Kotamobagu, Barta1.com – Bagi masyarakat Bolaang Mongondow Raya, kehadiran PT PLN (Persero) kini tidak lagi sekadar tentang tiang pancang, bentangan kabel, atau aliran daya yang menerangi ruang tamu.
Melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kotamobagu, perusahaan setrum negara ini sukses mentransformasikan perannya menjadi motor penggerak sosial yang merangkul warga, baik di tengah badai bencana maupun dalam geliat pembangunan ekonomi akar rumput.
Sepanjang Semester I Tahun 2026, PLN UP3 Kotamobagu secara masif merealisasikan rangkaian program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Langkah strategis ini merupakan pengejawantahan nyata dari prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) demi mendukung transisi menuju entitas energi global yang berkomitmen pada keberlanjutan.
Jejak kemanusiaan paling lekat terasa ketika banjir bandang menerjang wilayah Desa Solimandungan I dan Desa Solimandungan II, Kabupaten Bolaang Mongondow. Tak sekadar berjibaku memulihkan jaringan listrik yang lumpuh pascabencana, tim PLN bergerak cepat menyalurkan paket bantuan darurat mulai dari sembako, air mineral, kasur, tikar, hingga tandon air bersih guna mempercepat pemulihan fisik dan psikologis warga terdampak.
Namun, PLN memahami ketahanan sebuah wilayah tidak hanya dibangun di atas bantuan darurat yang bersifat sementara. Di Desa Liberia Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow, PLN UP3 Kotamobagu mengambil langkah visioner dengan membangun infrastruktur jangka panjang berupa jalan perkebunan yang menjadi tumpuan baru bagi mobilitas warga setempat.
Kabupaten Bolaang Mongondow dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama di Sulawesi Utara, di mana sektor pertanian menyumbang porsi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah. Keterbatasan akses jalan usaha tani selama ini kerap menjadi hambatan klasik yang melambungkan biaya logistik pascaproduksi hingga 30% bagi petani lokal.
Dampak positif dari urat nadi perekonomian baru ini diakui langsung oleh Sangadi (Kepala Desa) Liberia Timur, Rival Mahdum. Ia menyatakan bahwa infrastruktur jalan yang layak telah memotong rantai distribusi yang selama ini menyulitkan para petani di desanya saat musim panen tiba.
“Pembangunan jalan perkebunan ini memberikan manfaat yang sangat besar. Sekarang petani jauh lebih mudah mengangkut hasil panen, dan aktivitas ekonomi desa otomatis meningkat. Atas nama Pemerintah Desa dan masyarakat, kami mengucapkan terima kasih kepada PLN UP3 Kotamobagu atas kepedulian yang benar-benar menyentuh kebutuhan mendasar kami,” ungkap Rival dengan nada apresiatif, baru-baru.
Komitmen untuk menghadirkan nilai tambah bersama (creating shared value) ini menjadi landasan operasional bagi manajemen di tingkat tapak. PLN tidak ingin program kemitraan berjalan sendiri tanpa adanya integrasi dengan kebutuhan riil yang dihadapi oleh masyarakat maupun pemerintah daerah setempat.
Manager PLN UP3 Kotamobagu, Reki Wowiling, menegaskan keberhasilan seluruh program yang bergulir selama enam bulan pertama di tahun 2026 ini merupakan buah dari sinergi yang matang bersama para stakeholders. Pihaknya memosisikan diri sebagai mitra strategis pembangunan daerah, bukan sekadar penyedia daya.
“Kami tidak hanya berfokus pada penyediaan listrik yang andal, tetapi juga berkomitmen menjawab kebutuhan nyata masyarakat di lapangan. Selama Semester I Tahun 2026, kami berupaya hadir lewat program yang tepat sasaran demi memberikan nilai tambah (shared value) bagi seluruh pemangku kepentingan dan mendukung pembangunan daerah,” ujar Reki secara lugas.
Senada dengan itu, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo), Usman Bangun, melihat akselerasi program TJSL ini sebagai bentuk nyata dari kehadiran negara. Baginya, alokasi anggaran sosial korporasi harus bertindak sebagai stimulus ekonomi yang berkelanjutan, bukan sekadar instrumen filantropi jangka pendek.
Keberhasilan implementasi program ini pada akhirnya bertumpu pada kolaborasi erat antara korporasi, pemerintah daerah, pemerintah desa, serta elemen masyarakat setempat. Sinergi lintas sektor inilah yang menjadi kunci utama penentu agar seluruh bantuan yang dikucurkan tepat sasaran dan berdaya guna dalam jangka panjang.
“Setiap rupiah yang dialokasikan dalam program TJSL harus mampu menjadi stimulus bagi kesejahteraan masyarakat. Apa yang dilakukan oleh PLN UP3 Kotamobagu di Semester I ini adalah bukti bahwa korporasi hadir di garis depan, baik saat masyarakat menghadapi masa sulit akibat bencana, maupun dalam membangun fondasi ekonomi desa. Kami berkomitmen untuk terus memperluas penerima manfaat program ini di seluruh wilayah Suluttenggo agar tercipta pemerataan ekonomi yang berkelanjutan,” jelas Usman. (**)
Editor: Ady Putong


Discussion about this post