Manado, Barta1.com – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) bersama Griffith University, Australia, dan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado berkolaborasi mengembangkan mesin pirolisis untuk mengolah sampah plastik menjadi minyak pirolisis yang berpotensi diproses lebih lanjut menjadi bahan bakar.

Inovasi ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program KONEKSI, sebuah kolaborasi riset Indonesia–Australia yang mendorong pengembangan solusi inovatif untuk menjawab tantangan lingkungan sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.
Ketua Tim peneliti KONEKSI, Dr. Wanda Sanni Slat, SST., M.Eng., saat diwawancarai menjelaskan bahwa pengembangan mesin pirolisis ini tidak hanya berfokus pada penerapan teknologi pengolahan sampah plastik, tetapi juga memperhatikan aspek Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), yakni kesetaraan gender, pelibatan penyandang disabilitas, dan inklusi sosial.

“Pendekatan ini bertujuan memastikan bahwa inovasi teknologi dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan membuka peluang partisipasi bagi berbagai kelompok masyarakat, termasuk perempuan, pelaku usaha daur ulang skala kecil, serta kelompok masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi maupun kesempatan ekonomi,” ungkap Wanda.

Kolaborasi penelitian ini melibatkan Dr. Charles S.C. Punuhsingon, ST., M.Eng.Sc., dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), serta sejumlah anggota tim peneliti Polimdo, yakni Dr. Steven Johny Runtuwene, M.Eng., Prof. Dr. Hedy Desiree Rumambi, SE., MAk., Yolanda Lagarens, SSi., MHum., Estrela Bella Muaja, ST., MT., Oldi Malfri Lambonan, S.Pd., M.Pd., dan Gratia Venindi Runtuwene.
Diawali FGD Bersama Mitra Griffith University dan Pelaku Usaha Daur Ulang Plastik di Manado
Menurut Wanda, proses perancangan mesin pirolisis diawali dengan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan mitra penelitian dan sejumlah pelaku usaha daur ulang plastik di Kota Manado.

“Kegiatan ini menjadi tahapan penting untuk mengidentifikasi kebutuhan nyata di lapangan, tantangan pengelolaan sampah plastik, kapasitas pelaku usaha, serta peluang penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi lokal,” jelasnya.
Melalui pendekatan partisipatif tersebut, tim peneliti berupaya memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan tidak hanya memenuhi kebutuhan teknis, tetapi juga mempertimbangkan kemudahan pengoperasian, keselamatan kerja, kebutuhan pengguna, dan potensi keberlanjutan usaha pengolahan sampah plastik.
Wanda menambahkan, pelibatan para pemangku kepentingan sejak tahap awal juga menjadi bagian dari penerapan prinsip GEDSI. Dengan demikian, teknologi yang dikembangkan diharapkan tidak sekadar menghasilkan mesin yang berfungsi secara teknis, tetapi turut mendukung pemberdayaan masyarakat dan membuka peluang ekonomi yang lebih inklusif.
Belajar dari Industri Daur Ulang di Brisbane dan Gold Coast, Australia
Sebelum pengembangan mesin pirolisis dilaksanakan, tim peneliti Polimdo dan Unsrat terlebih dahulu mendapat kesempatan mengunjungi Brisbane, Australia, atas undangan Griffith University pada Mei 2026.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, tim melakukan kunjungan lapangan (site visit) ke sejumlah fasilitas dan industri pengolahan serta daur ulang sampah di Brisbane dan Gold Coast.
“Kunjungan ini memberikan kesempatan bagi tim untuk mempelajari praktik pengelolaan sampah, penerapan teknologi, pengolahan limbah, sistem operasional industri daur ulang, serta peluang pengembangan teknologi yang dapat diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pengelolaan sampah di Kota Manado,” ujar Wanda.
Ia menambahkan, pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara kedua institusi menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan inovasi ini.
Melalui kolaborasi tersebut, Polimdo dan Griffith University berupaya menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri dan masyarakat, sekaligus memperkuat kerja sama riset Indonesia–Australia di bidang pengelolaan limbah dan energi berkelanjutan.
Eksplorasi Katalis dari Cangkang Kerang dan Limbah Material Konstruksi
Salah satu aspek penelitian yang dikembangkan dalam kolaborasi ini adalah eksperimen pemanfaatan material limbah sebagai katalis dalam proses pirolisis plastik. Penelitian tersebut dilaksanakan bersama Prof. Prasad Kaparaju dan tim peneliti dari Griffith University.
Material yang dieksplorasi meliputi cangkang kerang laut dan limbah material konstruksi atau construction and demolition waste (C&D), termasuk material berbasis bata merah.
Pemanfaatan kedua jenis material tersebut merupakan bagian dari upaya mengembangkan pendekatan pengolahan limbah yang saling terintegrasi, sehingga material yang sebelumnya tidak dimanfaatkan berpeluang memiliki nilai guna dalam proses pengolahan sampah plastik.
Secara ilmiah, pirolisis merupakan proses dekomposisi termal material organik pada temperatur tinggi dalam kondisi tanpa oksigen atau dengan ketersediaan oksigen yang sangat terbatas. Dalam pengolahan plastik, proses ini dapat memecah rantai polimer menjadi senyawa hidrokarbon dengan rentang berat molekul lebih rendah. Senyawa tersebut selanjutnya dapat terkondensasi menjadi produk cair, sementara prosesnya juga menghasilkan gas dan residu padat.
Penggunaan katalis dalam proses pirolisis bertujuan memengaruhi jalur reaksi dan distribusi produk yang dihasilkan. Katalis dengan sifat kimia dan struktur permukaan tertentu berpotensi membantu pemutusan rantai hidrokarbon, meningkatkan reaksi perengkahan (cracking), serta mengubah komposisi produk cair yang dihasilkan.
Bergantung pada karakteristik material katalis dan kondisi operasional, penggunaannya dapat membantu mengarahkan pembentukan senyawa hidrokarbon dengan rentang ukuran molekul yang diinginkan, mengurangi kebutuhan energi pada reaksi tertentu, atau memperbaiki karakteristik produk.
Melalui pengembangan mesin pirolisis dan eksplorasi material katalis tersebut, kolaborasi Polimdo, Griffith University, dan Unsrat diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan teknologi pengolahan sampah plastik yang lebih inovatif. Selain mendukung upaya pengurangan limbah, penelitian ini juga membuka peluang pemanfaatan hasil olahan plastik sebagai bahan baku yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk mendukung kebutuhan energi berkelanjutan. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post