Manado, Barta1.com – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulawesi Utara, menggelar dialog antara Forkopimda dengan Majelis Rakyat Papua dan anggota DPRD Papua.
Acara ini dalam rangka menjaring informasi dan kondisi mahasiswa Papua di Sulut, bertempat di Ruang Rapat Kantor Kesbangpol Jalan 17 Agustus, Manado, Rabu (28/08/2019).
Kaban Kesbangpol Mecky Onibala mengatakan momentum pertemua diharapkan dapat memantapkan tekad, serta komitmen terus bersinergias mewujudkan visi pembangunan menuju kemajuan, keadilan dan kesejahteraan yang setinggi-tingginya.
“Saya mengajak kepala perangkat daerah dan unit kerja yang terkait, berkolaborasi serta membagi informasi khususnya perkembangan dan kondisi mahasiswa Papua yang berada di Sulut,” ujarnya.
Kiranya kegiatan ini akan menuai hasil yang diharapkan dalam menjaga keamanan ketertiban masyarakat dan memperkokoh NKRI,” pungkas Mecky.
Ketua Tim MRP, Yoel M penyampaian kedatangan mereka karena ada permasalahan yang dialami mahasiswa Papua yang ada di Sulut. Sehingga pihaknya menyampaikan tujuh poin keluhan diantaranya ada diskriminasi di fakultas kampus-kampus di Sulut.
Kemudian, mahasiswa asal Papua yang ada di Sulut tidak bisa membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) di Kota Manado. “Ada intimidasi dari aparat terhadap mahasiswa Papua yang ada di asrama-asrama Papua. Sehingga kami meminta Pemprov Sulut untuk menjaga dan melindungi mahasiswa Papua melaksanakan kuliah di Sulut,” ujarnya.
Kemudian hal lain, masyarakat Papua adalah merupakan bagian dari Bangsa Indonesia. “Sesama anak Bangsa perlu mendapat perlakuan yang sama dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan serta hak asasi manusia (HAM). Apabila mahasiswa Papua yang berada di Sulut ketika merasa tidak aman kiranya bisa dikembalikan ke Papua,” terang Yoel didampingi Anggota DPRD Papua dan 30 orang lainnya.
Mecky Onibala menanggapi tuntutan mereka bahwa apabila dalam pembuatan KTP bagi mahasiswa Papua di Manado mendapat kesulitan agar segera melapor kepada Pemprov Sulut untuk ditindaklanjuti. “Apabila ada diskriminasi di fakultas-fakultas juga disampaikan dan kami akan melakukan pengecekan. Pemprov Sulut tidak pernah membeda-bedakan mahasiswa asal Papua yang ada di Sulut,” kata Mecky.
Ia menyebutkan sambutan Gubernur Olly Dondokambey yang disampaikan ini tidak direkayasa, tulus dengan keadaan yang terjadi pada mahasiswa Papua di Sulut. “Paling banyak mahasiswa dan alumni asal Papua yang kuliah di Prov Sulut yang sudah berhasil di Papua. Sulut menjadi tempat aman dan nyaman bagi siapa saja yang datang dalam menempuh study,” katanya.
“Apabila ada keluhan-keluhan dari mahasiswa asal Papua agar disampaikan kepada Pemprov Sulut. Kepengurusan KTP tidak sembarangan dan harus mengikuti prosedur yang ada. Pemprov Sulut memberikan perhatian khusus sehingga tidak terjadi hal-hal yang seperti terjadi di Malang dan Surabaya,” bebernya.
Hal senada juga ditambahkan DR Yessy Jacob MTeol, Mpdk, dosen UNPI Manado, bahwa selaku pimpinan UNPI pihaknya tidak pernah mendiskriminasi maupun mengintimidasi mahasiswa asal Papua.
“Apabila ada permasalahan kami selalu berkoordinasi dengan yang bersangkutan. Kami selalu sampaikan kepada mahasiswa papua agar selalu mengikuti aturan di fakultas. Mahasiswa papua yang ada di UNPI selalu kami terima dengan baik dan tidak ada unsur diskriminasi.
Kesempatan itu juga Anggota MRP, Timotius Murip membacakan maklumat yang isinya berupa seruan kepada mahasiswa Papua disemua kota yang study wilayah NKRI untuk kembali ke tanah Papua.
“Terkait dengan tindakan rasisme, kekerasan dan persekusi yang dilakukan oleh aparat TNI/Polri, ormas dan kelompok masyarakat terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Malang, Semarang dan Makassar, maka MRP sebagai lembaga representasi kultural orang asli Papua yang bertanggungjawab menjaga jati diri dan identitas orang asli Papua. Dengan ini menyerukan kepada mahasiswa Papua bila tidak ada jaminan keamanan dan kenyamanan dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota dan aparatur TNI/Polri disetiap kota study, maka diserukan para mahasiswa untuk dapat kembali melanjutkan dan menyelesaikan studinya di tanah Papua,” demikian bunyi seruan tersebut.
Peliput: Albert P Nalang


Discussion about this post