Manado, Barta1.com – Politeknik Negeri Manado (Polimdo), khususnya Jurusan Elektro, kembali menunjukkan kualitas dan prestasinya di tingkat nasional. Tiga mahasiswi yang diutus mengikuti Kompetisi Mahasiswa Informatika Politeknik Nasional (KMIPN) VIII 2026 di Makassar, Rabu-Sabtu (9-12/9/2026), berhasil mengukir prestasi membanggakan.

Ketiga mahasiswi tersebut adalah Gracia Ester Tendean, Prayati Noviana Daleno, dan Chealsy Meisy Saraisang. Mereka mengikuti perlombaan Elektronika Politeknik se-Indonesia dan berhasil meraih hasil terbaik dengan menyabet Juara 1 Hackathon kategori Creative Idea.
Kepada Barta1.com, Gracia, menceritakan alasan ketertarikannya bersama kedua rekannya untuk mengikuti kompetisi tersebut.
“Saya bersama dua rekan saya tertarik untuk mengikuti lomba ini karena ingin mengembangkan skill kami di bidang yang kami ikuti, serta ingin mencari pengalaman tentang bagaimana rasanya berlomba dengan kampus Politeknik se-Indonesia,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kekompakan ketiganya dalam mengikuti kompetisi bukanlah sesuatu yang baru. Mereka telah saling mengenal dan berteman karena berada di kelas yang sama.
“Sebenarnya kami bertiga pada dasarnya sudah berteman karena sekelas. Kami mencoba untuk membuat tim guna mengikuti kompetisi ini, dan akhirnya kami berjuang untuk melakukan setiap progres yang ada,” ujarnya.
Dalam perlombaan tersebut, ketiganya membawa sebuah karya berjudul “SMART AQUA AI”.
“Di kategori ini kami membawa karya dengan judul SMART AQUA AI: Sistem Smart Aquaculture Berbasis Artificial Intelligence untuk Pengambilan Keputusan dan Prediksi Risiko pada Budidaya Ikan Air Tawar di Kolam Terpal dalam Meningkatkan Produktivitas Budidaya dan Kesejahteraan Ekonomi Pembudidaya di Minahasa Utara,” ucapnya.
Menurut Gracia, ide tersebut muncul dari keterlibatan mereka dalam kegiatan pengabdian di kampus.
“Dari pengabdian tersebut, kami melakukan budidaya ikan kolam air terpal. Nah, dari sinilah kami terpikir untuk membawa pengabdian ini ke karya yang diikutsertakan dalam lomba,” jelasnya.
Ia menjelaskan, karya SMART AQUA AI dirancang untuk membantu para pembudidaya ikan dalam mengambil keputusan berdasarkan data.
“Masalah yang ingin diselesaikan lewat Smart AI ini adalah membantu pembudidaya ikan dalam mengambil keputusan berdasarkan data pembudidaya. Kalau sebelumnya jadwal pemberian pakan, suhu dan kualitas air, serta pencatatan hasil usaha masih dilakukan secara manual, maka dengan adanya sistem ini akan lebih membantu pembudidaya mengambil keputusan bukan hanya berdasarkan perkiraan, tetapi berdasarkan data yang akan diinput dalam sistem ini,” imbuhnya.
Bagi Gracia dan kedua rekannya, teknologi tidak selalu harus diwujudkan dalam sesuatu yang besar dan terlihat spektakuler. Menurutnya, teknologi juga dapat memberikan dampak besar ketika dimulai dari persoalan-persoalan sederhana di tengah masyarakat.
“Terkadang pandangan setiap orang terkait sesuatu yang dibuat dari teknologi itu harus terlihat wow atau besar. Tetapi, kita juga bisa melihat bagaimana peran teknologi yang sebenarnya dimulai dari hal kecil yang dapat menjadi hal besar dengan bantuan teknologi ini,” katanya.
Dalam proses menciptakan karya tersebut, ketiganya terlebih dahulu mendiskusikan berbagai ide sebelum menentukan judul yang sesuai dengan tema yang diberikan.
“Ide yang kami buat ini tentunya didiskusikan terlebih dahulu sebelum menentukan judul yang sesuai dengan tema yang diberikan. Kemudian kami mulai mencari informasi dan berdiskusi dengan konsep yang sudah didapatkan. Selanjutnya, mulai melakukan semua tugas karya yang harus disiapkan. Semuanya pasti tidak berjalan dengan mulus. Ada beberapa revisi yang sudah kami lewati selama proses pembuatan karya ini,” tambahnya.
Gracia mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar selama mengikuti kompetisi adalah membagi waktu antara persiapan lomba, aktivitas perkuliahan, hingga kegiatan organisasi.
“Hal ini menjadi tantangan kami,” ujarnya.
Meski harus berhadapan dengan peserta lain yang memiliki kemampuan berbeda-beda, ketiganya tetap berusaha menjaga rasa percaya diri.
“Kami tetap percaya diri meski bertemu dengan teman-teman yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Dan dari sinilah kami belajar untuk tetap percaya diri dengan kemampuan kami,” singkatnya.
Dalam pembagian tugas, ketiganya berusaha menyatukan kemampuan dan konsep yang dimiliki masing-masing untuk menghasilkan sebuah karya yang utuh. Mereka juga saling membantu ketika menghadapi kesulitan.
“Kami mencoba menyatukan konsep yang masing-masing kami miliki untuk disatukan dalam konsep ini. Tapi, kami tetap saling membantu dan jika ada kesulitan, kami saling berdiskusi dan mencari jalan keluar,” katanya.
Persiapan untuk mengikuti kompetisi tersebut dilakukan dalam waktu yang cukup singkat, yakni sekitar dua minggu.
Perjuangan dan kerja keras: Ketiganya akhirnya membuahkan hasil.
Saat mengetahui karya SMART AQUA AI berhasil meraih Juara 1 Hackathon kategori Creative Idea, ketiganya mengaku tidak menyangka sekaligus bersyukur atas pencapaian tersebut.
“Dengan hasil yang didapatkan, Tuhan Yesus baik, dan semua kami persembahkan untuk kemuliaan Tuhan,” ucapnya.
Bagi ketiganya, setiap proses yang dilalui dalam kompetisi tersebut tidak terlepas dari penyertaan Tuhan. Mereka meyakini bahwa Tuhan memberikan hikmat dan kekuatan untuk menjalani seluruh proses dengan kerja sama tim yang baik.
“Setiap proses melibatkan Tuhan. Tuhan memberikan hikmat untuk dapat melakukan semuanya dengan kerja sama tim yang hebat,” tuturnya.
Lebih dari sekadar sebuah kemenangan, kesempatan mengikuti kompetisi nasional tersebut menjadi pengalaman berharga bagi ketiganya. Mereka tidak hanya membawa nama baik Politeknik Negeri Manado, tetapi juga mendapatkan kesempatan bertemu dan belajar dari mahasiswa-mahasiswa dari berbagai Politeknik di Indonesia.
“Kesempatan yang Tuhan berikan untuk kami bertiga, dipersatukan untuk bisa membawa nama baik kampus kami sehingga berada di titik ini. Bertemu dengan teman-teman yang hebat dari Politeknik lainnya, serta belajar untuk saling memahami kepribadian dan budaya mereka masing-masing,” sahutnya.
Pernyataan pembimbing Tim SMART AQUA AI.
Direktur Polimdo, Dra Maryke Alelo , MBA memulai pembimbing ketiga mahasiswi Jurusan Teknik Elektro Polimdo, Marson Budiman, SST., MT, mengungkapkan bahwa pencapaian dalam ajang KMIPN tingkat nasional memiliki arti penting bagi institusi.
Menurutnya, prestasi tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam menjawab indikator kinerja utama, khususnya melalui keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan di luar program studi sekaligus mengimplementasikan hasil pembelajaran yang diperoleh selama perkuliahan.
“Sedangkan untuk jurusan dan prodi, ini sebagai capaian kompetisi oleh mahasiswa adalah menjawab kurikulum yang berorientasi pada project-based learning,” jelasnya.
Sebagai pembimbing sekaligus Ketua Jurusan Teknik Elektro Polimdo, Marson mengatakan, bahwa keikutsertaan dalam ajang KMIPN bukanlah hal baru bagi Polimdo. Sebelumnya, melalui Program Studi Teknik Informatika, Polimdo juga telah beberapa kali berhasil meraih predikat juara di berbagai kategori dalam kompetisi tersebut.
“Yang perlu terus dilakukan adalah mempertahankan mutu dan metode belajar sehingga mahasiswa dapat terus berkompetisi,” singkatnya sambil tersenyum.
Sementara itu, karya yang diangkat ketiga mahasiswi tersebut berangkat dari persoalan budidaya ikan air tawar menggunakan kolam terpal yang kemudian dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Melalui inovasi tersebut, dikembangkan sebuah platform yang dapat mengedukasi dan membantu para pembudidaya ikan air tawar untuk beralih dari pola budidaya konvensional menuju konsep smart aquaculture.
Marson menjelaskan, latar belakang munculnya ide tersebut tidak terlepas dari kondisi para pembudidaya ikan air tawar yang menghadapi keterbatasan lahan untuk dijadikan kolam.
“Latar belakang ide ini adalah banyak petani budidaya ikan air tawar memiliki keterbatasan lahan untuk dijadikan kolam. Dengan kolam terpal, petani bisa membudidayakan ikan air tawar walaupun memiliki keterbatasan lahan,” tuturnya.
Lebih lanjut, Marson mengatakan bahwa perkembangan teknologi AI yang dipadukan dengan parameter dari berbagai perangkat sensor sebagai input dalam sistem diharapkan mampu menjawab sejumlah persoalan yang selama ini dihadapi para pembudidaya.
Di antaranya adalah pemberian pakan yang tidak teratur, kualitas air yang tidak terpantau secara optimal, keterlambatan dalam mendeteksi penyakit, hingga proses bisnis budidaya yang belum tercatat secara berkelanjutan.
“Maka dari itu, AI akan memberikan rekomendasi, dan rekomendasi tersebut akan diimplementasikan oleh petani, sehingga keberlanjutan budidaya ikan air tawar dapat terus ditingkatkan,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post