Sangihe, Barta1.com – Bukan sekadar seremonial, peluncuran program 100 hari pemerintahan baru Sangihe di Balai Pertemuan Umum (BPU) menjadi pernyataan simbolik yang kuat. Sebuah pesan bahwa arah baru Sangihe tidak hanya dibangun dengan strategi modern, tetapi juga dengan jiwa dan semangat para pendahulu.
Peluncuran program kerja 100 hari pemerintahan baru Kabupaten Kepulauan Sangihe berlangsung dengan nuansa penuh makna pada Jumat (25/4/2025). Balai Pertemuan Umum (BPU) Sangihe, yang menjadi lokasi launching, dipilih bukan sekadar tempat seremonial—melainkan simbol kebangkitan kembali semangat kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai sejarah dan budaya lokal.
Gedung BPU yang dibangun pada era 1970-an ini bukan asing bagi masyarakat Sangihe. Dalam sambutannya, Bupati Michael Thungari menegaskan bahwa pemilihan gedung ini merupakan bentuk penghormatan terhadap jejak perjuangan para pemimpin terdahulu. “Gedung ini menyimpan banyak kenangan dan harapan dari para founding fathers kita. Semangat itulah yang ingin kami hidupkan kembali,” ujarnya di hadapan penjabat dari ebrbagai eselon yang hadir.
Thungari juga mengisyaratkan rencana jangka panjang untuk menghidupkan kembali fungsi kultural BPU. Ia menyebut tempat ini akan dikembangkan menjadi balai kesenian rakyat—ruang terbuka bagi ekspresi budaya dan seni masyarakat Sangihe. “Dengan begitu, warisan semangat para pendiri daerah ini tetap lestari,” tambahnya.
Melalui momentum ini, peluncuran program 100 hari menjadi lebih dari sekadar pernyataan administratif. Ia menjelma sebagai titik tolak kepemimpinan yang berpijak pada akar budaya, sejarah, dan partisipasi rakyat. Visi ini terangkum dalam semangat Sapta Membara, arah baru yang hendak dibawa oleh duet Thungari-Bulahari.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post