Manado, Barta1.com – Beragam luapan aspirasi disampaikan oleh para perempuan dalam sebuah panggung ekspresi yang digelar oleh Aliansi Perempuan Indonesia (API) Sulawesi Utara (Sulut). Kegiatan ini berlangsung di area Patung Ibu-Anak, Jalan Walanda Maramis, Komo Luar, Kota Manado, belum lama ini.
Aspirasi tersebut disalurkan melalui berbagai bentuk kreativitas, seperti musikalisasi, orasi, puisi, makeup, menggambar, dan masih banyak lagi.
Salah satu peserta, Apri Yanti, yang mewakili Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), menyampaikan aspirasinya melalui sebuah puisi.
Saat diwawancarai oleh Barta1.com pada Jumat (12/09/2025), Apri mengungkapkan bahwa hingga saat ini ia belum mendapatkan keadilan.
“Sampai hari ini saya tidak mendapatkan keadilan dengan keadaan saya seperti ini, mengingat saya adalah korban tabrak lari,” ujar Apri.
Berikut adalah puisi yang dibawakan oleh Apri dalam panggung tersebut:
Keadilan yang Tak Juga Datang
Aku sudah menunggu di ujung jalan,
membawa luka yang kian berkarat,
membawa doa yang habis digerus waktu,
namun keadilan tak juga menatap mataku.
Suara jeritku pecah di antara tembok dingin,
menggema,
lalu dipaksa diam oleh kuasa.
Air mata bukan lagi hujan,
hanya jadi genangan yang dilompati kaki-kaki congkak.
Katanya, hukum adalah timbangan,
tapi jarumnya condong pada emas dan kuasa.
Katanya, negara melindungi, tapi yang melindungi ku hanyalah sepi.
Betapa sakit hati ini,
menyimpan dendam pada janji yang dipatahkan.
Betapa perih dada ini,
menunggu pintu kebenaran yang tak pernah diketuk.
Jika keadilan hanyalah mimpi,
biarlah aku tertidur dengan luka terbuka.
Jika keadilan hanyalah milik mereka yang berkuasa,
biarlah suaraku jadi hantu yang terus menghantui istana mereka. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post