Manado, Barta1— Suasana damai sebuah retreat rohani di kawasan Cidahu, Sukabumi, baru-baru mendadak berubah menjadi mencekam. Sebuah vila tempat kegiatan ibadah umat Kristen dirusak, dan kegiatan pun dihentikan secara paksa. Insiden intoleransi ini kembali mengguncang rasa kebersamaan antarumat beragama di Indonesia.
Menanggapi kejadian tersebut, Pdt. Dr. Ferdinand Watti, STh, MPdK, angkat suara. Dengan nada penuh keprihatinan, Ketua Umum Badan Kerja Sama Gereja dan Lembaga Kristen Indonesia (BKSG-LK Indonesia) ini mengimbau umat Kristen di seluruh penjuru Tanah Air agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh provokasi.
*”Sebagai umat Kristen, kita tidak boleh terpancing emosi. Justru dalam momen seperti inilah kita harus menunjukkan kekuatan iman dengan mendoakan mereka yang membenci kita,”* ujar Watti, menegaskan nilai kasih dalam ajaran Kristiani.
Tak hanya berbicara sebagai tokoh gereja, Pdt. Watti yang juga menjabat Ketua Umum Relawan KIPRA (Kita Prabowo) Indonesia, menegaskan bahwa persoalan ini telah ditangani oleh pihak berwenang. Ia menyerukan agar semua pihak memberikan kepercayaan kepada aparat penegak hukum untuk menyelesaikan kasus ini dengan adil dan tuntas.
“Serahkan pada proses hukum yang berlaku. Jangan sampai tindakan sepihak seperti ini kembali terulang di kemudian hari,” ujar dia.
Lebih jauh, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Kejayaan Nusa Antara Cerdas (KNC), Watti mengajak umat untuk mempertebal semangat toleransi dan moderasi beragama. Menurutnya, kekuatan bangsa ini terletak pada keragaman yang dirajut dalam bingkai saling pengertian.
“Kita jangan larut dalam kebencian. Justru sekarang waktunya memperkuat toleransi dan hidup berdampingan secara damai. Itulah kekuatan sejati bangsa ini,” pungkasnya. (**)
Editor: Ady Putong


Discussion about this post