SANGIHE, BARTA1.COM — Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari mengajak pengurus Dewan Adat Kabupaten Kepulauan Sangihe periode 2025–2028 untuk aktif menulis dan mendokumentasikan warisan budaya. “Sudah saatnya Dewan Adat menulis. Kita punya begitu banyak cerita rakyat, syair, dan kisah leluhur yang belum tertulis,” ujar Michael saat pelantikan di Tahuna Beach Hotel, Sabtu (26/10/2025).
Bupati mengatakan kemajuan teknologi informasi harus dimanfaatkan untuk pelestarian budaya. “Teknologi bukan ancaman. Justru alat untuk menyelamatkan memori kolektif kita,” ucapnya. Ia mencontohkan, Dewan Adat dapat mengumpulkan naskah lisan, mantra, dan kisah kepahlawanan dari berbagai kampung lalu mendokumentasikannya dalam bentuk buku, artikel, atau arsip digital.
Dalam sambutannya, Michael mengutip sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan peradabannya.” “Kata-kata itu sangat dalam,” ujar Bupati. “Ia mengingatkan kita bahwa budaya yang tidak ditulis akan hilang, meski dihafal seribu kali.”
Michael menegaskan bahwa dokumentasi budaya merupakan bentuk pengabdian bagi peradaban. “Mereka yang menulis akan hidup abadi dalam sejarah bangsanya,” katanya. Ia berharap Dewan Adat menjadi pelopor literasi budaya digital di Sangihe. “Warisan leluhur harus diubah menjadi warisan literasi agar tetap hidup dan menginspirasi lintas generasi,” pungkasnya.
Siapa Pramoedya Ananta Toer yang pernyataanya dikutip Bupati Michael Thungari?
Pramoedya Ananta Toer (1925–2006) adalah sastrawan besar Indonesia. Karyanya sarat nilai kemanusiaan, sejarah, dan semangat melawan penindasan. Salah satu karya paling terkenal ialah Tetralogi Buru atau Tetralogi Bumi Manusia, terdiri atas empat novel: Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).
Lewat tulisannya, Pramoedya membangkitkan kesadaran nasional dan semangat intelektual bangsa. Hidupnya banyak diwarnai penjara dan sensor politik, namun ia tetap menulis bahkan di balik jeruji besi. Baginya, menulis adalah cara manusia melawan lupa.
Ia pernah dinominasikan untuk Hadiah Nobel Sastra dan dikenang lewat kalimat terkenalnya: “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan peradabannya.”
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post