Minut, Barta1.com — Suasana halaman Kantor Kejaksaan Negeri Airmadidi tampak berbeda pada Rabu pagi, 23 April 2025. Dinding panjat buatan menjulang di tengah tenda-tenda peserta, spanduk kompetisi terbentang lebar, dan suara semangat peserta bersahut-sahutan.
Untuk pertama kalinya, Kabupaten Minahasa Utara menjadi tuan rumah North Minahasa Climbing Competition, sebuah ajang yang digagas Kejaksaan Negeri Airmadidi bekerja sama dengan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Sulawesi Utara.
Kompetisi yang digelar hingga 26 April ini diikuti puluhan atlet dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Utara. Bupati Minahasa Utara Joune Ganda secara resmi membuka kegiatan tersebut dan menyampaikan apresiasinya atas inisiatif kejaksaan yang dinilai sebagai langkah maju dalam mendorong olahraga panjat tebing di daerah.
“Sejak kami menjabat, ini pertama kalinya digelar kompetisi panjat tebing di Minahasa Utara,” ujar Bupati dalam sambutannya.
Ia menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari upaya memperluas basis olahraga prestasi di daerah, sekaligus menempatkan Minahasa Utara sebagai bagian dari peta olahraga panjat tebing nasional.
Menurutnya, panjat tebing bukan hanya olahraga ekstrem yang menantang, melainkan cabang yang secara konsisten mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.
“Kita berharap dari tanah Minahasa Utara juga bisa lahir juara-juara baru yang berkontribusi bagi daerah dan bangsa,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan fair play.
“Komitmen dari semua pihak—atlet, pelatih, juri, dan panitia—adalah kunci agar kompetisi ini berjalan dengan baik dan berkelanjutan,” kata Bupati.
Hal senada disampaikan oleh Ketua FPTI Sulawesi Utara, Richard Sualang. Dalam keterangannya, Richard menyebut bahwa North Minahasa Climbing Competition merupakan salah satu gelaran terbesar dalam sejarah panjat tebing di Minahasa Utara. Ia menyambut positif keterlibatan berbagai pihak dalam penyelenggaraan ini.
“Kami dari FPTI sangat mengapresiasi kegiatan ini. Selain menunjukkan komitmen pemerintah dan kejaksaan, ini juga bukti bahwa olahraga panjat tebing mulai mendapat tempat di hati masyarakat,” kata Richard.
Ia menambahkan bahwa meski Minahasa Utara pernah beberapa kali menjadi lokasi kompetisi serupa, kali ini penyelenggaraannya lebih besar dan lebih matang.
“Dari sisi peserta, dukungan sponsor, hingga koordinasi lintas lembaga, ini adalah salah satu yang paling lengkap. Itu sebabnya kami menyambutnya dengan antusias,” ujarnya.
Menurut Richard, kejuaraan semacam ini sangat penting untuk menjaring bibit-bibit unggul atlet panjat tebing, terutama di level daerah. Ia berharap kompetisi ini menjadi agenda rutin yang tak hanya memacu prestasi atlet, tapi juga menumbuhkan ekosistem olahraga yang sehat dan kompetitif.
“Minahasa Utara punya potensi besar. Dengan pembinaan yang berkelanjutan dan dukungan semua pihak, saya percaya atlet-atlet dari sini bisa bersinar di kejuaraan nasional hingga internasional,” katanya.
Dengan dukungan dari pemerintah, kejaksaan, FPTI, sponsor lokal, dan antusiasme masyarakat, North Minahasa Climbing Competition diharapkan menjadi titik awal tradisi baru di Minahasa Utara—tradisi yang menjadikan olahraga sebagai ruang tumbuhnya semangat juang dan prestasi anak-anak muda. (*)
Peliput:
Rolandy Dilo


Discussion about this post