BARTA1.COM– Di ufuk utara Nusantara, di mana ombak memeluk erat barisan pulau, suara tagonggong bukan sekadar tabuhan kulit perkusi. Ia adalah detak jantung yang memacu napas sebuah peradaban.
Di sana, sastra tidak hanya dibaca; ia dihidupi sebagai kompas moral. Masyarakat Sangihe memandang Sasambo atau puisi dengan takzim, meletakkannya sejajar dengan ilmu pengetahuan dan kebenaran hakiki yang menuntun langkah mereka di tengah samudra luas.
Sejarah mencatat bahwa kecerdasan sastrawi dan musikal telah berakar ribuan tahun di Nusa Utara. Jika Yunani memiliki Horace dengan prinsip dulce et utile (indah dan berguna), Sangihe memiliki Sasambo.
“Ketika sastra menjadi sabda, maka musik adalah perahu yang membawanya mengarungi kehidupan,” begitulah filosofi yang hidup di sana.
Di tangan para jenius lokal, syair dan irama adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam upacara kehidupan.
Sejarawan dan antropolog Alex Ulaen memandang fenomena ini sebagai sebuah labirin simbol yang kaya. Menurutnya, bingkai pandangan masa lalu yang penuh petanda ini hanya bisa ditembus oleh mereka yang memiliki kecakapan puitik dan estetik yang mumpuni.
Bagi Alex, memahami Sangihe adalah memahami bagaimana simbol-simbol tersebut bekerja dalam keseharian masyarakatnya.
Secara etimologis, Sasambo bukanlah sekadar kata tanpa makna. Ia lahir dari rahim bahasa Sangihe: Sasasa yang berarti pengajaran atau petuah penyucian, dan Sambo yang berarti syair atau mantra magis.
Gabungan keduanya melahirkan sebuah sistem nilai yang mengatur tata krama manusia dengan penciptanya, sesamanya, dan alam semesta yang mereka huni.
Pemikir dan sejarawan John Rahasia mengungkapkan bahwa manusia Sangihe menjalankan filsafat kehidupannya melalui lima unsur utama yang terpatri dalam anatomi tubuh manusia.
“Manusia Sangihe melihat kehidupan melalui lima pilar,” ungkap John.
Pilar pertama adalah Tembo atau kepala, yang mewakili aspek kecerdasan dan kearifan. Ini adalah pencarian makna hidup melalui logika, sebuah upaya agar hidup tak menjadi misteri yang menakutkan, melainkan rahasia yang tersingkap melalui refleksi.
Melangkah ke bagian dada, terdapat Seba Kuaneng atau dada kanan yang melambangkan kemanusiaan (humanity). Unsur ini memiliki resonansi yang kuat dengan eksistensialisme modern.
Ia adalah ajakan untuk menjalani hidup secara sadar dan penuh keberanian, bukan sekadar membebek pada orang lain atau terbuai hal duniawi. Di sini, nilai seorang manusia ditentukan oleh kemampuannya menciptakan makna bagi keberadaannya sendiri.
Berseberangan dengannya adalah Seba Kuihi atau dada kiri, yang melambangkan keyakinan. Seperti filosofi Timur pada umumnya, pilar ini menekankan keseimbangan antara yang profan (duniawi) dan yang transenden (ilahiah). Ini adalah ruang bagi hal-hal yang melampaui pengalaman fisik, sebuah penyerahan diri kepada Tuhan atau kebenaran tertinggi yang menjadi jangkar bagi jiwa-jiwa yang haus akan spiritualitas.
Turun ke bagian tengah tubuh, terdapat Tiang atau perut yang merepresentasikan kesejahteraan. Namun, jangan salah mengartikannya sebagai kerakusan. Dalam filsafat Sangihe, ini adalah kajian tentang bagaimana manusia mencapai kualitas hidup yang layak secara material, spiritual, dan sosial. Kesejahteraan di sini adalah tentang keadilan dan kemampuan individu untuk berfungsi secara optimal dalam sistem sosial mereka.
Unsur terakhir yang tak kalah sakral adalah Manu Kadio atau alat kelamin, yang melambangkan regenerasi. Ini bukan sekadar soal reproduksi biologis, melainkan sebuah transformasi nilai dan pemikiran.
“Ini adalah perenungan tentang keberlanjutan,” tulis buku Nusa Utara masa Purba Hingga Era Kerajaan. Regenerasi dalam pandangan Sangihe adalah tentang bagaimana ilmu ditransfer dan pemimpin baru yang berintegritas dibentuk untuk melawan arus individualisme dan apatisme.
Kelima unsur ini menyatu dalam Sasambo, menjadikannya sebagai ritual puncak dalam tradisi Sasahara dan Sasalili.
Bagi etnik Sangihe, Sasambo adalah ibu kandung dari segala filsafat kehidupan. Ia bukan sekadar warisan yang berdebu di lemari sejarah, melainkan sebuah jalan hidup (Lebensphilosophie) yang terus berdenyut, mengkritik mekanisasi zaman dengan pengalaman rasa yang otentik.
Melalui Sasambo, masyarakat Sangihe Talaud tidak hanya bertahan hidup, tetapi mereka sedang menempuh perjalanan menuju kearifan.
Mereka membuktikan bahwa di pulau-pulau kecil itu, filsafat tidak melulu lahir dari buku-buku tebal di perpustakaan Eropa, melainkan dari dialog antara manusia, laut, dan Tuhan yang dilantunkan dalam bait-bait suci Sasambo.
Kini, di tengah gempuran modernitas, filsafat manusia Sangihe tetap berdiri kokoh seperti karang. Ia mengingatkan kita bahwa hidup adalah sebuah harmoni antara logika, kemanusiaan, iman, kesejahteraan, dan masa depan.
Sebuah pesan abadi yang terus dialunkan lewat petikan dawai dan tabuhan tagonggong, menembus batas waktu dan ruang. (*)
Penulis/Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post