Manado, Barta1.com — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado kembali menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi. Kali ini, kegiatan tersebut berkolaborasi dengan Persma Vellichor Psikologi Unima, LPM SUAM IAIN Manado, serta BPK Oi Manado. Acara berlangsung di Sekretariat AJI Manado pada Sabtu (23/05/2026).

Film dokumenter karya Dhandy Laksono itu berdurasi sekitar satu setengah jam dan menghadirkan beragam pandangan dari para peserta yang hadir.

Ketua AJI Manado, Fransiskus Talokon, menyampaikan bahwa Pesta Babi merupakan salah satu bentuk karya jurnalistik investigasi.
“Kita bisa melihat bahwa ini adalah bagian dari produk karya jurnalistik investigasi yang dilakukan oleh Dhandy Laksono bersama tim,” ungkap Fransiskus.
Ia juga menjelaskan, dalam nobar kali ini tidak dihadirkan narasumber agar diskusi tidak dianggap menggiring opini tertentu.
“Di sini tidak ada narasumber seperti pada kebanyakan kegiatan nobar lainnya. Kami ingin semua peserta dapat melihat dari berbagai perspektif, mengingat isu Papua sering memunculkan pro dan kontra,” jelasnya.
Sementara itu, Bidang Pendidikan BPK Oi Manado, Fandy Umar, menyampaikan apresiasi kepada AJI Manado atas kolaborasi yang terjalin dalam kegiatan tersebut.
“Dalam beberapa literatur yang pernah saya baca, ada seorang penulis Papua yang mengatakan bahwa sekalipun rambutmu lurus, selama memiliki perjuangan yang sama dengan masyarakat Papua, meski baru sebatas di hati, maka ia adalah saudara Papua,” tutur Fandy.
Ia juga menyinggung keterlibatan Oi Manado dalam perjuangan masyarakat pesisir hingga saat ini.
“Sampai sekarang, Oi tetap terlibat bersama masyarakat pesisir untuk menjaga ruang hidup mereka,” tambahnya.
Perwakilan LPM SUAM IAIN Manado, Wa Umi, mengaku baru pertama kali menonton film dokumenter tersebut. Sebelumnya, ia sempat mendengar anggapan bahwa film itu bersifat provokatif.
“Saya pernah dilarang teman untuk menonton film ini karena dianggap memprovokasi. Namun setelah menontonnya, saya justru memahami bahwa persoalan Papua bisa dilihat dari perspektif yang lebih luas,” terang Umi.
Menurutnya, apa yang selama ini ia dengar ternyata berbeda dengan apa yang disaksikan langsung melalui film tersebut.
“Film ini membuat kami memahami perspektif Kak Yosep bahwa Papua adalah persoalan yang sangat kompleks untuk dibahas. Karena itu, dibutuhkan cara pandang yang lebih terbuka dalam melihat konteks film ini,” imbuhnya.
Hal senada juga disampaikan Geriet L. Senewe dari Persma Vellichor Psikologi Unima. Menurutnya, film dokumenter tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagi masyarakat.
“Saya sudah menonton film ini tiga kali. Namun, ada teman dari Papua yang mengatakan bahwa film ini lebih menjadi refleksi bagi masyarakat non-Papua. Intinya, kita harus berada dalam satu perahu pemahaman yang sama terlebih dahulu sebelum membahasnya secara lebih lugas,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post