oleh

Manoppo Bersaudara dan Radar Gelap yang Misterius

Bridge Indonesia di masa lalu tak akan pernah lepas dari pasangan Manoppo bersaudara. Mereka muncul dari Minahasa, menembus pentas internasional, secara menakjubkan jadi juara, kemudian jatuh karena isu radar gelap yang hingga kini masih diragukan kebenarannya.

Dalam sebuah turnamen Bridge lokal di Aula Diknas Sulut, Kota Manado tahun 2000 silam, lelaki tua bernama Maurilius Manoppo duduk sebagai inspektur pertandingan. Beberapa kali dia berdiskusi dengan Harry Raranta, inspektur pertandingan lain menyangkut protes yang diajukan pemain dalam tanding berformat pat-kawan itu. Selebihnya om Utu, begitu sering disapa oleh komunitas Bridge Sulawesi Utara, memilih diam tapi cermat mengamati jalannya turnamen.

Siapa saja dalam ruangan turnamen itu pasti tahu, puluhan tahun sebelumnya Utu si pendiam dan adiknya Eddy adalah bagian dari Manoppo Bersaudara yang fenomenal pada masanya. Karena nama Manoppo Bersaudara maka Manado hingga kini dikenal secara khusus menjadi kiblat Bridge nasional selain Jakarta.

Utu dan Eddy begitu digdaya memainkan olahraga otak dalam medium 13 kartu pegangan, melakukan bidding dan lead mematikan kemudian memakan mayoritas kartu lawan. Dari Manado, Manoppo bersaudara dengan cepat mencuat ke turnamen tingkat Asia dan menjuarainya. Di Manado sendiri, pasangan ini, bersama Henky Lasut-Max Agouw, sudah tidak terkalahkan pada berbagai turnamen lokal era 60-an hingga awal 70-an. Gaya permainan mereka ternyata tidak sesederhana penampilannya.

Di pentas dunia, Timnas Indonesia yang sering diperkuat empat pasangan ini juga mencuat di tengah pengaruh pemain Eropa yang diwakili Giorgio Belladona-Benito Garozzo —pasangan legendaris dan bagian dari Blue Team-nya Italia. Pada turnamen sekelas Far East, Manoppo bersaudara adalah fenomena, pasangan baru muncul namun mematikan.

Tapi rentetan kemenangan sekalipun dalam distribusi kartu sulit, justru membawa penyelidikan mendalam pada permainan Utu dan Eddy. Usai beruntun menjuarai Turnamen Asia Pasifik di Singapura 1972 dan Manila 1974, Federasi Bridge Internasional mulai menelusuri 77 distribusi yang dimainkan Utu-Eddy selama turnamen Manila dibandingkan dengan lead keduanya saat turun di ajang Bermuda Bowl 1975. Kala tampil di Manila ada prestasi 80 yang ditembus keduanya dengan fenomenal, hal sulit dilakukan oleh kebanyakan pasangan hingga masa kini.

Dalam turnamen paling bergensi yang disebut terakhir, permainan Manoppo bersaudara cenderung ‘biasa-biasa saja’, ulas Majalah Tempo edisi Januari 1978. Namun sebelumnya saat juara di Manila, keduanya dinilai main dengan pola unusual. Yang berbeda pada kedua turnamen, saat masih di Manila meja yang digunakan tanpa penutup tirai, sedangkan di Bermuda, sistem tirai telah digunakan. Selanjutnya permainan Utu-Eddy juga cenderung menurun dalam berbagai ajang yang meletakan tirai pembatas antar-pemain di atas meja. Saat invitasi nasional 1977 berlangsung, Manoppo bersaudara terjerembab di urutan keenam dari 6 peserta.

Pola-pola aneh dalam permainan Manoppo bersaudara telah memicu apa yang disebut publik Bridge sebagai radar gelap. “Sinyal gelap ini merupakan teknik penyampaian lambang dengan mimik dan gerak fisik,” kata artikel Tempo berjudul ‘Yang Gelap dan Yang Terang’ edisi Oktober 1977.

Isu Radar Gelap sejatinya tak hanya hinggap pada pasangan Manoppo Bersaudara dari Indonesia. Dalam skala lebih besar Belladona dan Garozo pun pernah terjungkal karena masalah ini. Keduanya bahkan dilaporkan rekan sesama Blue Tim yang merekam percakapan pasangan ini di sebuah kamar hotel. Skandal serius itu dianggap memalukan, karena mengubah syak wasangka Timnas Bridge Amerika menjadi kenyataan, usai Blue Team selalu mengungguli perolehan tropi selama belasan tahun di berbagai pertandingan.

Terakhir pada 2015 pasangan Fulvio Fantoni-Claudio Nunes dari Monako yang memuncaki peringkat Bridge dunia, kena sanksi dari federasi internasional berbentuk larangan tampil dan larangan berpasangan seumur hidup gara-gara radar gelap.

Sementara isu penggunaan signal dalam bahasa tubuh dan upaya fisik lainnya yang menerpa Utu-dan Eddy memang butuh penjelasan lebih dalam. Dalam telusur berbagai artikel masa lalu, tidak ada penjelasan lebih teknis soal bagaimana radar gelap itu digunakan keduanya. Bahkan sempat mencuat teori yang menduga bahwa keduanya punya kemampuan telepati. Secara formal, kata Majalah Tempo, Manoppo bersaudara tidak pernah dianggap melakukan hal-hal mencurigakan. Yang pasti akibat isu radar gelap, penggunaan tirai batas menjadi kesepakatan internasional.

Tapi isu radar gelap sudah cukup mengubur nama Manoppo Bersaudara dalam pentas Bridge nasional. Di kemudian hari, Utu dan Eddy Manoppo tidak lagi menjadi pasangan. Bertahun-tahun kemudian Eddy Manoppo yang berpasangan dengan Henky Lasut menjadi Legenda Hidup Bridge Indonesia. Mereka berkali-kali menjuarai berbagai turnamen nasional dan internasional hingga kategori sebagai pemain senior. Henky-Eddy menerima banyak apresiasi dari pemerintah karena segudang prestasinya itu. Belakangan nama keduanya diabadikan pada gedung Bridge Center yang dibangun pemerintah pusat di Manado.

Sementara Utu Manoppo, namanya menghilang. Bahkan menelusuri jejaknya dalam mesin pencari google pun sangat sulit. Pria pendiam itu hanya akan ditemui sesekali menginspekturi pertandingan Bridge lokal. (*)

Penulis: Ady Putong

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed