• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Selasa, Juni 16, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur

Tak ada yang Sesempurna Fischer

by Ady Putong
9 April 2020
in Kultur, Olahraga, Sejarah
0
Tak ada yang Sesempurna Fischer

Laga Bobby Fischer kontra Boris Spassky untuk perebutan titel juara dunia di Islandia (foto new york times)

0
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Orang boleh ngomong bahwa Gerry Kasparov adalah yang terbaik, tapi tak ada pecatur di kolong langit ini yang sesempurna Bobby Fischer. Kisah hidup Fischer si mesin enigma dibincangkan mulai dari masa dia merengkuh titel Grand Master di usia 15 tahun, kegilaannya yang anti Amerika dan antisemit, kemenangan menakjubkan atas Boris Spassky di era perang dingin hingga kematiannya yang ironis.

Ada masa di mana orang Amerika tergila-gila pada catur. Perhatian mereka tersedot untuk segera membeli papan hitam putih ini pada Juli hingga Agustus 1972. Sekejap tarif kursus catur melonjak gila-gilaan. Sejatinya olahraga otak itu di Negeri Paman Sam sama sekali tidak —bahkan belum sama sekali— sefenomenal basket atau football. Namun orang Amerika menyadari daya tarik catur saat disuguhi pertandingan antara Bobby Fischer kontra Boris Spassky yang dilabeli Match of The Century.

New York Times mencatat dalam artikelnya, antara Juli-Agustus 1972, perhatian dunia terpaku pada pertandingan Spassky-Fischer. Termasuk juga publik Amerika yang sebenarnya asing dengan istilah Ruy Lopez dan gambit raja, malah intens menatap televisi demi menyaksikan laporan pertandingan dari komentator tak dikenal bernama Shelby Lyman yang menjelaskan detil pertandingan tersebut.

Daya tarik pertandingan sesungguhnya adalah latarnya yang berlangsung di era perang dingin antara Amerika dan Rusia. Orang Rusia sudah unggul duluan saat meluncurkan Yuri Gagarin ribuan kilo ke atas langit. Dan kendati Neil Armstrong Homo Sapiens pertama yang menginjak bulan, tapi di arena papan catur, Rusia mendominasi norma juara dunia 15 tahun tanpa henti. Nah, Fischer ibarat prajurit yang dimajukan ke medan tempur untuk menghadapi Spassky, lelaki kharismatik dari Leningrad.

Baca juga: Manoppo Bersaudara dan Radar Gelap yang Misterius

Robert James ‘Bobby’ Fischer lahir di Chicago 9 Maret 1943. Ayahnya Gerhardt Fischer, seorang ahli fisika kelahiran Jerman. Ibunya Regina Wender, warga Swiss keturunan Yahudi. Sebuah perpaduan yang janggal, mengingat di era holocaust orang-orang macam Regina jadi buruan serdadu NAZI untuk dilenyapkan. Pasutri itu pindah ke Amerika, namun bercerai saat Bobby Fischer berusia 2 tahun. Regina kemudian membesarkan Bobby dan kakaknya Joan seorang diri.

Saat sang adik berusia 6, Joan menghadiahkan 1 set papan catur dan bidak-bidaknya sembari mengajarkan gerakan dasar. Dari perkenalan ini Fischer mahfum bahwa pion hanya melangkah 1 kotak ke depan, Ratu yang lebih istimewa dari benteng dan menteri hingga gerakan kuda yang paling istimewa dari kesemuanya. Ketika umurnya menanjak 8 tahun, Fischer bergabung dengan klub catur Brooklyn dan di usia 12 tahun tak ada satu pun pemain di klub itu yang bisa menandinginya. Saat ABG lainnya masih asyik nongkrong dan mengenal cinta monyet, Fischer malah dengan dinginnya sudah dijuluki ‘Pembunuh berpakaian Korduroi’.

Sejak saat itu, kutip guardian tidak ada yang mengganggu obsesinya pada papan dan bidak. Fischer bermain sambil makan. Dia bermain di kamar mandi. Dia bermain ketika dia seharusnya di sekolah. Dia mengembangkan kemampuan luar biasa untuk membaca permainan, menyerap halaman notasi padat dalam hitungan detik, dan belajar bahasa Rusia agar dia bisa mempelajari literatur catur Soviet. Dia bisa bermain dengan mata tertutup dan melafalkan permainan. “Catur dan aku,” kata Fischer suatu saat, “sulit untuk memisahkan mereka. Ini seperti alter egoku.” Begitu asyiknya Fischer dengan catur sehingga ibunya mengajaknya menemui dua psikiater. Keduanya malah bilang, “Jangan hentikan dia.”

Bahkan ada kisah centil menyoal Bobby Fischer dan catur. Sepanjang masa remajanya, Fischer menunjukkan sedikit bahkan ketiadaan minat pada seks. Legenda mengatakan bahwa Henry Stockhold, seorang jurnalis yang juga pecatur, pernah membawa Fischer yang berusia 19 tahun ke rumah bordil untuk melepas keperjakaannya. “Jadi bagaimana rasanya?” Stockhold bertanya saat semuanya selesai. “Catur lebih baik,” jawab Fischer dengan dinginnya.

Ketika umurnya genap 13 tahun di 1964, Fischer menjadi pemain termuda yang memenangkan Kejuaraan Junior Amerika Serikat. Pada tahun selanjutnya di Turnamen Lessing J Rosenwald Trophy, turnamen undangan paling penting pada saat itu, ia menciptakan mahakarya pertamanya dengan mengalahkan Grand Master terkuat Amerika, Donald Byrne. Byrne bahkan mengaku kalah saat masih unggul secara materi, membuat bingung para grandmaster yang menganilisis pertandingan tersebut.

Di balik kekalahannya, Byrne memahami dia telah menghadapi musuh yang memainkan catur secara eksotis. “Dia bermain hitam dan dia membuat pengorbanan yang dalam, begitu dalam sehingga saya tidak memahaminya. Kombinasi yang sangat mendalam, sangat indah,” kometarnya.

Tahun berikutnya Fischer menerima norma Grand Master termuda di usia 15 tahun, sebuah gelar yang akan membawanya pada pertemuan tak terlupakan dengan Boris Vasilievich Spassky. Untuk menantang juara dunia, Fischer harus terlebih dahulu melalui beberapa seri pertadingan internasional. Dimulai dari turnamen Interzonal pada 1970, di mana Bobby Fischer bisa bermain tanpa undangan karena Benko dan Lombardy mengundurkan diri. Presiden FIDE Mark Euwe, secara mengejutkan membolehkan hak keduanya ditempati Fischer, yang tentu saja mengakiri turnamen di peringkat pertama.

Langkah berikutnya dia mengikuti turnamen kandidat pada 1971. Fischer bermain gemilang mengandaskan Mark Taimanov di perempat final dan Bent Larsen di partai semi. Korban terakhir adalah Tigran Petrosian di final dengan akumulasi menyolok, 6-1/2 banding 2-1/2. Kemenangan ini memberikan dirinya hak untuk menantang Spassky.

Pertemuan kedua pecatur besar itu sudah dimulai duluan dengan drama. Bobby Fischer terus meminta bertarung dalam ruang tertutup tanpa penonton, sesuatu yang ganjil dalam turnamen sebesar perebutan titel juara dunia. Dalam laga di Reikjavic, Islandia pada 1972, dia kehilangan 2 babak awal, tetapi sisanya Fischer meraung dan mengandaskan Spassky dalam defisit besar, 12-1/2 banding 8-1/2. Secara keseluruhan Fischer memenangkan 7 set, kalah 3 pertandingan dan seri 11 kali. Maka Bobby Fischer adalah juara dunia catur pertama, dan mungkin yang terakhir, dari Amerika, memenangkan perang dingin dengan Uni Soviet. Dia tutup usia di kota di mana pertandingan fenomenal ini berlangsung dalam usia 64 tahun.

“Bobby Fischer-lah yang membuat dunia mengakui bahwa catur pada level tertinggi sama kompetitifnya dengan sepakbola, sama mendebarkannya seperti duel sampai mati, sama memuaskannya dengan estetika dalam karya seni yang indah, seperti tuntutan intelektual dalam segala bentuk aktivitas manusia,” kata Harold C Schonberg, yang melaporkan pertandingan Reykjavik untuk The New York Times, dan menulisnya dalam buku “Grandmasters of Chess”. (*)

Editor: Ady Putong

Barta1.Com
Tags: Bobby FischerBoris SpasskycaturFIDEGrand Master
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Penerima Sembako dari Pemkot Manado Wajib Dilengkapi NIK

Penerima Sembako dari Pemkot Manado Wajib Dilengkapi NIK

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Politeknik Menguat Menjadi Universitas, Polimdo ? 16 Juni 2026
  • SMK Solagratia Tongkaina dan Polimdo MoA, Maryke Sampaikan 4 Poin Penting 16 Juni 2026
  • Setelah Dua Tahun Jadi Plt, Davidson Djarang Akhirnya Dilantik Pimpin Dukcapil Sangihe 15 Juni 2026
  • Kapolres Albert Zai Pimpin Peletakan Batu Pertama Bedah Rumah di Makawidey 15 Juni 2026
  • RT/RW Sulut Rampung Dibahas, Henry Walukow: Jadi Kompas Pembangunan dan Investasi Daerah 15 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In