Manado, Barta1.com – Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-19, IAKN Manado menggelar refleksi sekaligus aksi peduli lingkungan di Pantai Tateli, Jumat (19/6/2026). Kegiatan ini menjadi wujud nyata implementasi nilai Asta Cita melalui penguatan ekoteologi yang diwujudkan dalam tindakan langsung menjaga kelestarian alam.

Aksi yang diprakarsai oleh UKM Mahasiswa Pecinta Alam Consili Solafide (MPA C.S) bersama berbagai organisasi mahasiswa tersebut melibatkan 225 peserta. Mereka berasal dari Program Studi Teologi, Pendidikan Agama Kristen, Pendidikan Agama Kristen Anak Usia Dini, serta himpunan mahasiswa Program Studi Teologi dan Program Studi Misiologi dan Komunikasi Kristen di lingkungan IAKN Manado.

Dalam kegiatan bersih pantai itu, para peserta berhasil mengumpulkan sebanyak 84,6 kilogram sampah. Jumlah tersebut terdiri dari 46,3 kilogram sampah plastik, 21 kilogram sampah kaca, dan 17,3 kilogram sampah B3. Temuan ini menjadi gambaran nyata bahwa pencemaran di kawasan pesisir masih menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian dan keterlibatan semua pihak.

Lebih dari sekadar membersihkan lingkungan, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk menghidupkan nilai-nilai ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui aksi nyata, mahasiswa diajak membangun kesadaran ekologis, memperkuat tanggung jawab sosial, serta menumbuhkan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Rektor IAKN Manado, Dr. Olivia Cherly Wuwung, S.T., M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan konsep “IAKN Berdampak”, yaitu perguruan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

“Melalui momentum Dies Natalis ke-19, IAKN Manado terus memperkuat komitmennya dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan bertanggung jawab terhadap kelestarian ciptaan Tuhan,” ungkap Dr. Olivia.
Sebelum aksi dimulai, dosen IAKN Manado, Jefry Kawuwung, S.Pd.K., M.Th., memberikan pembekalan kepada para peserta mengenai jenis-jenis sampah yang akan ditemukan selama kegiatan berlangsung.
“Kita perlu mengenal dua jenis sampah yang ada di sekitar kita, yaitu organik dan anorganik. Fokus kita adalah sampah anorganik, terutama plastik seperti botol plastik dan kantong kresek,” jelas Jefry saat memberikan arahan kepada mahasiswa sebelum turun ke lokasi pembersihan.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan jenis sampah lain, seperti limbah berbahan karet yang berasal dari sisa kabel, ban bekas, sandal, sarung tangan, dan berbagai material sejenis.
“Ada pula jenis sampah anorganik yang secara spesifik dikategorikan sebagai limbah tekstil atau sampah residu, seperti kaos bekas, pakaian dalam, dan bahan sejenis lainnya,” tambahnya.
Menurut Jefry, sampah B3 juga menjadi perhatian khusus karena memiliki tingkat bahaya yang lebih tinggi dibandingkan jenis sampah lainnya.
“Di dalam kategori ini terdapat baterai bekas, lampu neon, obat kedaluwarsa, hingga cairan kimia rumah tangga,” ujarnya.
Ia juga menyoroti penggunaan styrofoam yang dikenal sebagai salah satu jenis sampah yang sulit terurai di alam, sehingga mengimbau mahasiswa untuk mengurangi penggunaannya.
Sementara itu, mahasiswi IAKN Manado, Novie Lesa, mengaku bahwa kegiatan tersebut merupakan pengalaman pertamanya mengikuti aksi peduli lingkungan dalam skala besar.
“Kegiatan seperti ini baru pertama kali saya ikuti. Saya merasa senang karena bisa terlibat dan bekerja bersama banyak mahasiswa lainnya,” tuturnya.
Menurut Novie, kegiatan tersebut memberikan kesadaran yang lebih mendalam tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya.
“Dalam aktivitas sehari-hari, kami merasa bersalah jika membuang sampah sembarangan. Melalui aksi ini, kami semakin dikuatkan untuk terus menjaga lingkungan dan terlibat dalam berbagai kegiatan peduli alam,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, IAKN Manado tidak hanya merayakan perjalanan usia ke-19, tetapi juga menegaskan komitmennya dalam membangun generasi yang peduli terhadap sesama dan lingkungan. Aksi sederhana di Pantai Tateli menjadi pesan kuat bahwa menjaga ciptaan Tuhan dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post