Di masa lalu, di utara kepulauan Talaud, ada negeri yang kehidupan pertaniannya sudah maju. Berbagai jenis tanaman pangan tumbuh dengan subur di negeri itu. Selain tanaman umbi-umbian seperti ketela pohon, ubi jalar, dan talas, di sana juga telah tumbuh tanaman padi yang menjadi salah satu makanan pokok penduduk yang mendiami tempat itu.
Hamparan ladang padi membentang luas, menampilkan pemandangan yang elok. Kerena setiap petak kebun yang berderet dan berjajar tampak hijau dan rapi. Angin yang menggoyang pucuk-pucuk padi akan tampak seperti penari yang bergerak dengan lembut dan kemistri.
Bila mendekati musim panen, pemandangan akan berubah kemuning. Bulir padi merunduk, menjuntai dengan sarat, seakan menyukuri langit dan tanah yang telah membenih berkah buat mereka.
Berlimpah-limpalah hasil panen penduduk. Pesta-pesta syukur yang riang digelar. Bunyi tambur dan para penari mengupacarai semua karunia itu bersama puja doa para tetua. Lumbung-lumbung penyimpanan makanan menjadi penuh. Gelak riang penduduk terdengar ke mana-mana. Begitulah bila suatu negeri yang pertaniannya baik dan maju, maka penduduknya hidup makmur.
Di masa itu pula, di tempat yang lain, hidup sepasang suami istri bernama Onda Asiang dan Onda Asa. Mereka hidup sebagai petani umbi-umbian. Pada perhitungan tanggal dan musim yang tepat, mereka akan pergi membuka hutan untuk dijadikan ladang perkebunan mereka yang baru.
Suatu ketika saat hendak membuka ladang, Onda Asiang dan Onda Asa mendengar kabar dari beberapa orang tentang tanaman padi yang tumbuh di suatu negeri di sebelah barat tempat tinggal mereka. Karena belum pernah melihat tanaman yang mereka dengar itu, maka penasaranlah kedua suami istri itu.
“Seperti apakah tanaman padi itu?” guman Onda Asiang.
“Dari cerita orang-orang, buah tanaman padi berbentuk biji-biji kecil yang ditumbuk menjadi beras dan sangat enak bila dimakan setelah dimasak,” ujar Onda Asa.
“Dari mana mereka mendapatkan bibit tanaman itu?”
“Konon bibitnya berasal dari khayangan,” kata Onda Asa.
Karena sudah sangat penasaran dengan cerita tanaman padi ini, maka berangkatlah keduanya menuju negeri sebelah barat untuk mendapatkan bibitnya. Mereka pergi menggunakan perahu dengan menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Kendati letih mengayuh perahu, semangat Onda Asiang dan Onda Asa tetap menyala. Mendapatkan bibit padi itu lebih berharga ketimbang letih yang mendera mereka. Arus dan gelombang memukul keduanya tak menyerah. Mereka terus mendayung dan mendayung.
Beberapa waktu kemudian, mereka akhirnya sampai di pesisir negeri sebelah barat. Setelah menarik perahu hingga ke darat, mereka langsung berjalan memasuki daratan kampung itu. Tak berapa lama, di hadapan mereka menghampar ladang-ladang padi yang subur. Warna kemuning dan juntai bulir-bulir padi tampak gemuk memesona mereka.
“Ternyata inilah tanaman padi itu,” ujar Onda Asiang dengan takjub. Setelah beberapa saat mengamati tanaman padi yang mereka cari itu, Onda Asiang dan Onda Asa kemudian berjalan menuju perkampungan penduduk.
Mengetahui maksud kedatangan Onda Asiang dan Onda Asa, pemimpin negeri sebelah barat mempersilahkan kedua suami-isteri itu untuk mengenal lebih jauh tentang tanaman yang baru mereka lihat tersebut.
Onda Asiang dan Onda Asa pun pergi menemui para petani untuk belajar lebih jauh tentang tanaman padi. Bersama para petani, keduanya ikut bekerja di ladang mengolah tanah, menanam, merawat tanaman, menjaganya dari serangan hama dan burung.
Kemudian datang musim panen mereka ikut belajar cara-cara memanen, cara menumbuk padi hingga menjadi beras, sampai cara memasaknya hingga menjadi nasi.
Semua proses mengenal tentang tanaman yang baru ini dilakukan Onda Asiang dan Onda Asa dengan tekun meski melewati waktu yang cukup panjang. Sebab, apa artinya mereka mendapatkan bibit padi bila tidak tahu menanamnya. Apa pula artinya tahu menanam bila memanen tidak tahu. Apa artinya tahu memanen bila tidak tahu mengolahnya jadi beras. Apa artinya kita punya beras bila tidak tahu memasaknya.
Setelah berbulan-bulan mempelajari tanaman padi tersebut, Onda Asiang dan Onda Asa akhirnya merasa sudah punya cukup ilmu. Mereka pun pamit kepada pemimpin negeri sebelah barat untuk kembali ke kampung halaman mereka.
Saat mau pergi, mereka membawa padi yang diberikan penduduk negeri sebelah barat itu. Sebagian akan dijadikan bibit, sementara sebagian lagi akan dipakai untuk makan.
Karena pemberian cukup banyak, perahu mereka menjadi sarat. Tapi menolak pemberian tentu juga tak mungkin. Akhirnya perahu terasa berat untuk dikayuh. Untuk memudahkannya, pada siang hari Onda Asa turun dari perahu dan berjalan menyusuri tepi pantai. Sedangkan Onda Asiang mengayuh perahu yang sudah terasa agak ringan. Pada malam hari baru Onda Asa naik kembali ke perahu.
Setelah sudah sekian hari menempuh perjalanan dengan perahu itu, tepatnya pada suatu subuh, perahu mereka diterpa angin kencang dan gelombang yang cukup besar. Keduanya tak bisa lagi mengendalikan perahu mereka dengan baik. Mereka hanya bisa pasrah menerima nasib di tengah ribut angin dan gelombang. Perahu mereka terseret oleh arus dan terpaan angin. Kian waktu, kian jauh.
“Sudah di mana kita,” tanya Onda Asa merasa kuatir.
“Tunggulah sampai hari siang, baru kita akan tahu ada di mana,” bujuk Onda Asiang.
Jelang siang, perahu Onda Asiang dan Onda Asa ternyata telah terseret hingga berada di tengah dua pulau kecil yang bernama Sara. Tapi saat itu Onda Asiang dan Onda Asa tidak mengenal tempat itu. Mereka berusaha dengan teliti mencoba mengenal tempat itu, tapi sia-sia. Keduanya tetap merasa asing dengan tempat tersebut.
“Kita berada di mulut sungai,” ujar Onda Asiang.
“Tidak mungkin. Kita kan tidak berperahu melalui sungai,” bantah Onda Asa.
Setelah angin dan gelombang mereda, mereka kembali mengayu perahu mereka menuju sebuah pulau yang lebih besar yang telah mereka lihat dengan baik. Setibanya di pulau besar, keduanya turun dan menarik perahu mereka ke pasir. Di sana mereka menyiapkan bekal untuk di makan. Di tempat itu, Onda Asa melihat ada bekas puntung kayu yang dibakar.
“Puntung kayu ini petanda di pulau ini ada penduduknya,” kata Onda Asa kepada suaminya. Onda Asiang juga menyetujui pendapat istrinya.
“Di sini pasti ada kampung. Kita akan ke sana setelah makan,” ujar Onda Asiang.
Setelah menyantap perbekalan mereka, keduanya pun bergegas menuju tempat yang mereka perkirakan sebagai letak kampung. Dan akhirnya mereka pun tiba di kampung bernama Arandangan.
Kampung Arandangan dipimpin oleh seorang Dotu bernama Gahunting bersama istrinya Woi Tapinampung. Dotu dan istrinya itu punya tujuh orang anak yaitu: Baolro, Anaitan, Lariasu, Soambi, Araro, Ruata, dan Bukaen Timbangunusa.
Kedatangan Onda Asiang dan Onda Asa di kampung Arandangan disambut dengan senang hati oleh Datu Gahunting. Mereka menceritakan peristiwa hanyutnya perahu mereka diterjang angin dan gelombang saat pulang dari negeri sebelah barat menuju kampung halaman mereka hingga terseret sampai ke Negeri Arandangan. Mereka juga memperlihatkan kepada Datu Gahunting bibit padi yang mereka bawa.
“Ini bibit padi yang kami bawah dari negeri sebelah barat. Padi adalah tanaman pangan yang baik untuk manusia,” jelas Onda Asiang.
“Apakah kalian telah mempelajari cara menanam dan mengolah hasilnya,” tanya Datu Gahunting.
“Sudah kami pelajari semuanya,” jawab Onda Asiang.
“Apakah kalian bisa berbagi bibit ini agar bisa juga ditanam di negeri kami,” tanya Datu Gahunting.
“Bibit ini lebih dari cukup untuk dibagi sebagian di Negeri Arandangan ini, Datu,” Jawab Onda Asiang.
Setelah mendapat penjelasan dari kedua suami istri itu tentang cara menanam dan manfaat dari padi, sang Datu Gahunting menamakan padi dengan sebuah nama baru yaitu Anna Wukawanna atau Amme.
Persiapan rencana penanam pun dilakukan. Setelah segalanya telah siap, digelarlah ritual penanaman pertama tanaman padi. Ritual pertama itu dipimpin Onda Asiang dan Onda Asa pada pertengahan tahun.
Datu Gahunting juga membagi tugas menjaga dan merawat tanaman hingga datang musim panen di akhir tahun, lalu dilanjutkan ritual ucapan syukur kepada yang kuasa pada awal tahun.
Untuk memudahkan pekerjaan itu, Datu Gahunting mempercayakan tugas-tugas itu kepada anak-anaknya. Anaitan ditunjuk sebagai Inangu Wanua dengan tugas mengatur proses penanaman dan hasil panen. Baoro dipercayakan sebagai Datum Banua bertugas menjaga keamanan.
Semua proses penanaman dilakukan dengan urutan ritual yang dirancang khusus oleh Datu Gahunting. Pertama, dimulai dengan ritual Mallintuku Halele (doa membuka ladang). Kedua, ritual Mallintuku Wualanna (Ritual menurunkan benih).
Usai penanaman, warga kampung Arandangan ditugaskan secara bergantian menjaga ladang dari gangguan hewan liar, dan juga ganguan dari para perompak. Dengan pola pembagian tugas yang baik ini, semua pekerjaan berjalan lancar, apalagi dibantu oleh Onda Asiang dan Onda Asa yang sudah menguasai seluk-beluk tentang tanaman padi.
Akhirnya masa panen pertama pun datang dengan hasil yang sangat baik. Menyambut hasil ladang padi pertama itu penduduk kampung Arandangan pun menggelar syukuran besar kepada Ruata (Tuhan) atas karunianya hingga tanah kediaman mereka kini telah memiliki sumber makanan yang baru yang dinamakan Amme Wurawana.
Dan tanah tempat ladang yang bernama Dingkaren yang juga menjadi tempat tinggal para petani diabadikan dalan sebuah syair Doso letaa sangkompenga buru salrussaliwuaa ude pinadapitannu buassu Tinonda sara Napombaru su jaeran na anna amme.
Sejak peristiwa penanaman pertama inilah tumbuhan padi berada di Moronge, dibawa oleh Onda Asiang dan Onda Asa.
Cerita ini secara khusus berpesan bahwa kesejahteraan hanya bisa diwujudkan dengan cara bekerja keras, tanpa mengenal lelah, dan tak mudah menyerah oleh berbagai rintangan serta halangan. Secara umum mengajak agar setiap manusia untuk tahu mengucap syukur dalam segala hal. (***)
Penulis: Iverdixon Tinungki, Denny Dalihade, Dkk

Discussion about this post