Sangihe, Barta1.com — Tradisi Seke Maneke, kearifan lokal masyarakat pesisir dalam menangkap ikan secara tradisional, akan digelar di Kampung Para Lelle, Kabupaten Kepulauan Sangihe, pada 10 hingga 12 Juni 2025 mendatang. Lebih dari sekadar pertunjukan budaya, kegiatan ini dirancang untuk mendorong ekonomi warga melalui skema wisata berbasis komunitas.
Seke Maneke merupakan praktik menangkap ikan dengan cara menggiring kawanan ikan dari laut menuju pantai menggunakan alat-alat tradisional, hasil kolaborasi dan gotong royong warga. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol hubungan manusia dengan alam, tetapi juga telah lama menjadi identitas budaya masyarakat pesisir Sangihe.
Bupati Kepulauan Sangihe menekankan bahwa pelaksanaan Seke Maneke tahun ini harus membawa dampak ekonomi langsung bagi warga. “Hilangkan pola lama di mana pemerintah datang, tidur gratis, lalu pulang tanpa memberi dampak ekonomi. Sekarang semua yang ikut harus bayar. Dari makanan, penginapan, sampai aktivitas wisata seperti snorkeling dan diving,” ujarnya, Kamis (15/5/2025).
Warga bersama panitia telah bersinergi menyiapkan berbagai fasilitas pendukung: rumah warga yang disulap menjadi homestay, stand kopi, layanan makan siang, serta perahu-perahu wisata yang menawarkan paket eksplorasi pantai dan laut Pulau Para.
Karena jumlah rumah inap terbatas, panitia akan memprioritaskan peserta dari luar daerah seperti konten kreator dan utusan dari Provinsi Sulawesi Utara. “Ketika masih ada ruang, baru kita isi dengan para ASN dan berbagai unsur dari Sangihe,” tambah Bupati.
Dengan pendekatan berbasis masyarakat ini, Seke Maneke tidak hanya dilestarikan sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi pintu gerbang pariwisata berkelanjutan di wilayah perbatasan Indonesia–Filipina. Harapannya, saat tradisi selesai digelar, bukan hanya ikan yang didaratkan, tetapi juga kebahagiaan dan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post