Kotamobagu, Barta1.com – Pergantian musim kerap kali membawa dampak yang positif maupun negatif. Di wilayah Kota Kotamobagu sendiri, sejak memasuki musim kemarau ada beberapa wilayah yang mengalami kekeringan, akibatnya air bersih mendadak jadi barang yang langkah.
Salah satu wilayah yang mengalami dampak kemarau ini adalah Kecamatan Kotamobagu Utara, tepatnya di Kelurahan Upai. Puluhan warga kesulitan karena sumur yang selama ini menjadi sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sudah mengering.
Sehingga untuk mendapatkan air bersih warga terpaksa harus mengeluarkan uang untuk membelinya. Pemkot memang sudah menyediakan penampungan air di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara ini. Namun hingga kini masih belum bisa digunakan, terpaksa warga yang kurang mampu harus berjalan sejauh 5 Km dari pemukiman sambil membawa dirigen untuk mendapatkan air bersih.
Kesulitan air bersih ini selain akibat faktor kemarau panjang, juga dikarenakan faktor kerusakan hutan yang sampai saat ini sudah mengkhawatirkan. Illegal logging dan alih fungsi hutan jadi kebun merupakan penyebab utamanya.
Dari letak geografisnya, Kelurahan Upai merupakan daerah perbukitan yang berdekatan dengan wilayah Boltim. Kawasan hutannya pun terkenal dengan tanahnya yang subur, karena tepat berada di Kaki Gunung Ambang yang merupakan Gunung Berapi aktif.
Agak aneh memang bila daerah subur di kawasan perbukitan Kaki Gunung ambang ini bisa mengalami krisis air bersih.
Staf Bidang Kehutanan Dishut Boltim, Fajri menyebutkan, saat ini sudah ada data terbaru tentang kerusakan hutan di daerah ini. “Ya sudah kami miliki. Hanya saja belum dikelola kembali, memang kerusakan hutan di Boltim mulai rawan,” ujarya kepada Barta1.com, Rabu (14/8/2019) kemarin.
Upaya penanaman pohon kembali, menurutnya belum bisa jadi solusi. “Biasanya tanam pohon kembali sekira 100 hektare. Tetapi ini juga belum menjamin semua pohon yang ditanam bisa hidup kembali,” pungkasnya.
Jadi jangan heran bila memasuki musim kemarau, warga biasanya dua kali bolak balik untuk mengambil air bersih di lokasi Pakpak atau di perbatasan Upai dan Desa Moyag. Dikarenakan memang daerah resapan air mulai berkurang.
Dade salah satu warga mengungkapkan, sejak musim kemarau dirinya terpaksa harus bolak-balik memikul hingga 5 dirigen per hari untuk memenuhi kebutuhan air bersih keluarganya.
Ia berharap Pemkot Kotamobagu segera membantu mengatasi krisis air bersih ini, karena warga kesulitan bila setiap hari harus mengambil air dengan jarak yang jauh. “Kondisi seperti ini memang sudah terjadi sejak musim panas panjang yang berlangsung beberapa bulan ini. Warga pun terpaksa membeli karena jarak sumber air bersih cukup jauh dan sumur beberapa warga sudah kering,” ujarnya.
Sekretaris Dinas PU dan Pemukiman Rakyat Kota Kotamobagu, Sopian Hatam mengatakan tahun 2019 ini Dinas PU menyiapkan pengadaan pompa penghisap air dari penampungan air yang ada di jalan Eleba yang akan disalurkan di penampungan air yang ada di perbatasan Desa Sia dan Kelurahan Upai yang selama ini belum difungsikan.
“Warga khawatir jika musim kemarau ini lebih panjang lagi, akan lebih banyak warga yang kekurangan air bersih, sehingga untuk mencukupinya warga bisa antri sampai malam hari di lokasi Pakpak tersebut,” tambahnya.
Meskipun warga sudah mengalami krisis air bersih namun sampai saat ini belum ada bantuan air dari Pemkot Kotamobagu. Harapan warga agar pemerintah bisa membantu pasokan air bersih di Kelurahan Upai ini, lebih khusus warga Upai jurusan Sia yang biasa masyarakat menyebutnya Upai London.
Peliput : Rifai Tongkasi


Discussion about this post