Singapura, Barta1.com — Bahasa Manado masuk beberapa bahasa ibu dalam pentas teater produksi Indonesia-Jepang lewat lakon Dionysus, yang melibatkan sutradara internasional nan legendaris dari Jepang, Suzuki Tadashi.
Lakon “Dionysus”, sebuah tragedi Yunani, bakal jadi pembuka gelaran Singapore International Festival of Arts (SIFA) pada Jumat, 17 Mei 2019 besok, di Victoria Theatre Singapura. Bahasa lain yaitu Jawa, Batak, Madura, Sunda, Rejang, termasuk juga Jepang dan Mandarin.
Kenapa Bahasa Manado? Sebab dalam garapan lakon tersebut melibatkan 16 aktor asal Indonesia, satu diantaranya Seftino Alexandro Sambalao dari Manado, dan beberapa pemain asal Jepang dan Tiongkok. Seftino Alexandro Sambalao, seorang aktor dari Sulawesi Utara (Sulut) yang bernaung di bawah Sanggar Kreatif Manado.
Aktor asal Sulut yang akrab disapa Sandro saat diwawancarai Barta1 belum lama di Manado mengatakan, untuk persiapan menuju pentas teater tersebut, dia telah mengikuti serangkaian pelatihan baik di Toga, Jepang, Jakarta, Bogor, dan Bali.
Sandro sendiri adalah salah satu aktor Sanggar Kreatif Manado yang pernah meraih penghargaan Aktor Terbaik dalam Festival Teater Remaja Indonesia tahun 2016, seiring dengan terpilihnya Sanggar Kreatif Manado sebagai grup terbaik festival teater tingkat nasional yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki.
Dionysus bakal jadi pembuka dalam gelaran Singapore International Festival of Arts (SIFA) 2019. Terakhir, Dionysus dipentaskan di Candi Prambanan, Yogyakarta pada tahun lalu. Dionysus merupakan lakon adaptasi naskah Yunani yang ditulis Euripides. Dalam interpretasi Suzuki, lakon Dionynus berporos pada pertentangan suatu nilai baru dengan yang lama.
Proyek lintas budaya di bawah payung produksi SCOT (Suzuki Company of Toga) dan Purnati Indonesia ini membutuhkan proses kreatif hingga tiga tahun sebelum akhirnya dipentaskan tahun lalu.
Sejauh ini, lakon tentang tragedi seputar dewa arak dan pesta itu telah mentas di dua negara, Jepang dan Indonesia, dan kini akan membuka festival internasional di Singapura, pada 17-18 Mei, di Victoria Theatre. Suzuki tentu punya kenangan pada Victoria Theatre, ketika terakhir kali ia pentas di sana membawakan lakon The Trojan Women dalam ajang yang sama pada 2009. Asisten Sutradara Bambang Prihadi mengatakan metode yang digunakan sang maestro itu dalam membentuk keaktoran.
“Metodenya sekilas bertumpu pada fisik. Prinsipnya clear, hanya sumber energi, pernapasan teratur, gravitasi, keseimbangan, diolah dari metode turunannya. Dasarnya jejak bumi, itu cara setiap aktor mampu kenali tubuhnya, dari sumber energi disalurkan ke kaki sebagai alat jejak utama dan bumi adalah tempatnya,” katanya dalam konferensi pers Dionysus menuju pentas di SIFA 2019, di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Kamis, (4/4/2019) lalu, lewat rilis yang dikirim ke Barta1.com.
“Latihan terstruktur dan efektif, mengenal tubuh dan irama lewat musikalitas. Metode Suzuki yang begitu efektif, sangat cocok dengan tradisi Timur, sangat rasional. Ketika aktor mampu kuasai satu atau dua metode atau semua metode, transformasinya ke karya yang dibuat,” tambah dia.
Produser pementasan Dionysus, Restu Imansari Kusumaningrum, mengungkapkan, alasan SIFA memilih pentas teater lintas budaya ini sebagai pembuka ialah juga karena faktor Suzuki Tadashi, sebagai teaterawan yang dihormati di kancah internasional.
Apakah Dionysus berpeluang mentas di Jakarta, Restu masih melihat kemungkinan ke depannya. “Ini menjadi langkah panjang, dan memang tidak mudah untuk membawa Suzuki mendarat di suatu tempat,” ucapnya seraya mengemukakan adanya tawaran bermain di beberapa negara yang juga tidak diiyakan.
Setelah dari SIFA, Dionysus akan melanjutkan turnya bermain di Theatre Olympics ke-9 di Jepang, pada 22 dan 21 September tahun ini. Selain diproduseri oleh SCOT dan Purnati Indonesia, produksi Dionysus juga diproduseri Japan Foundation. (**)
Penulis: Iverdixon Tinungki

Discussion about this post