• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Senin, Mei 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur Sejarah

Serbuan Armada Padtbrugge dan Kesultanan Ternate ke Nusa Utara 1677

by Iverdixon Tinungki
23 Desember 2025
in Sejarah
0
Perang Nusa Utara 1677. (Gambar: Ilustrasi AI)

Perang Nusa Utara 1677. (Gambar: Ilustrasi AI)

0
SHARES
68
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BARTA1.COM– Lautan di utara Celebes itu biasanya tenang, hanya riak kecil yang mencium bibir pantai pasir putih. Namun, pada fajar 1 November 1677, ketenangan itu robek oleh deru ombak yang membelah lambung kapal-kapal perang.

Robertus Padtbrugge, Gubernur Belanda untuk Ternate dan Maluku, berdiri tegak di haluan, menatap siluet Kerajaan Siau yang kian mendekat dengan tatapan sedingin es.

Di belakangnya, 1.180 serdadu bersenjata lengkap bersiaga, berdampingan dengan pasukan Sultan Ternate, Kaitjil Sibori.

Bagi Padtbrugge, Nusa Utara bukanlah sekadar gugusan pulau eksotis yang membatasi cakrawala, melainkan bidak catur strategis. Di matanya, wilayah ini adalah terminal transit yang menggiurkan, gudang minyak kelapa, dan tanah yang menyimpan rahasia emas hijau: rempah-rempah.

Gempuran itu bermula dengan dentuman meriam yang memekakkan telinga. Benteng Sancta Rosa, simbol keperkasaan Spanyol di tanah Siau, tak berdaya menghadapi amuk sang Gubernur.

Asap hitam membubung, menutupi langit yang semula biru jernih. Padtbrugge tak hanya datang untuk menang; ia datang untuk menghapus jejak lawan-lawannya hingga ke akar.

Kejatuhan Siau menjadi lonceng kematian bagi kedaulatan kerajaan-kerajaan lain di Nusa Utara. Satu per satu, para penguasa dari Tabukan, Tahuna, Kendahe, hingga Tagulandang dipaksa bertekuk lutut.

Padtbrugge bukan sekadar panglima perang, ia adalah negosiator ulung yang licik, membawa pena di satu tangan dan pedang di tangan lainnya untuk memaksakan sebuah “perjanjian perdamaian” yang getir.

Dalam catatan hariannya, Het Journal van Padtbrugge’s reis naar noord-Celebes en de Noordereilanden, ia dengan dingin merinci bagaimana peradaban itu dilumpuhkan.

“Segalanya harus tunduk pada kepentingan Kompeni,” tulisnya tersirat dalam tiap kebijakan yang ia tetapkan.

Monopoli perdagangan rempah dan perbudakan menjadi harga mati yang harus dibayar oleh rakyat kepulauan.

Tragedi paling menyayat hati terjadi ketika Padtbrugge memerintahkan pemusnahan massal. Ribuan pohon cengkeh, yang telah menjadi denyut nadi ekonomi warga, ditebang dan dibakar hingga menjadi abu. Ia ingin memastikan tidak ada satu butir pun rempah yang jatuh ke tangan pesaing Belanda.

Langit Nusa Utara saat itu beraroma wangi yang tragis—wangi kematian dari tanaman yang seharusnya menjadi sumber kehidupan.

Tak hanya alam yang dijarah, tatanan sosial pun diporak-porandakan. Dengan kelicikan diplomasi, Padtbrugge memaksa para raja untuk memberikan kesaksian palsu.

Ia butuh dalih untuk membenarkan serangannya yang terang-terangan melanggar Perjanjian Westphalia 1648 antara Belanda dan Spanyol.

“Mereka dipaksa mengakui apa yang tidak mereka lakukan demi menyelamatkan rakyatnya,” ujar seorang pengamat sejarah lokal merefleksikan kepedihan masa lalu itu.

ini bukan sekadar kekalahan militer, melainkan sebuah bencana peradaban. Ajaran-ajaran lama dan akar budaya lokal dicabut paksa, digantikan oleh supremasi nilai-nilai Barat yang dibawa oleh VOC.

Padtbrugge berhasil mengubah wajah Nusa Utara menjadi wilayah taklukan yang patuh, meski di bawah permukaan, luka itu tetap basah dan bernanah selama berabad-abad.

Nusa Utara sendiri adalah benteng terdepan yang kini kita kenal sebagai Kabupaten Sangihe, Talaud, dan Sitaro. Wilayah seluas 2.290,76 km² ini merupakan gerbang yang berbatasan langsung dengan Filipina.

Sejarah mencatat, jauh sebelum Padtbrugge datang dengan meriamnya, para pelaut dari China telah lebih dulu memuji keindahan dan kekayaan alam kepulauan ini pada abad ke-15.

Eropa kemudian menyusul melalui ekspedisi Spanyol dan Portugis yang menyematkan nama “Jalur Rempah” pada peta navigasi mereka. Di kepulauan ini, kerajaan-kerajaan maritim seperti Manganitu, Siau, dan Tabukan pernah berdiri dengan gagah.

Mereka adalah entitas berdaulat yang memiliki sistem pemerintahan mapan sebelum akhirnya diseret ke dalam pusaran ambisi kolonial yang merusak segalanya.

–kerajaan ini bukan sekadar nama dalam buku sejarah usang. Mereka bertahan melintasi zaman, dari pengaruh Spanyol hingga cengkeraman Belanda, sampai akhirnya memilih melebur ke dalam pangkuan Republik Indonesia setelah Proklamasi 1945.

Namun, bayang-bayang invasi 1677 tetap menjadi pengingat betapa mahal harga sebuah kedaulatan di tengah kepungan bangsa-bangsa pemburu rempah.

Kini, ombak di Nusa Utara tetap berdebur dengan nada yang sama, namun sejarah telah mencatat sebuah bab kelam tentang seorang Gubernur bernama Padtbrugge.

Ia mungkin berhasil mengamankan monopoli perdagangan bagi VOC, tetapi ia juga mewariskan cerita tentang ketabahan sebuah bangsa kepulauan yang bangkit dari abu pembakaran cengkeh untuk menjaga identitas mereka sendiri. (*)

Penulis/ Editor:

Iverdixon Tinungki

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Filsafat Kehidupan Manusia Sangihe Talaud. ( Gambar: Ilustrasi AI)

Mengenal Filsafat Kehidupan Manusia Sangihe Talaud

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Michael Thungari Serahkan Hewan Kurban di Embuhanga 25 Mei 2026
  • Berkomitmen Terus Melaju ‘MengEMASkan Indonesia’, PT Pegadaian Cetak Kinerja Gemilang di Awal 2026 24 Mei 2026
  • Sudah Sebulan Lebih Dikabarkan Keluar Daerah Tanpa Izin, Kades Tule Utara Diduga Kuat Pergi Menambang Emas di Manokwari 24 Mei 2026
  • Adhyaksa FC Home Base di Manado Makin Kencang, Persma Legend Dukung 23 Mei 2026
  • Semangat Konservasi di Pantai Saidan, Artsas Family Edukasi dan Tanam Bibit Mangrove 23 Mei 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In