidupan kami bergantung dengan laut yang indah ini,” pinta ketua Himpunan Nelayan Tongkol Karangria Manado ini di depan ketua DPRD Provinsi Sulut, Fransiskus Andi Silangen, yang saat itu didampingi oleh anggotanya Berty Kapojos,  Amir Liputo, Yongkie Limen, Tonao Jangkobus dan James Tuuk.

Pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Sulut bersama Nelayan Karangria. (Foto: Meikel/barta).

Banyak sekali nelayan melalui hasil laut ini, kata Roi, bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi, bahkan ada yang menjadi Polri, Jaksa, TNI bahkan Pendeta. “Tapi, semuanya itu tidak kami banggakan, yang kami banggakan itu adalah Allah kami yang menciptkan laut yang indah ini,” ujarnya.

“Kami nelayan di sini akan sangat kecewa ketika aspirasi ini tidak dilanjutkan oleh Bapak-Bapak Dewan,” jelasnya.

Penasehat Nelayan Tongkol, Fecki Karoles, menyebut berkaitan dengan kehidupan nelayan di sini dirinya banyak tahu, karena kurang lebih 10 tahun berada di sini.

“Saya ingin menyampaikan berkaitan dengan reklamasi ini ada dampak yang bisa digantikan, ada juga dampak yang tidak bisa digantikan. Apa yang tidak bisa digantikan, yaitu hidup di perairan mata kaki dengan kedalaman sampai 25 meter, di situ ada banyak spesies laut yang hidup,” jelasnya.

Kemudian di tempat itu, menurut Fecky, terjadi titik timbunan, yang tentunya mahkluk-mahkluk laut ini tidak akan hidup lagi di spesiesnya, kemudian akan puna.

“Apakah ini tidak akan mengubah ekosistem laut kita, sebab mahkluk yang diciptakan Tuhan, sekecil apapun itu memiliki andil untuk menyeimbangkan alam ini,” terangnya.

Ketika spesies laut ini sudah musnah di perairan, ke depannya nanti apa yang nelayan dapati. “Jika ada cerita surat kabar ada perijinan, yang katanya kami menandatangani karena mengikuti sosialisasi. Di dalam sosialisasi itu, kami menyampaikan akan dampak terhadap lingkungan dan tidak menyatakan dukungan akan reklamasi ini,” tegasnya.

“Saat itu kita bicarakan persoalan dampak lingkungan, karena yang terasa adalah kita semua masyarakat nelayan dan pesisir. Dan kami sangat jelas menolak adanya reklamasi ini, kemudian kenapa masih akan dilakukan,” imbuhnya.

Dia kemudian menceritakan, sebelumnya banyak nelayan yang mencari ikan di daerah selatan, ketika itu belum direklamasi. Di sana banyak jenis ikan yang bisa didapatkan.

“Saat direklamasi para nelayan sudah tidak lagi menemukan beberapa jenis ikan, yang sering meraka tangkap. Sangat terlihat mata rantai makanannya sudah putus, kemudian ikan-ikan itu berpindah di laut depan pantai Karangria ini,” kata Fecky.

Dengan besarnya dampak reklamasi terhadap kehidupan sosial dan lingkungan, secara terang-terangan masyarakat nelayan dan pesisir Pantai Karangria Manado ini tidak menyetujui adanya reklamasi ini.

“Mari kita melihat dampak reklamasi ini, yang sangat mengerikan terhadap kami masyarakat di sini,” singkatnya.

Setelah mendengar aspirasi dari para nelayan, Anggota DPRD Provinsi Sulut dapil Kota Manado, Amir Liputo menyebut pantai karangria ini menjadi tempat kebangaannya untuk mandi.

“Mama saya berasal dari Talaud dengan usia 80 tahun, setiap hari minggu ia berendam di sini. Dia pernah mengatakan kamu itu anggota Dewan, jika tempat permandian itu sudah tidak ada, berarti kamu tidak berguna,” sahut Amir melanjutkan apa yang disampaikan ibunya.

Menurut Amir, ketika semua aspirasi ini sudah ditampung, ini nantinya akan menjadi penguatan pada saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama pihak pengembang maupun pemerintah.

Ketua DPRD Provinsi Sulut, Fransiskus Andi Silangen pada sambutannya mengatakan dirinya juga dibesarkan di daerah pesisir bagian selatan, tepatnya di area muara Sario A dan B.

“Berkaitan dengan persoalan yang ada di pesisir bagian utara ini, sudah benar Bapak-Ibu menyurat ke DPRD Provinsi Sulut. Saya sempat berkomunikasi dengan kepala lingkungan di sini, dan ia mengatakan semuanya ini akan ditutup. Ini akan menjadi persoalan masyarakat. Atas persoalan ini, kami di tengah masyarakat pada hari ini,” jelasnya.

“Pada kesemapatan ini, kami turun ke sini untuk mengetahui apa saja yang menjadi persoalan, nanti hari senin kita akan tindaklanjuti bersama dengn masyarakat untuk duduk dengan pihak pengembang, nantinya kita akan RDP lintas komisi untuk mencari solusi berkaitan dengan persoalan yang ada dibagian utara Kota Manado ini,” tambahnya.

Di akhir statmennya, Fransiskus meminta, masyarakat nelayan untuk menyampaikan unek-uneknya terkait dengan persoalan reklamasi, supaya makin banyak diketahui, semakin baik untuk mencari solusinya secara komprehensif. (*)

Peliput: Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: amir liputoDPRD Provinsi SulutFecky Karolesfransiskus andi silangenHimpunan Nelayan TongkolRaklamasi Manado UtaraRoi Runtuwene
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Oi Anak Wayang Manado. (Foto: Istimewa)

Oi Anak Wayang Manado Suksesi Diklat I, Ini Pesan Septian Ade Putra

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Akreditasi Unggul Diraih, Mahasiswa Informatika Polimdo Percaya Diri Dalam Persaingan 24 April 2026
  • Petinggi BSG ‘Dikuliti’ Kejati Sulut Soal Dugaan Korupsi CSR, Kapan Dirut? 24 April 2026
  • Gubernur Yulius Angkat Isu Lingkungan di Paripurna, 5.000 Warga Koha Krisis Air Bersih 24 April 2026
  • PLN UP3 Gorontalo Gelar Apel Serentak, Akselerasi Layanan dan Jamin Keandalan Pasokan Listrik 24 April 2026
  • PLN UID Suluttenggo Perkuat Mitigasi dan Keandalan Listrik di Desa Siaga Bencana Kinilow 24 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In