• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Jumat, Mei 1, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Budaya

Tradisi Mabaris’sa, Cara Orang Talaud Rayakan Natal

by Ady Putong
25 Desember 2019
in Budaya, Kultur
0
Tradisi Mabaris’sa, Cara Orang Talaud Rayakan Natal

Warga Talaud yang sedang menggelar tradisi Mabarissa di tengah sukacita merayakan Natal 25 Desember. (foto: Evan/Barta1)

0
SHARES
491
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Mabaris’sa, Babaris atau Berbaris merupakan sebuah potret masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud dalam memperingati hari Natal, hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus dan menyambut Tahun Baru. Seperti pada umumnya di Tanah Porodisa, dalam prosesi Mabaris’sa ini, terlihat jelas bagaimana ekspresi masyarakat Desa Kabaruan dan Kabaruan Timur dalam mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas berkat dan cinta kasihNya dalam kehidupan.

Saat tradisi ini digelar, warga tumpah–ruah kejalan. Tua, muda dan anak–anak membanjar dalam barisan yang panjangnya hingga ratusan meter sambil berpasangan. Irama gerakan dua kali serong ke kiri dibalas dua kali serong ke kanan dan seterusnya sambil bergerak maju atau bahasa lokalnya “Dua Pas” mengantar langkah mengitari perkampungan. Terkadang, hingga mentari tak lagi bersinar, warga masih mengayunkan langkah, menari dan terus bergoyang.

Seperti penuturan beberapa tokoh di Desa Kabaruan dan Kabaruan Timur, Mabaris’sa merupakan satu gambaran betapa bersyukurnya warga masyarakat atas berkat dan perlindungan Sang Pencipta dalam kehidupan umat manusia. Memperingati hari kelahiran bayi Juruselamat dan berkat yang telah Ia curahkan bagi umat manusia. Disini terlihat jelas, warga masyarakat yang menjalankan aktifitas sehari – hari, baik di laut maupun di daratan, semua mengucap syukur.

“Mabaris’sa merupakan gambaran bagaimana warga masyarakat bersuka cita dalam memperingati kelahiran Anak Domba Allah dan kasih karuniaNya dalam setahun perjalanan kehidupan serta menyambut tahun yang akan datang,” kata Jetro Taarae, salah satu tokoh agama.

“Di sini kita bisa melihat bagaimana ungkapkan rasa syukur atas kemurahan dan cinta kasih Sang Pencipta dalam kehidupan umat manusia oleh warga masyarakat. Baik Petani, Nelayan, Pegawai Negeri, Pengusaha dan profesi yang lainnya,” ungkapnya.

Dahulu, lelaki dewasa menabuh tambur serta meniup harmonica sebagai musik pengiring tarian yang diperagakan oleh masyarakat yang sedang mensyukuri berkat Tuhan. Akan tetapi, saat ini sebagian besar masyarakat Talaud telah beralih dari musik tradisional tambur ke alat musik yang lebih modern. Gerobak yang bermuatan tumpukan sound sistem dan Genset memantik hangatnya suasana. Menyajikan berbagai jenis lagu yang menuntun gerak tubuh penari di tengah sukacita yang mereka rasakan.

“Kalau dulunya menggunakan tambur dan harmonika, saat ini menggunakan sound system. Tetapi tahun depan kita akan berupaya untuk menggunakan lagi alat musik tradisional,” terang Viktor Essing, salah satu tokoh masyarakat.

“Pergeseran dari alat musik tradisional kealat musik modern ini difaktori oleh semakin sulitnya mendapatkan kulit kambing sebagai bahan pembuatan tambur,” tambahnya.

Selain itu, dikatakan juga bahwa sedikit perubahan saat Mabaris’sa yang sudah berusia puluhan tahun ini hanya pada alat musiknya saja tanpa menghilangkan makna yang terkandung didalamnya.

“Sudah sejak puluhan tahun silam, orang–orang tua kita melakukannya. Yang berubah hanyalah alat musiknya saja tanpa menghilangkan makna sesungguhnya dar Mabaris’sa ini,” tutur Erens Gumansalangi, Ratu Banua Desa Kabaruan dan Kabaruan Timur.

“Hal ini terjadi karena jumlah hewan kambing di Talaud sudah bisa dihitung dengan jari atau sangat sedikit,” jelas Gumansalangi.

Hingga saat ini, tradisi Mabaris’sa di Kabupaten Kepulauan Talaud masih awet dan menjadi bagian penting setiap tahun dalam perayaan Natal 25 Desember dan Tahun Baru 01 Januari. (*)

Peliput : Evan Taarae

Barta1.Com
Tags: KabaruanMabaris'saTALAUD
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Bukan Orah Tapi Oriza, Bek Kiri Sulut United Musim 2020

Bukan Orah Tapi Oriza, Bek Kiri Sulut United Musim 2020

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Polisi Fasilitasi Perdamaian Dua Kelompok Pemuda di Kota Bitung 1 Mei 2026
  • Nobar “Pesta Babi” di Manado: Cermin Luka Papua, Alarm bagi Sulawesi Utara 1 Mei 2026
  • Polres Bitung Amankan Pelepasan Jamaah Haji dengan Pelayanan Terbaik 1 Mei 2026
  • May Day 2026, Hengky Honandar: Momentum Perkuat Dialog Tripartit dan Lindungi Hak Buruh 1 Mei 2026
  • Ajang Talenta SMP 2026, Ruang Pembinaan Prestasi dan Karakter Siswa Sangihe 30 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In